Neo-Demokrasi
JalanJajan

Bakpao Legendaris Jombang Ini Tetap Pertahankan Resep Khasnya

Penjual Bakpao Tjuyen yang melegenda di Jombang dengan rombongnya.

Jombang, NEODEMOKRASI.COM – Mengenang masa kecil di kampung halaman bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan berburu makanan yang melegenda di tanah kelahiran.

Seperti Bakpao Tjuyen yang sudah melegenda di Jombang. Masyarakat yang lahir tahun 1990-an pasti tidak asing dengan makanan tradisional Cina tersebut. Karena Bakpao Tjuyen eksis di Kota Santri sejak 1986.

Pemilik Bakpao Tjuyen, Sulastri (62) mengatakan, bisnis ini awalnya digeluti almarhum suaminya, Karmudi, sejak 1976. Mojokerto menjadi tempat awal Karmudi mengenalkan bakpao buatannya kala itu. Bapak lima anak tersebut sempat hijrah ke Madiun selama dua tahun.

Dia lantas kembali ke Mojokerto pada 1982-1985. Sejak 1986, Karmudi memutuskan untuk menetap di Jombang. Tepatnya di Desa Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan. Menurut Sulastri, saat itu Tjuyen menjadi bakpao pertama yang masuk ke Kota Santri.

“Nama Tjuyen dulu milik bos suami saya di Surabaya. Dulu suami saya tukang masak bakpao ikut bosnya itu. Setelah bosnya meninggal, diteruskan suami saya,” kata Sulastri kepada wartawan di rumahnya, Minggu (17/1).

Bakpao Tjuyen tergolong legendaris di Jombang. Pasalnya, makanan tradisional Cina ini tetap eksis selama 35 tahun terakhir. Sulastri melanjutkan bisnis tersebut sejak suaminya meninggal dunia hingga saat ini.

“Ilmu membuat bakpao sudah kami turunkan ke semua anak saya. Dua bulan sebelum suami saya meninggal, semua anaknya diajari membuat bakpao,” ungkapnya.

Terbukti, Bakpao Tjuyen masih digemari masyarakat Jombang hingga kini. Rata-rata setiap harinya, Sulastri menghabiskan 30 kg tepung terigu untuk membuat 800 bakpao dengan 5 varian isian. Yaitu bakpao isi kacang hijau, daging ayam, stroberi, cokelat dan kacang tanah.

“Saya punya 5 penjual keliling. Per bijinya saya jual Rp 3.000. Rata-rata omzetnya Rp 1,5 juta per hari,” terang ibu lima anak tersebut.

Itu belum termasuk omzet dari cabang Bakpao Tjuyen di Kabupaten Nganjuk. Cabang tersebut kini rata-rata mampu menjual 300 bakpao setiap harinya.

Rupanya Sulastri mempunyai cara khusus untuk membuat Bakpao Tjuyen tetap eksis. Salah satunya dengan mempertahankan resep dan teknik memasak bakpao. Yakni menggunakan cara manual dan menghindari penggunaan bahan pengawet dan pengembang roti.

“Bakpao kebanyakan kan gembos. Kalau buatan saya padat dan kenyal. Karena bahannya tidak pakai pengawet maupun fermipan. Hanya pakai soda kie agar bakpao kenyal,” jelasnya.

Ciri khas teknik pemasaran Bakpao Tjuyen juga dipertahankan sampai saat ini. Yaitu menggunakan gerobak dorong. Setiap gerobak dilengkapi panci kukus dengan tutup berbentuk kerucut, serta kotak kaca untuk menyimpan stok bakpao.

“Saya mempertahankan ciri khas Bakpao Tjuyen. Itulah sebabnya saya tidak membuka toko atau jualan pakai motor,” cetus Sulastri.

Menikmati Bakpao Tjuyen sama halnya dengan mengenang masa kecil. Seperti yang dirasakan Yusuf Radian (30). Dia mengaku menjadi penikmat Bakpao Tjuyen sejak usia taman kanak-kanak (TK).

“Dulu saya dibelikan orang tua Bakpao Tjuyen. Kadang ke penjual yang keliling. Kadang ke penjual yang mangkal di tempat-tempat ramai. Gerobaknya tetap sama sampai sekarang,” ungkapnya.

Menurut Yusuf, Bakpao Tjuyen sudah melegenda di Kabupaten Jombang. Karena Tjuyen menjadi bakpao pertama yang dia kenal di Kota Santri. Cita rasa bakpao ini yang membuat dirinya menjadi penikmat setia. “Karena rasanya enak, konsisten sampai sekarang,” tandasnya.(dan)

Related posts

Museum dan Galeri Seni SBY Ani Jadi Daya Tarik Baru Wisata Pacitan

neodemokrasi

Bawa 840 Wisatawan, Kapal Pesiar CMV Vasco da Gama Merapat di Semarang

neodemokrasi

Poetoek Soeko Di-launching, Keuntungan Capai Rp 60 Juta Sebulan

Rizki