
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pemkot Surabaya menggelar Pasar Murah Serentak dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 31 kecamatan, Rabu (12/8). Kegiatan yang salah satunya berlangsung di wilayah Penjaringansari itu menghadirkan sejumlah kebutuhan pangan dengan harga terjangkau sekaligus melibatkan UMKM dan kelompok tani setempat.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan tingginya antusiasme warga menunjukkan kegiatan tersebut mendapat respons positif.
Menurutnya, komoditas yang ditawarkan memiliki harga lebih rendah dibandingkan pasaran, sementara bahan pokok seperti beras dan minyak dijual dengan mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET). “Antusiasme masyarakat dalam kegiatan ini cukup tinggi karena komoditas yang dijual memang harganya di bawah harga pasar,” kata Vykka.
Tak hanya bahan pokok, kegiatan tersebut juga menghadirkan komoditas hasil produksi kelompok tani dan pelaku UMKM. Salah satunya ikan lele yang dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram melalui kelompok tani, lebih rendah dibandingkan harga di pasaran yang berada di kisaran Rp26 ribu-Rp27 ribu per kilogram.
Vykka menyebut selisih harga tersebut cukup berarti bagi masyarakat, khususnya warga dengan keterbatasan daya beli. Bahkan, kegiatan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dimanfaatkan pelaku usaha kuliner untuk mendapatkan bahan baku. “Bukan hanya warga yang membeli. Ada juga penjual penyetan yang ikut membeli, sehingga kegiatan seperti ini cukup membantu,” ujarnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Nanik Sukristina mengatakan GPM kali ini dikolaborasikan dengan pasar murah yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag). Seluruh kegiatan berlangsung serentak di 31 kecamatan.
Nanik menjelaskan, bahan pangan tersebut disediakan melalui kolaborasi dengan Bulog dan sejumlah distributor. Harga yang ditawarkan dibuat lebih terjangkau dibandingkan harga pasar. Minyakita, misalnya, dijual sekitar Rp15.500 per liter, sedangkan SPHP sekitar Rp58 ribu.
Kepala Dinkopumdag Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan pasar murah tidak hanya digelar untuk mendekatkan akses pangan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu langkah Pemkot Surabaya dalam menekan inflasi.
Menurut Mia, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin setiap bulan hingga Desember 2026. Pada pelaksanaannya, satu kecamatan menjadi titik GPM, sedangkan 30 kecamatan lainnya menggelar pasar murah secara serentak.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Surabaya Arrief Chandra Setiawan menilai kegiatan pasar murah dapat membantu menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pangan masyarakat. Menurutnya, ketersediaan pangan di Surabaya saat ini masih aman.
Bagi warga Penjaringan Sari, Rungkut, program tersebut memberikan manfaat langsung. Retno mengaku membeli sejumlah kebutuhan, mulai dari ayam, telur, beras, sosis hingga minyak. Ia menilai harga yang ditawarkan cukup membantu, terutama untuk memenuhi kebutuhan.(dan)
