Neo-Demokrasi
Headline Jatim Kesra

Dinkes Jatim Siapkan Strategi Hadapi Penyakit Zoonosis

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Erwin Astha Triyono.

Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim tengah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi ancaman penyakit zoonosis serta penyakit infeksi baru (emerging dan re-emerging diseases).

Kepala Dinas Kesehatan Jatim Erwin Astha Triyono menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap penyakit yang ditularkan dari hewan maupun lingkungan.

“Sekitar 60-70 persen penyakit menular yang kembali muncul berasal dari hewan. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar respon bisa lebih cepat dan efektif,” kata Erwin dalam rapat persiapan pembentukan Tim Koordinasi Daerah (Tikorda), Selasa (16/9).

Sejumlah langkah strategis tengah disiapkan. Mulai dari penguatan sistem ketahanan kesehatan, surveilans lintas sektor, penerapan pendekatan One Health, hingga pengawasan imigrasi. Pemenuhan tenaga kesehatan, peningkatan kapasitas laboratorium untuk deteksi dini, serta dorongan terhadap kemandirian riset vaksin dan obat juga menjadi prioritas.

Dengan demikian, Jawa Timur diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada impor ketika menghadapi ancaman wabah.

Erwin mencontohkan, penyakit yang sempat hilang bisa kembali jika masyarakat lengah. Rabies, flu burung, hingga leptospirosis menjadi contoh nyata. “Surveilans berbasis masyarakat sangat penting. Laporan dini dari masyarakat adalah pintu awal pencegahan,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Analis Kebijakan Ahli Madya dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Rama P.S. Fauzi menekankan urgensi pembentukan Tikorda Zoonosis dan penyakit infeksius baru di daerah. Menurutnya, ada enam alasan utama mengapa Jawa Timur perlu segera membentuk Tikorda.

Pertama, Indonesia telah mendorong pendekatan One Health di forum global, sehingga penting memastikan keterpaduan penanganan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan di tingkat daerah. Kedua, regulasi yang ada mengamanatkan agar penanganan penyakit zoonosis dilakukan secara holistik dan cepat.

Ketiga, Jawa Timur menghadapi bahaya nyata dari leptospirosis, flu burung, pes, antraks, serta kerentanan wilayah yang berbatasan dengan daerah endemik rabies. Keempat, potensi multihazard semakin besar akibat kompleksitas bencana alam dan resistansi antimikroba.

Dan kelima, kekuatan aksi komunitas menjadi modal penting. Karakter budaya dan keagamaan masyarakat Jatim dapat memperkuat peran surveilans berbasis masyarakat. Terakhir, Jawa Timur memiliki potensi besar dalam menjalin kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset terbaik yang ada di daerah ini.

Dengan strategi yang disiapkan Pemprov Jatim serta dukungan pembentukan Tikorda oleh pemerintah pusat, penanganan penyakit zoonosis dan infeksi baru di Jawa Timur diharapkan lebih terintegrasi. Tujuan akhirnya bukan hanya melindungi masyarakat, tetapi juga menyiapkan generasi emas 2045 yang sehat dan tangguh.(dan)

 

Related posts

Jatim Peringkat Pertama Nasional Indeks Keamanan Pangan Segar

Rizki

Dua Pemuda Jadi Korban Curas di Porong, Dua Motor Dirampas

Rizki

Tahun Depan Betonisasi Jalan di Sidoarjo Dilanjutkan

Rizki