Neo-Demokrasi
Headline Opini

Menjaga Akar, Menuju Masa Depan: Jejak Santri dari Resolusi Jihad hingga Transformasi Digital

Dari Resolusi Jihad tahun 1945 hingga era transformasi digital hari ini, semangat santri tidak pernah putus. Hanya bentuk perjuangannya yang berubah. Di Surabaya, forum Santri Next mengingatkan kita satu hal penting: menjaga akar sejarah bukan berarti menolak kemajuan. Justru dengan berdiri kokoh di atas nilai-nilai leluhur, santri akan semakin siap menatap masa depan tanpa kehilangan jati diri.

Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Jawa Timur menggelar Focus Group Discussion bertajuk Santri Next di Hotel Mercure Surabaya, Sabtu (10/10) lalu. Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 ini mengusung tema besar: Gerbang Baru Nusantara: Dari Pesantren Menjadi Game Changer Transformasi Jawa Timur.

Hadir dalam acara tersebut Plh. Ketua PWNU Jatim KH. Muhammad Balya Firjaun Barlaman, Kepala BPKAD Jatim Mohammad Yasin, Direktur Jenderal Pesantren Kemenag H. Basnang Said, Kapus Strategi Kebijakan Pembangunan Kemenag Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, serta novelis Ning Khilma Anis.

Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof. Dr. HM Afif Hasbullah, SH., M.Hum., membuka diskusi ini dengan menengok ke masa lalu. Surabaya bukan sekadar kota tempat berdirinya gedung-gedung tinggi. Kota ini adalah tempat lahirnya Nahdlatul Ulama, dan di sinilah pada 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad dicanangkan. Saat itu, para ulama dan santri berdiri di garis terdepan mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Nyawa mereka adalah taruhannya.

Semangat itu, kata Afif, tidak boleh hanya menjadi cerita yang dibaca di buku pelajaran. Semangat itu harus hidup di dada setiap santri hari ini. Bedanya, medan perjuangannya kini telah berubah. Jika dahulu yang dipertahankan adalah kemerdekaan fisik, kini yang dibangun adalah peradaban: di ruang teknologi, ruang digital, ruang pendidikan, ruang ekonomi, dan ruang pemikiran.

“Jika dahulu santri berperan dalam perjuangan kemerdekaan, kini santri harus mampu mengambil bagian dalam perkembangan teknologi, transformasi digital, pendidikan, ekonomi, serta pembangunan pusat-pusat peradaban intelektual,” ujar Afif dengan tegas.

Di tengah forum, Afif mengingatkan kita pada pandangan besar Ibnu Khaldun tentang pergantian generasi. Ada tiga fase yang selalu berulang dalam sejarah peradaban:

– Generasi Pendobrak: mereka yang berjuang membuka jalan, meletakkan fondasi, dan berkorban agar bangunan bisa berdiri.

– Generasi Pembangun: mereka yang memperkuat fondasi, menambah lantai, dan menyempurnakan bangunan agar bermanfaat.

– Generasi Penikmat: mereka yang lahir saat segala sesuatu sudah nyaman, lalu lupa bertanya dengan pengorbanan apa kenyamanan itu ada.

Ini adalah peringatan yang sangat dalam. Kemajuan zaman yang semakin mudah, semakin praktis, dan semakin nyaman, kadang membuat kita lupa bersyukur dan lupa berkontribusi. Kita menikmati jalan yang tidak kita bangun, menikmati ketenangan yang tidak kita perjuangkan. Jika ini terus berlanjut, maka peradaban itu perlahan akan runtuh. Bukan karena musuh dari luar, tetapi karena kelalaian dari dalam.

“Jangan sampai kita tercerabut dari akar bagaimana fondasi negara ini didirikan, kemudian Jam’iyah Nahdlatul Ulama ini didirikan dan bagaimana pemeranan para santri ini sebagaimana digagas dan diharapkan oleh Hadratus Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah serta seluruh pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” pesan Afif menegaskan.

Afif menegaskan bahwa kekuatan yang dimiliki dunia pesantren dan warga NU sungguh luar biasa. Diaspora warga NU tersebar di berbagai negara dan pusat peradaban intelektual dunia. Ribuan pesantren berdiri dari ujung barat hingga timur negeri. Jutaan lulusan lahir setiap tahun. Namun kekuatan besar ini belum sepenuhnya bersinergi dengan pembangunan nasional. Sering kali pesantren dianggap terpisah dari arus utama pembangunan.

Padahal, visi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Ia membutuhkan manusia-manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter kuat. Di sinilah pesantren memiliki peran yang tak tergantikan.

Afif mengajak semua pihak untuk bersinergi: pemerintah daerah, pemerintah pusat, dunia pendidikan, pengusaha, tokoh masyarakat, dan pesantren. Hasil diskusi ini diharapkan tidak berhenti di ruang rapat, tetapi lahir menjadi gagasan konkret yang bisa ditindaklanjuti.

“Semoga forum ini tidak berhenti sebagai ruang bertukar gagasan, tetapi menghasilkan pemikiran yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat peran santri dalam memimpin perubahan dan membangun peradaban,” pungkas Afif.

Ibnu Khaldun mengingatkan: peradaban tegak di atas nilai, dan runtuh ketika nilai itu dilupakan oleh generasi penerus. Hadratussyekh mewariskan Nahdlatul Ulama sebagai benteng agama dan bangsa. Tugas kita hari ini sederhana namun berat: rawat warisan itu, hidupkan nilainya, dan kembangkan sesuai tantangan zaman. Jadilah generasi pendobrak ketertinggalan dan pembangun peradaban baru, bukan generasi penikmat yang lupa dari mana ia berasal. Di tangan para santri masa depan, Indonesia akan tetap berdiri tegak — berakar kuat di masa lalu, melangkah percaya diri ke masa depan.Wallahu A’lam Bisshawab.(*)

Oleh: Imam Kusnin Ahmad SH, jurnalis senior Jawa Timur.

Related posts

Pedagang Asongan Juga Dirazia Rokok Ilegal

Rizki

Gara-gara Utang, Kohar Ditusuk Pelaku

Rizki

Pramuka Jatim Kembangkan Benih Jagung KIP

Rizki