Neo-Demokrasi
Headline Kesra

Awalnya Hobi ke Warnet, Kini Jadi Jagoan IT

Aktivitas Zetta sehari-hari membantu usaha sang ayah.

Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Zetta Septian Nugroho Adhi, remaja asal Semarang yang kerap disapa Zetta ini, sebelumnya mengaku sudah tak berharap untuk bisa kuliah seperti teman-temannya. Biaya kuliah yang tinggi membuat Zetta yakin bahwa ia tak ingin membebani Joni Christiono, sang ayah, yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang las.

“Kita tahu sendiri pendapatan ayah tak menentu. Apalagi di masa pandemi ini, penurunan penghasilan sangat terasa. Awalnya saya ingin langsung kerja sehingga sebagai anak pertama bisa membantu keluarga,” kenang Zetta dalam Talkshow Pengumuman Beasiswa Semesta, Rabu (28/7) yang dihadiri oleh CEO PT. Sentra Vidya Utama (Komunitas Sevima) Sugianto Halim dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi.

Namun kegigihannya untuk berkuliah tak pernah memadamkan semangat Zetta. Mengikuti rangkaian seleksi Beasiswa SemestaE, kemahirannya membuat prototipe Sistem Pendaftaran Vaksinasi dalam ujian pemrograman membuatnya diganjar sebagai satu dari lima peraih Beasiswa Semesta.

Beasiswa Semesta akan memberi Zetta dan kawan-kawan hadiah uang tunai dan biaya pendidikan untuk berkuliah pada jurusan Teknik Informatika (IT) di perguruan tinggi ternama di Surabaya, senilai total Rp 300 juta. Selain itu,  Zetta akan mendapatkan kesempatan berkarya dengan gaji bulanan senilai minimal UMR Surabaya (sekitar empat jutaan rupiah), bersama Sevima.

Siapa sangka, kecintaan Zetta di bidang IT dimulai dari hobi bermain game di warung internet (warnet). Dulunya, Zetta kerap kali lama tak pulang selepas sekolah. Karena ia tak langsung pulang ke rumah selepas lonceng pulang berbunyi. Melainkan bersama teman-temannya, kabur ke warnet.

“Tidak jarang sampai larut malam pergi ke warnet. Kalau saya sebagai ayah, tak khawatir dengan hobi tersebut. Saya selalu yakin, Zetta sebagai anak mbarep (laki-laki dan anak pertama), punya pemikiran matang. Tapi ibunya kepikiran. Namanya juga insting ibu,” kenang Joni.

Game favoritnya adalah Point Blank. Permainan tembak-tembakan online yang memang cukup terkenal pada tahun 2010-an awal. Keterbatasan ekonomi sebagai anak tukang las tak menghalanginya untuk pergi ke warnet. Setiap harinya Zetta rela tidak jajan di sekolah supaya bisa bayar di warnet Rp 3.000/jam.

“Bahkan untuk ke warnet, kami semua (Zetta dan kawan-kawan) jalan kaki. Selain berhemat, ini solidaritas. Tidak mungkin satu naik angkot, atau satu naik sepeda, sedangkan teman lain ada yang jalan kaki,” kisah Zetta atas jiwa solidaritasnya yang telah terpupuk sejak dini.

Kecintaan bermain game di warnet kemudian membuatnya dia tertarik untuk belajar membuat gamenya sendiri di komputer. Yang berarti, Zetta harus belajar seputar pemrograman agar bisa mencapai impian kanak-kanaknya tersebut. Akhirnya, dimulailah petualangan Zetta belajar pemrograman sejak belajar di SMK Negeri 8 Semarang.

“Dari bermain game ini saya mulai tertarik untuk menjadi developer. Sebelumnya saya tidak tahu caranya menjadi seorang developer. Akhirnya saya cari-cari dan ternyata developer itu harus bisa pemrograman. Untuk itu, saya sekolah di SMK dan banyak belajar tentang pemrograman,” terang putra sulung dari pasangan Joni Christiono dan Ester Yuliani ini.

