
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – SDN Semolowaru IV Kota Surabaya menghadapi keterbatasan ruang kelas dan sarana belajar. Dari total 12 rombongan belajar (rombel), sekolah tersebut hanya memiliki delapan ruang kelas. Akibatnya, empat rombel harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari. Sementara itu, sebagian siswa terpaksa belajar di perpustakaan dengan duduk lesehan karena tidak tersedia bangku.
Kondisi tersebut diketahui Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat meninjau SDN Semolowaru IV pada Rabu (7/10) lalu. Peninjauan dilakukan setelah ia menerima laporan warga melalui hotline mengenai siswa yang terpaksa belajar di luar ruang kelas akibat keterbatasan fasilitas.
“Saya datang ke SDN Semolowaru IV untuk mengecek langsung terkait bangku dan fasilitas sekolah. Ternyata, di sini terdapat 12 rombongan belajar, tetapi ruang kelas yang tersedia hanya delapan. Akibatnya, ada empat rombel yang harus masuk siang,” ujar Eri, Minggu (11/10).
Selain keterbatasan ruang kelas, Eri mendapati perpustakaan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar tidak dilengkapi bangku. Kondisi bangku dan kursi siswa yang sebagian masih terbuat dari kayu dan berlubang juga menjadi perhatian.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Eri meminta Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mengevaluasi kebutuhan sarana dan prasarana (sarpras) di sekolah negeri. Ia juga menekankan pentingnya memprioritaskan anggaran untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, seperti ruang kelas dan kamar mandi.
“Saya minta maaf karena masih ada gedung pendidikan negeri di Surabaya yang kondisinya seperti ini, padahal berada di bawah naungan Pemkot Surabaya. Fasilitas ini akan berpengaruh terhadap prestasi anak-anak. Ini anak-anak Surabaya, prestasinya harus bagus,” tuturnya.
Wali kota pun menargetkan pembenahan seluruh SD dan SMP negeri di Surabaya pada 2027. Perbaikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarpras sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih nyaman.
Sementara itu, Kepala SDN Semolowaru IV Surabaya Novita Aprilianti mengatakan, pihak sekolah telah berupaya mengoptimalkan fasilitas yang tersedia, termasuk melalui pengaturan jadwal pembelajaran. Namun, keterbatasan sarpras membuat sekolah belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan siswa.(dan)
