Neo-Demokrasi
Ekbis Jatim Opini

Pembelajaran Daring yang tidak Sekadar tentang Nilai Bagus Semata

Lydia Setyawardani, SE, M.Si Ak, CA , Dosen Tetao STIESIA Surabaya

Permasalahan yang muncul sejak wabah Covid-19 benar-benar mempengaruhi segala aspek kehidupan, tak terkecuali dunia pendidikan dengan adanya instruksi untuk melaksanakan program pembelajaran di rumah berbasis daring yang kemudian menjadikan ketergantungan terhadap keberadaan internet. Bisa dikatakan keberadaan internet saat ini sangat mempermudah masyarakat untuk memperoleh informasi. Kita hanya perlu mengetikkan hal-hal yang kita ingin ketahui dan semua jawaban yang diinginkan langsung tersedia. Tentu semua ini tak bisa kita dapatkan dari sebuah buku cetakan. Jadi tidak heran mengapa saat ini banyak buku-buku digital seperti ebook mulai diciptakan.

Kegiatan pembelajaran seperti ini bagi murid/mahasiswa, harus diiringi dengan meningkatkan efektivitas dalam penggunaan layanan internet. Adapun mereka secara mandiri harus aktif melakukan update informasi mengenai di media mana mata kuliah mereka akan melaksanakan pembelajaran secara daring, pemberian tugas, dan juga bagaimana penyajian materinya. Teknis pembelajaran ini menyesuaikan dengan kebijakan guru/dosen masing-masing pelajaran atau mata kuliah. Platform yang dapat dimanfaatkan antara lain google classroom, telepon, zoom, googlemeet, maupun whatsapp group. Keluhan yang acapkali muncul berkaitan dengan jaringan internet, rumitnya aplikasi, server daring yang down dan segala bentuk ketidaksiapan lainnya.

Pembelajaran daring bukan hanya sekedar menyampaikan materi, memberi tugas, memeriksa, menyampaikan nilai. Juga harus tetap menanamkan semangat membaca baik dari internet dengan ebook maupun dari buku. Buku merupakan hal yang mulai sering dilupakan sebagai sumber informasi pula selain internet. Membaca dari buku pun sedikit banyak juga memberi manfaat selain bagi kesehatan mata, tidak diganggu oleh munculnya notifikasi masuknya pesan dan iklan seperti apabila membaca via ebook, selain itu membaca via ebook justru menurunkan pemahaman terhadap bahan bacaan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa murid/mahasiswa yang membaca ebook memiliki pemahaman yang lebih rendah dibandingkan mereka yang membaca buku dalam bentuk fisik. Banyak pembaca yang melompati teks ketika membaca ebook. Hal ini menyebabkan pemahaman menjadi tidak utuh dan melompat-lompat. Sedangkan mereka yang membaca buku dalam bentuk fisik memiliki konsentrasi dan daya ingat yang semakin meningkat, dan tentu saja akan lebih meringankan beban kuota internet yang selama ini banyak dikeluhkan baik oleh mahasiswa maupun orang tua.

Apapun itu, sejatinya fokus pembelajaran saat ini bukan lagi tentang apa yang dipelajari tetapi bagaimana cara seseorang belajar, dengan memanfaatkan berbagai macam alat teknologi. Pembelajaran daring hendaknya memfasilitasi pengalaman belajar yang efektif yang membutuhkan interaktivitas, komunikasi, dan komunitas belajar yang tujuannya bukan hanya sekedar mendapat nilai bagus, tapi juga membangun karakter dan pembiasaan baru menghadapi masa depan.

Pembelajaran secara daring, jika kita melihat lebih jauh, memiliki kompleksitas yang lebih rumit daripada pembelajaran luring. Misalnya, penentuan capaian pembelajaran oleh guru/dosen apakah hasilnya nanti seiring dengan capaian yang sesungguhnya didapat. Apakah komunikasi akan terbangun dengan baik antara guru/dosen dengan murid/mahasiswa.

Model seperti ini untuk beberapa pihak mudah diadaptasi baik di tingkat mahasiswa maupun dosen. Bagi dosen, yang masih muda, adaptasi akan lebh mudah dilakukan pada perkembangan teknologi yang ada. Dosen senior mungkin akan lebih kesulitan dalam melakukan penyesuaian. Tetapi semakin kesini dosen-dosen senior justru semakin bersemangat dalam mengejar ketertinggalan tersebut. Karena tantangan yang ada diantaranya adalah keharusan mempelajari teknologi yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan bagaimana mengatasi keterbatasan komunikasi. Mensiasati pertemuan daring dibuat semirip mungkin dengan pertemuan luring, dengan mencari cara bagaimana materi bisa diberikan semua, serta cara mengkompensasi pertemuan daring sesuai dengan materi yang disampaikan. Misalnya menjelaskan materi kuliah yang memerlukan praktik perhitungan akan sulit tersampaikan apabila tidak didukung oleh metode pembelajaran daring yang sesuai.

Kegagapan pembelajaran ini memang masih nampak terlihat dihadapan kita. Sisi murid/mahasiswa, akan menimbulkan kendala yang cukup berarti. Dengan pelaksanaan pembelajaran masing-masing sekolah/kampus yang berbeda dalam pemilihan bentuk dan teknisnya, outputnya pun akan berbeda karena banyak murid/mahasiswa yang merasa kesulitan melakukan praktikum sebagai penunjang materi pembelajaran. Mereka harus belajar secara daring, dalam artian tidak bisa interaksi langsung dengan guru/dosen, yang sebelumnya bisa saling bertanya maupun diskusi dengan teman menjadi tidak bisa dilakukan. Kalaupun ingin saling bertanya pun harus dilakukan secara daring pula.

