Neo-Demokrasi
Ekbis Lifestyle Opini

Peran Budaya dan Gaya Hidup dalam Mendongkrak Bisnis Komoditas Kopi di Indonesia

Rika Rahayu SM, MBA (Dosen Tetap STIESIA Surabaya)

Pengaruh budaya mulai dilibatkan dalam perkembangannya dan apa saja pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat saat ini. Salah satu hal yang penting dalam bidang ekonomi dan mampu memberikan pengaruhnya dalam bisnis adalah kinerja perusahaan dalam social-culture environment. Indonesia memang bukan merupakan Negara yang maju melainkan sebuah Negara yang memiliki kemauan untuk berkembang dengan segala kekayaan hayati yang dimiliki. Budaya adalah sistem pengetahuan dan ide-ide (pengetahuan budaya), yang secara sadar atau tidak menjadi milik unit masyarakat dan diperoleh dengan cara akumulatif, yang berfungsi sebagai direktif dan bimbingan sikap dan perilaku masyarakat yang menyandang sistem ini (Goodenough,1971, Spradley, 1972 and Geertz,1973). Kemudian ilmuwan Kluckhohn dan Strodbeck (1961) dalam Suryo (2014) menyatakan terdapat lima kategori orientasi nilai-nilai budaya dari masyarakat, yaitu :

  1. Human nature orientation, orientasi terhadap hubungan antara manusia dan kehidupan.
  2. Man-nature orientation, orientasi terhadap hubungan antara manusia dan lingkungan.
  3. The orientation in time, orientasi terhadap masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang.
  4. The orientation toward activity, orientasi antara manusia dan pekerjaannya.
  5. Relational orientation, orientasi terhadap manusia dan hubungan lainnya.

Sejarah Perkembangan Tanaman Kopi

Salah satu kekayaan alam yang hingga saat ini menjadi andalan Indonesia adalah teh, kopi, tembakau, rempah-rempah dan lain-lain. Seperti kopi misalnya, tanaman kopi bukan merupakan tanaman asli Indonesia, melainkan jenis tanaman yang berasal dari benua Afrika. Tanaman kopi mulai dibawa ke pulau Jawa pada tahun 1696 dari jenis Arabika yang masuk melalui Batavia (sekarang Jakarta) yang dibawa oleh Komandan Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar-India, yang kemudian ditanam dan dikembangkan ditempat yang sekarang dikenal dengan pondok kopi- Jakarta Timur dengan menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya kemudian tanaman ini mati oleh banjir, maka pada tahun 1699 didatangkan kembali bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di Jakarta dan Jawa Barat dan akhirnya menyebar ke berbagai bagian dikepulauan Indonesia seperti; Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor Leste.

Kopi pun kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda  diperkenalkan dan ditanam Raja Louis XIV. Hindia Belanda saat ini menjadi perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC memonopoli perdagangan kopi dari tahun 1725-1780. Kopi jawa pada saat itu sangat terkenal di Eropa sehingga banyak orang-orang di Eropa menyebutnya dengan “Secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke 19 kopi di Jawa menjadi kopi terbaik di Dunia. Produk kopi dijawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai 79.600 ton dan puncaknya pada tahun 1880-1884 mencapai 94.400 ton.

Saat ini Indonesia merupakan produsen kopi keempat terbesar di dunia. Dan yang paling menguntungkan adalah perkembangan budidaya kopi yang dibawa saat pemerintahan Hindia-Belanda dengan diliputi kesengsaraan bangsa kita dulu, saat ini telah menuai hasilnya. Biji kopi terbaik saat ini dihasilnya di pulau Sumatera seperti kopi mandailing dan angkola (jenis Arabika). Karena di pulau Jawa yang dulu kaya akan tanaman kopi sekarang sudah mulai menipis karena perkembangan jaman yang menjadikan pulau Jawa sebagai kawasan Industri secara mayoritas.

Hubungan Antara Budaya, Organisasi dan Bisnis

Seperti pengertian budaya diatas, bahwa budaya merupakan ilmu pengetahuan atau ide-ide yang disengaja atau tidak disengaja dan berkaitan dengan orang-orang disekitarnya. Sedangkan organisasi adalah kumpulan dari beberapa orang atau lebih yang berada dalam suatu ruang lingkup yang sama dan memliki tujuan yang sama, dimana untuk berinteraksi satu sama lain dikelilingi dengan atmosfir budaya dari organisasi tersebut.

Memang benar budaya merupakan suatu ilmu diluar ilmu ekonomi, tetapi pengaruhnya dalam dunia bisnis sangatlah kental. Tanpa adanya budaya sebagai basic pembelajaran akan pola hidup amnesia, maka kita tidak akan mengetahui bagaimana pola itu dibentuk dan dipergunakan untuk menganalisis perkembangan ekonomi di suatu Negara.