Joni Christiono, sang ayah yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang las sejak tahun 2005 dengan penghasilan yang tidak menentu. Kadang mendapat penghasilan Rp 500 ribu sebulan, kadang juga lebih.

Sedangkan Ester Yuliani, ibu Zetta, membuka jasa laundry kecil-kecilan di rumahnya. Tak jarang, Zetta sebagai anak sulung diminta bantuan tenaga oleh kedua orang tuanya untuk menyambung besi dan mencuci baju.

Profesi tukang las dan laundry yang menghadirkan jasa bagi lingkungan sekitar, otomatis membuat keluarga Zetta menjadi salah satu keluarga yang terdampak perekonomiannya karena pandemi Covid-19. Usaha ayah dan ibunya mendadak sepi pelanggan di awal tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 dimulai.

Disinilah, keahlian Zetta di bidang IT yang saat itu duduk di kelas 3 SMK, mulai diuji. Jasa sang ayah sebagai tukang las dan ibu sebagai laundry, dipromosikannya secara online. Dengan cara mengunggah foto dan nomor HP kedua orang tuanya di media sosial dan Google Maps.

Tak disangka, jasa kedua orang tuanya langsung tambah laris dalam sekejap. Bahkan ada pemesanan yang masuk melalui email. Sebuah metode pemesanan yang tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya.

“Saya juga sempat beberapa waktu bantu promosi bisnis laundry ibu. Saya pasang toko laundry di Google Maps sampai akhirnya laundry-nya jadi lebih laris dari biasanya. Jadi kalau biasanya pesanan dari mulut ke mulut, ini sampai ada email yang masuk,” kenang Zetta.

Rasa pesimis itu seakan sirna ketika suatu saat menemukan informasi tentang Beasiswa Semesta. Informasi inipun ia temukan secara tak sengaja, ketika rebahan dan tidak melakukan aktivitas apapun, informasi Beasiswa Semesta ia temukan melalui media sosial Instagram.

Kerja keras dan komitmennya untuk mencoba membantu penanganan Pandemi di Indonesia itu, membuahkan hasil. Zetta berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa Semesta 2021.

Atas doa dari sang ayah tersebut, Zetta berjanji akan memanfaatkan kesempatan Beasiswa Semesta dengan sebaik-baiknya. Kuliah diharapkan bisa membuka jalannya dalam meraih masa depan yang cerah, dan juga mewujudkan cita-cita masa kecilnya. “Belajar IT supaya bisa bikin game,” kenang Zetta.

CEO Sevima Sugianto Halim mengungapkan, Zetta adalah satu dari lima anak yang memperoleh anugerah Beasiswa Semesta. Seluruh anak tersebut akan diberikan kesemptan berkuliah di Surabaya dengan biaya pendidikan untuk Zetta dan masing-masing peserta, senilai Rp 55 juta.

Selain berkuliah, mereka juga akan memperoleh kontrak kerja di bidang IT dan gaji bulanan. Dengan harapan para peraih Beasiswa Semesta, akan lulus kuliah dengan skillset yang lengkap baik secara teori maupun praktek di industri IT.

Senada, Walikota Semarang Hendrar Prihadi  yang hadir seiring salah satu warganya berhasil menyabet Beasiswa Semesta, menjelaskan bahwa sudah saatnya bagi Semarang dan Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton saja dalam perkembangan teknologi komputer. Dengan semakin bertumbuhnya industri teknologi informasi ke depan, alih-alih sebagai user semata, talenta-talenta hebat dari Indonesia harus terlibat dan memenangkan kompetisi di industri IT.(dan)

Related posts

Bank Jatim Serahkan CSR Sarana Prasarana Gereja

neodemokrasi

Guru Ngaji di Sidoarjo Sodomi 25 Santri

Rizki

Awal Ramadan Kamtibmas di Kecamatan Krembung Kondusif

Rizki