
Lamongan, NEODEMOKRASI.COM – Para peternak di Desa Slaharwotan, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan mendapatkan pelatihan intensif tentang teknologi silase dan fermentasi. Pelatihan dan penyuluhan ini dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) pada Sabtu (25/1), melalui Program Pengabdian Masyarakat.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga praktik langsung. Sehingga peternak dapat menguasai keterampilan pembuatan pakan berkualitas tinggi.
Tim pelaksana kegiatan diketuai oleh Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes. dengan anggota Prof. M. Anam Al’Arief, drh., M.P., Prof. Dr. Widya Paramita L., drh., M.P., Prof. Dr. Sri Hidanah, Ir., MP., Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., M.P., Prof. Dr. Lilik Maslachah, drh., M.Kes., Lita Rahma Yustinasari, drh., M. Si., Ph.D., Dr. Rochmah Kurnijasanti, drh., M.Si., Dr. Tjuk Imam Restiadi, drh., M.Si., Dr. Kadek Rachmawati, drh., M.Si, dan mahasiswa KKN BBK 5.Sedangkan sebagai pembicara adalah Prof. M. Anam Al’Arief, drh., M.P. yang menyampaikan materi tentang silase, dan Prof. Dr. Widya Paramita L., drh., M.P memberikan materi tentang pakan fermentasi.

“Desa Slaharwotan menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan sapi potong. Dengan populasi sapi potong mencapai 800 ekor, desa ini memanfaatkan sinergi antara sektor pertanian dan peternakan untuk meningkatkan produktivitas ternak melalui teknologi pengolahan pakan, yaitu silase dan fermentasi,” ungkap KetuaTim Pelaksana Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes.
Menurutnya, ketersediaan hijauan segar di Desa Slaharwotan sering kali menghadapi kendala, terutama pada musim kering. Peternak sering kesulitan menyediakan pakan bernutrisi tinggi untuk ternak mereka, sehingga berdampak pada penurunan produktivitas sapi potong.
Untuk menjawab tantangan ini, pengolahan limbah pertanian, seperti tebon jagung dan dedak padi, menjadi solusi inovatif untuk menjamin keberlanjutan ketersediaan pakan. Silase adalah teknologi pengawetan hijauan pakan dengan memanfaatkan fermentasi anaerob untuk menjaga nilai nutrisi dan memperpanjang masa simpan pakan.
Bahan-bahan seperti tebon jagung, rumput Pakcong, dedak padi, dan molases diolah menjadi silase yang kaya nutrisi. Proses ini melibatkan bakteri asam laktat yang bekerja untuk menghasilkan produk pakan dengan aroma segar dan warna hijau kecoklatan, sebagai indikator kualitas baik. Selain itu, teknologi fermentasi juga digunakan untuk mengolah limbah pertanian yang selama ini kurang dimanfaatkan.
Penambahan Fermentor BioMC4 yang mengandung bakteri selulolitik, membantu meningkatkan kecernaan serat kasar pada pakan fermentasi. Dengan cara ini, nutrisi dalam pakan dapat meningkat, sehingga menunjang pertumbuhan ternak lebih optimal.
Hasil kegiatan ini memberikan dampak positif yang signifikan. Peternak dapat menyimpan hijauan dalam jangka waktu lama tanpa kehilangan nilai gizi. Selain itu, penggunaan pakan fermentasi berbasis bahan lokal membantu mengurangi biaya pakan, sekaligus meningkatkan produktivitas ternak.
Dengan demikian, peternak mampu menghadapi tantangan musim kering dan menjaga ketahanan pakan ternak sepanjang tahun. Keberhasilan program ini di Desa Slaharwotan menjadi model pengembangan teknologi pakan di wilayah pedesaan.
Kepala Desa Slaharwotan Tri Agus Susanto SH dan Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan drh Rahendra berharap pendampingan berkelanjutan dapat membantu peternak meningkatkan kesejahteraan peternak. “Selain itu, sinergi antara teknologi dan sumber daya lokal juga menjadi langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal maupun nasional,” kata drh Rahendra.
Dengan adanya teknologi silase dan fermentasi, Desa Slaharwotan berhasil membuktikan bahwa inovasi di sektor peternakan dapat memberikan solusi konkret terhadap masalah ketahanan pakan ternak. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa potensi lokal dapat dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat pedesaan secara berkelanjutan.(dan)