Perubahan Gaya Hidup Masyarakat sebagai Penikmat Kopi

Gaya hidup bertumpu pada penelaah transformasi budaya konsumtif dan identitas cultural. Ketika kopi difokuskan pada dimensi gaya hidup masyarakat , maka perubahan pola perilaku konsumsi akan kopi dan identitas cultural para peminum kopi berkembang dengan pesat. Berkaitan dengan hal tersebut masalah lain yang mengiringi adalah persoalan disposisi kelas sosial dan selera. Kehadiran espresso, single origin, dan peranti penyeduh kopi manual, dari segi pola perilaku konsumsi bisa dilihat perbedaannya sebelum hal tersebut hadir. Dulu, mayoritas produksi kopi hanya konsen pada penjualan dan mengkonsumsi kopi secara umum hanya sekedar pendamping aktifitas ngobrol atau bersantai.

Dari segi demografis sebagian besar penikmat kopi perlu di disposisikan dari kelas menengah kebawah perlu adanya perubahan yang merata untuk memanjakan masyarakat kelas menengah keatas dengan munculnya hotel dan café penyedia espresso based drink serta produsen kopi yang bertaraf internasional seperti Illy dan Segafredo, sehingga terjadi pergeseran gaya hidup. Contonya seperti starbucks dan exelco pada tahun 2002 dan sekarang masih banyak lagi cafe yang menawarkan hal sama di Indonesia. Melalui espresso lah identitas cultural, disposisi kelas social dan selera menemukan bentuk barunya, baik itu terefleksi dalam identitas keiindonesiaan, kemoderenan, citra mewah, kebaratan, keitaliaan dan lain-lain.

Transformasi gaya hidup untuk menikmati kopi mulai berkembang lagi begitu mendengar kata French press dan Vietnam drip dipopulerkan. Transformasi kali ini tidaak hanya terjadi ditingkat end user atau bahkan di kedai kopi. Dengan kemudahan mengakses alat kopi nonespresso dan juga alat pembuat espresso manual seperti presso, kedai kopi skala besar maupun kecil mulai bermunculan. Para penikmat kopi bisa membuat kopi ala selera mereka sendiri dan terkadang tak jauh beda dengan kopi si café-café besar.

  1. Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Perkembangan Bisnis Kopi di Indonesia

Gaya hidup untuk komoditi kopi menjadi faktor utama dalam perkembangan bisnis kopi. Seperti halnya perbincangan mengenai single origin yang dulu belum sempat disinggung oleh orang dari maan kopi itu berasal, hanya bersumber jenis kopi antara arabika maupun robusta. Mulai saat ini single origin dikalangan penikmat kopi ikut memoleh perkembangan gaya hidup. Orang lebih spesifik dalam memesan atau membutuhkan kopi. Misalnya memesan atau mencari kopi di daerah-daerah tertentu seperti Gayu, mandailing, lampung, jambi, toraja dan jawa. Konsep single origin, kedai kecil tanpa alat espresso telah menemukan disposisinya untuk mulai mengenalkan produknya. Belakangan ini kedai kopi mulai berani menyodorkan minuman kopi single origin dan specialty coffe. Grinder mulai dimiliki sehingga membuat segelas kopi memliki value, misalnya menggiling biji kopi ketika mau menyeduh kopi.

Negara Penghasil Komoditi Kopi Terbesar di Dunia

Perlu diketahui bahwa Indonesia merupakan produsen dan pengekspor kopi terbesar keempat dunia setelah Negara brazil, Vietnam dan kolombia untuk komoditi ini. Banyak barang impor yang sering kita banggakan adalah ekspor dari Negara kita sendiri. Dari data diatas menujukkan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan Negara di dunia dalam produksi kopi. Dari total produksi, sekitar 67 % kopi di ekspor sedangkan sisanya 33% untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Strata industri kopi dalam negeri juga sangat beragam, dimulai dari unit usaha berskala home industry hingga berskala multinasional. Produknya mampu memenuhi pasar dalam negeri dan luar negeri. Hal ini juga di dukung karena kondisi alam untuk perkebunan kopi di Indonesia sangat kondusif.

Provinsi Penghasil Komoditi Kopi di Indonesia

Sebagian besar produsen kopi terbesar berada di pulau Sumatra yang hampir tiap daerah mampu menghasilkan cita rasa yang berbeda di setiap wilayahnya. Sumatra adalah suwarnadwipa, pulau emas dengan selaksana pesona yang memikat panca indera dengan bentang alamnya yang indah, warisan tradisi dan budaya atau racikan rempah-rempah dalam kulinernya adalah magnet. Selain pesona alam yang terkandung di dalamnya, kopi sumatra adalah salah satu daya tarik yang harumnya menyusup hingga ke mancanegara. Sumatera selatan hampir 22% merupakan produsen kopi terbesar di Indonesia. Selain itu kedua dan ketiga terbesar lainnya juga berada di pulau yang memiliki pesona alam nan indah ini. Hampir 50% lebih dikuasai oleh pulau sumatera karena pulau Jawa saat ini menjadi pusat industri yang sebagian besar perkebunannya telah disulap menjadi bangunan bangunan menjulang tinggi seperti (perkantoran, kawasan industri, mall, hotel dll).

Related posts

Bisnis Travel Tetap Loyo hingga Akhir Tahun

neodemokrasi

Toyota New Yaris akan Mampu Dongkrak Penjualan

neodemokrasi

Laba SIG Naik 29 Persen di Semester I 2021

Rizki