Selain itu, beberapa tempat masih melaksanakan pembelajaran daring tanpa virtual meeting. Komunikasi hanya dilakukan lewat email maupun whatssap. Metode seperti ini sedikit menyulitkan ketika harus menjelaskan materi hitungan. Hal ini mungkin bisa diatasi dengan penggunaan tablet maupun stylus, yang harus diikuti dengan kepemilikan alat yang sesuai. Sisi lain, ada yang sudah menggabungkan pembelajaran daring antara email, whatsapp dan virtual meeting, via zoom maupun googlemeet. Hal ini mempermudah bagi guru/dosen untuk menjelaskan materi walaupun mungkin bukan materi hitungan. Interaksi dengan murid/mahasiswa akan meningkat. Bahkan dengan virtual meeting seperti ini, membuka peluang meningkatnya keaktifan murid/mahasiswa dalam perkuliahan.

Virtual meeting membuat murid/mahasiswa merasa ‘aman’ untuk lebih banyak bertanya tanpa merasa malu kepada teman sekelas. Apalagi bila virtual meeting tersebut dibebaskan untuk diikuti tanpa perlu menyalakan vidio. Bertanya pun bisa diajukan via chatbox. Hal ini yang sedikit banyak mendorong mereka untuk lebih aktif bertanya. Interaksi murid/mahasiswa juga berpeluang akan meningkat apabila pada saat virtual meeting tersebut diisi dengan presentasi tentang pemahaman materi yang sebelumnya telah dijelaskan terlebih dahulu oleh guru/dosen. Tentu saja, tidak semua bisa menerapkan hal ini. Kendala pasti akan ada, baik kendala sinyal, kemampuan siswa/mahasiswa dan orang tua, bahkan kendala sikap murid/mahasiswa itu sendiri yang memang sejak awal tidak terbiasa untuk aktif selama di kelas.

Kendala perkuliahan daring tidak berhenti sampai di situ. Berikutnya adalah dalam hal kemandirian dan integritas. Kemandirian berkaitan dengan usaha masing-masing murid/mahasiswa yang tentu saja dituntut untuk melakukan usaha yang lebih keras berkaitan dengan kelas daring. Berikutnya, pengerjaan tugas ataupun ujian yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri, tidak bisa sepenuhnya menunjukkan kejujuran usaha masing-masing murid/mahasiswa. Atau dengan kata lain, tidak bisa sepenuhnya menunjukkan integritas mereka. Satu sisi, guru/dosen selalu berusaha menjaga integritas dengan memberi materi dan tugas serta soal ujian yang mendorong mereka untuk mengerjakan sendiri, dan menutup kemungkinan untuk mereka saling bertanya, tapi sebaliknya hal tersebut tidak seiring dengan usaha murid/mahasiswa.

Maraknya pembelajaran daring, kemudian memunculkan hal-hal baru yang mengiringinya. Diantara muncul jasa pembuatan tugas, muncul aplikasi membuat essay, bahkan muncul aplikasi yang memampukan murid/mahasiswa untuk menulis dengan font tulisan tangan dengan sebelumnya meng copy paste tulisan teman. Dengan adanya alat komunikasi/gawai, murid/mahasiswa bisa membentuk grup whatsapp untuk berdiskusi tentang jawaban tugas/ujian dengan teman sekelas bahkan dengan teman lain kelas, peluang ini semakin terbuka apabila jadwal masing-masing kelas bebeda. Atau mereka memakai dua alat komunikasi/gawai, satu dipakai untuk mengerjakan tugas/ujian, satu dipakai untuk mencari jawaban dari mesin pencari.

Guru/dosen dapat melakukan beberapa cara untuk menjaga integritas dalam melakukan penilaian. Pertama dengan membatasi penggunaan gawai dalam mengerjakan ujian, dengan menyiapkan kamera yang memonitor proses mengerjaan tugas/ujian. Berikutnya guru/dosen dapat memberikan tugas/soal ujian dengan nomor yang acak ataupun versi yang berbeda bagi masing-masing murid/mahasiswa, melaksanakan diskusi dengan menilai keaktifan atau memberikan tugas/soal ujian yang mengharuskan mereka memberikan jawaban kritis misalnya dengan pertanyaan ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’.

Apapun itu, baik guru/dosen maupun murid/mahasiswa tidak bisa hanya berkeluh kesah, dan harus segera beradaptasi dengan mengganti cara belajar maupun cara mengajar, cara berpikir ataupun segera merubah cara memandang suatu masalah. Murid/mahasiswa hendaknya menyadari bahwa pembelajaran daring bukan sekedar belajar jarak jauh, tetapi juga merupakan usaha pembiasaan menghadapi masa depan yang tidak semakin mudah, justru semakin sulit dan penuh tantangan. Apabila pada saat masih sekolah/kuliah terbiasa bekerja keras menghadapi kesulitan, maka di masa depan akan siap dalam menghadapi segala sesuatu baik itu hal mudah atau sulit, karena sudah terbiasa bekerja keras. Kesadaran yang harus ditanamkan dan diingatkan terus menerus oleh guru/dosen disepanjang proses pembelajaran.

Sekali lagi, pembelajaran daring bukan sekedar mendapat nilai bagus, tapi juga salah satu usaha untuk menghadapi masa depan dengan bekerja keras, menjaga nilai kejujuran dan integritas.

Related posts

Irjen Kemenkumham Beri Suntikan Motivasi di Tengah Pandemi

Rizki

Tepis Dugaan Fraud, Bank Jatim Hormati Proses Hukum Yang Sedang Berjalan

neodemokrasi

Hj Anik Maslacha : “HSN Menjadi Momentum Memperjuangkan Hak Hak Santri dari Perlakuan Diskriminasi Kebijakan”.

neodemokrasi