Neo-Demokrasi
Headline Kesra Umum

ITS Kembali Raih Dana Riset Terbanyak dari GRS

Para penerima GRS 2025 dari ITS bersama Ketua Asosiasi Inventor Indonesia Didiek Goenadi (tiga dari kanan) dan Direktur RPM ITS Fadlilatul Taufany (tiga dari kiri) usai penandatanganan PKS Grant Riset Sawit 2025 di Jakarta.

Jakarta, NEODEMOKRASI.COM –  Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menegaskan perannya sebagai pusat inovasi teknologi nasional dengan meraih pendanaan riset terbanyak dalam ajang Grant Riset Sawit (GRS) 2025 yang diselenggarakan oleh BPDP Sawit. Total pendanaan lebih dari Rp 10 miliar berhasil diamankan ITS untuk mengembangkan lima teknologi strategis yang siap mendorong transformasi industri kelapa sawit Indonesia menuju arah yang lebih modern dan berkelanjutan.

Penandatanganan kontrak pendanaan riset tersebut dilaksanakan di Gedung Surachman Tjokrodisurjo, Jakarta, Selasa (27/1). Hal ini sekaligus menandai keberhasilan ITS dalam mempertahankan dominasinya sebagai penerima dana riset terbesar selama tiga tahun berturut-turut dalam skema GRS.

Salah satu inovasi tersebut adalah Gerobak Crawler Bertenaga Listrik DC yang dikembangkan oleh tim Lila Yuwana (Departemen Fisika). Teknologi ini dirancang untuk membantu proses pengangkutan tandan buah segar (TBS) di medan ekstrem perkebunan rakyat dengan sistem roda rantai serta tenaga listrik ramah lingkungan, sekaligus meningkatkan produktivitas dan mengurangi emisi karbon.

Menurut Lila, alat hasil pengembangan timnya tersebut dirancang untuk membangtu mengurangi beban kerja fisik petani sekaligus menekan emisi karbon di sektor perkebunan. “Harapannya, produktivitas Perkebunan sawit bisa lebih meningkat tanpa mengorbankan aspek lingkungan nantinya,” papar Lila.

Inovasi berikutnya datang dari Moch Solichin (Departemen Teknik Mesin) melalui penerapan Digital Twin multifungsi untuk pemantauan kematangan buah sawit dan kinerja mesin secara real-time. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini kondisi operasional sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan keandalan proses produksi.

Sementara itu, Hepi Hapsari (Departemen Teknik Geomatika) bersama Kelly Rossa (Departemen Teknik Informatika) mengembangkan sistem estimasi produksi kelapa sawit berbasis drone multispektral, sensor Volatile Organic Compound (VOC), dan citra satelit. Teknologi ini mampu memetakan kesehatan tanaman serta memperkirakan potensi panen secara akurat dari udara, mendukung penguatan ketahanan pangan nasional.

Pada aspek keselamatan kerja, ITS menghadirkan Arecaverse, sebuah inovasi safety metaverse yang dipimpin Dr Adithya Sudiarno dari Departemen Teknik Sistem dan Industri. Adapun pada ranah tata kelola dan lingkungan, Endah Rokhmati (Departemen Matematika) mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Sawit berbasis data untuk perhitungan kredit karbon dan premi asuransi.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Eddy Abdurrachman mengapresiasi capaian ITS yang dinilai berhasil membawa riset hingga tahap penerapan industri. Ia mengungkapkan bahwa tiga peneliti ITS berhasil masuk dalam daftar 20 riset tahap pilot atau komersial, menandakan kesiapan inovasi ITS untuk diimplementasikan di sektor industri sawit nasional. Ketiga inovasi yang siap komersial tersebut meliputi Gerobak Elektrik Lila Yuwana), Egrek Digital (Erwin Widodo), dan Drone Penyerbukan (Nur Cahyadi).

Keberhasilan ini, menurut Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Fadlilatul Taufany tidak terlepas dari strategi pendampingan intensif dan fokus pada hilirisasi riset. “Kami memastikan sejak awal bahwa riset tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap dikomersialisasikan dan memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” tegasnya optimistis.(dan)

Related posts

UB Penyumbang Riset dan Inovasi Aplikatif Terbesar di Indonesia

Rizki

Ratusan Pekerja Seni Tuntut Bupati Jombang

neodemokrasi

Bupati Ikfina Pantau CASN, Minta Hindari Calo

Rizki