Neo-Demokrasi
Ekbis Opini

Peningkatan Minat pada Pendidikan Tinggi Vokasi

Dra. Dini Widyawati, M.Si., Ak., CA
Dosen Tetap/Kaprodi Diploma 3 STIESIA

 

Saat ini lulusan sekolah menengah atas sedang sibuk untuk memilih perguruan tinggi atau memasuki jenjang kuliah, dulu pasti yang terbesit dipikiran adalah “Sarjana” atau “S1”. Dulu kuliah memang identik dengan tingkat pendidikan strata 1 dimana seorang mahasiswa harus menghabiskan waktunya selama 3,5 – 4 tahun menimba ilmu dalam bidang tertentu agar mendapatkan gelar Sarjana, padahal kuliah tidak harus pendidikan akademik, tetapi ada pilihan lain yaitu pendidikan vokasi. Kurangnya informasi tentang berbagai macam jenjang perguruan tinggi membuat pendidikan vokasi menjadi kurang dikenal masyarakat, pendidikan akademik dan pendidikan vokasi adalah dua jenis pendidikan tinggi yang berbeda, tetapi pilihan salah satu dari kedua tersebut bukan berarti lebih baik dari yang lain.

Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan tinggi di Indonesia dapat menyelenggarakan program Pendidikan akademik, Pendidikan vokasi, yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu, serta Pendidikan profesi/spesialis, yang berlangsung setelah pendidikan pendidikan sarjana dengan tujuan mempersiapkan peserta didik untuk dapat memiliki pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus. Pendidikan vokasi, ada empat tingkat studi, yaitu: Diploma 1 dengan masa studi umumnya 1 tahun, lulusannya akan mendapat gelar A.P. (Ahli Pratama). Diploma 2 dengan masa studi umumnya 2 tahun, lulusannya akan mendapat gelar A.Ma. (Ahli Muda). Diploma 3 dengan masa studi umumnya 3 tahun, lulusannya akan mendapat gelar A.Md. (Ahli Madya), dan Diploma 4 dengan masa studi umumnya 4 tahun, lulusannya akan mendapat gelar S.Ter. (Sarjana Terapan), setara dengan lulusan strata 1.

Dalam pendidikan vokasi, bisa memilih satu dari empat tingkatan yang ada, jadi bisa memilih langsung ke jenjang Diploma 4, dan bisa memilih jenjang Diploma 1 tanpa harus melanjutkan terus menerus hingga Diploma 4.
Selain itu pendidikan vokasi mempunyai kelebihan dibanding pendidikan akademik, yaitu 1) lebih praktikal, dengan tujuan mencetak tenaga kerja yang profesional dan ahli dalam bidangnya, maka pengajaran dalam pendidikan vokasi porposi muatan mata kuliah praktik lebih banyak daripada mata kuliah teori, kurikulum pendidikan vokasi memang dirancang agar lulusannya mendapat lebih banyak praktik. 2) lebih menjanjikan, dengan kurikulum yang memberikan peserta didiknya lebih banyak pengalaman kerja dan kemampuan praktikal yang telah diperoleh, secara umum dapat dikatakan bahwa lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan banyak prospek kerja, 3) lebih bervariasi, bahwa ada banyak prodi dalam jenjang diploma, ini adalah bukti bahwa jurusan dalam pendidikan vokasi bersifat lebih spesifik, dan 4) masa studi lebih singkat.

Sebelumnya memang pendidikan vokasi kurang mendapat perhatian dan menjadi pilihan kedua saat melanjutkan pendidikan. Namun secara perlahan sejak periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo, pandangan tersebut mulai berubah. Pendidikan vokasi mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat dan tidak lagi menjadi pilihan kedua. Hal itu dikarenakan mulai dilakukannya revitalisasi pendidikan vokasi. Apalagi pada periode kedua pemerintahannya Presiden bersama dengan Wakil Presiden memberi perhatian penuh pada pendidikan vokasi, hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2019 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Perubahan yang paling mendasar dalam Perpres tersebut adalah adanya Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Pendidikan Vokasi) di Kemendikbud. Keberadaan Ditjen Pendidikan Vokasi sendiri bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era Revolusi Industri 4.0, yang membutuhkan tenaga-tenaga terampil yang ahli dibidangnya.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 9 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2020 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementeian Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan Ditjen Pendidikan Vokasi terdiri dari 5 unit Eselon 2 yakni; Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi, Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri. Penyelarasan pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) menjadi isu strategis, dikarenakan saat ini apa yang diajarkan di lembaga pendidikan belum selaras dengan kebutuhan industri. Hal itu menyebabkan banyak lulusan pendidikan vokasi yang tidak terserap dunia industri yang berdampak pada meningkatnya angka pengangguran.

Dunia pendidikan terus mengalami evolusi seiring dengan tuntutan perkembangan zaman. Saat ini, pendidikan di Indonesia telah diarahkan untuk mampu mencetak lulusan yang berkualitas. Sekolah menengah kejuruan (SMK) dan pendidikan tinggi vokasi menjadi pilihan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan. Saat ini minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi semakin tinggi. Hal tersebut terungkap dari riset bertajuk “Survei Ketertarikan Masyarakat terhadap Pendidikan Vokasi” yang diselenggarakan Kemendikbud bekerja sama dengan MarkPlus, Inc.

Hasil survei menunjukkan, sebanyak 82,05 persen responden tertarik melanjutkan pendidikan ke SMK dan 78,6 persen responden tertarik melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi vokasi. Faktor ketertarikan terbesar terhadap SMK dipengaruhi oleh prospek kerja yang dinilai bagus (57,8 persen) dan pilihan jurusan yang banyak (51,95 persen). Sementara itu, faktor ketertarikan terbesar terhadap pendidikan tinggi vokasi dipengaruhi oleh prospek kerja yang bagus (68,7 persen), studi yang singkat (46,1 persen), dan dinilai dapat langsung bekerja setelah lulus (41,7 persen).

Hasil survei tersebut dikemukakan dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud pada Jumat (9/4/2021). Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan, hasil survei terkait animo masyarakat terhadap pendidikan vokasi merupakan fenomena yang menyenangkan, tetapi, ini harus dituntaskan terus dengan program link and match. Artinya, ini harapan kita untuk mendapatkan peserta didik pendidikan vokasi yang lebih passionate dari sebelumnya,” kata Wikan. Ia menuturkan, hasil survei tersebut menjadi motivasi bagi Kemendikbud, khususnya Ditjen Pendidikan Vokasi dan seluruh pemangku kepentingan, untuk terus memajukan pendidikan vokasi di Indonesia.

Survei ini diharapkan dapat menjadi salah satu pacuan bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi vokasi untuk terus meningkatkan awareness dan mengkomunikasi kualitas dan reputasi dari vokasi. Dunia pendidikan harus melakukan banyak kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) sedangkan DUDI juga harus mendukung baik dalam hal memberikan masukan dalam penyusunan kurikulum, sebagai tempat magang/praktik kerja, kesempatan untuk diterima sebagai tenaga kerja, dan bentuk kerjasama lainnya. Apabila kualitas dan reputasi vokasi bisa tercapai link and match, dan dikomunikasikan pada masyarakat, maka diharapkan semoga dapat meningkatkan ketertarikan/minat masyarakat pada pendidikan tinggi vokasi.

Related posts

Bersinergi Wujudkan Efisiensi Biaya Logistik

neodemokrasi

Toyota New Yaris akan Mampu Dongkrak Penjualan

neodemokrasi

KKP Ajak Investor Buka Tambak Udang di Pasuruan

Rizki