Neo-Demokrasi
Headline Kesra Politik Pemerintahan

Pemkot Surabaya Perkuat Normalisasi Saluran dan Tambah Rumah Pompa

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Syamsul Hariadi saat di kantor eks Humas Pemkot Surabaya.

Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pemkot Surabaya melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi adanya cuaca ekstrem. Mulai dari pengerukan saluran, penambahan rumah pompa, hingga pembersihan saluran drainase. Hal ini dilakukan agar ketika memasuki musim hujan, tidak sampai terjadi genangan atau banjir.

Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya Syamsul Hariadi mengatakan, Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi cuaca ekstrem. Salah satunya pemeliharaan fasilitas penunjang penanganan banjir dan genangan, diantaranya normalisasi saluran, pompa air, pintu air, pintu laut yang menuju ke muara dan sebagainya.

“Jadi sebelum musim hujan, teman-teman Satgas (satuan tugas) atau pasukan merah itu melakukan pengerukan saluran. Kenapa harus dikeruk? Karena banyak sampah, banyak sedimen sehingga mengurangi kapasitas saluran, makanya perlu dikeruk agar kapasitasnya kembali seperti semula,” kata Syamsul, saat ditemui di kantor eks Humas Pemkot Surabaya pada Kamis (6/11) sore.

Tidak hanya itu, Syamsul juga menjelaskan, DSDABM Surabaya juga melakukan pemeliharaan pompa air dan pintu air. Tujuan pemeliharaan itu adalah untuk memastikan, pompa air dan pintu air itu dapat berfungsi baik ketika terjadi cuaca ekstrem.

“Jadi, makannya di wilayah selatan saat ini ada pembangunan rumah pompa Menanggal di belakangnya Cito, kemudian ada pembangunan rumah pompa Ahmad Yani di depannya Taman Pelangi, kemudian ada rumah pompa Ketintang di Ketintang Madya. Lalu ada juga rumah Pompa Karah, ini semua titik-titik banjir, dan satu lagi rumah pompa di Rungkut Menanggal, ini yang kita fokuskan di wilayah selatan tahun ini,” jelasnya.

Bukan itu saja upaya yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya, Syamsul menyebutkan, DSDABM juga rutin berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk deteksi dini informasi cuaca. Biasanya, lanjut Syamsul, pemkot akan menerima peringatan satu sampai dua jam sebelum terjadi cuaca ekstrem.

Syamsul menerangkan, informasi yang diperoleh dari BMKG bisa dijadikan acuan untuk mitigasi dini, jika sewaktu-waktu terjadi cuaca ekstrem. Mulai dari perkiraan waktu hingga intensitas curah hujan yang akan terjadi. Adanya informasi ini, jajaran DSDABM melakukan sejumlah upaya penanganan, mulai dari mengurangi debit air di saluran, menyalakan rumah pompa, hingga membuka pintu-pintu air.

Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya Ady Hermanto mengatakan, cuaca yang terjadi saat ini di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya, sudah memasuki musim penghujan. Ady menjelaskan, intensitas curah hujan yang terjadi dalam waktu satu pekan ini cukup bervariasi, yakni intensitas sedang hingga lebat pada saat siang dan malam.

Tidak hanya curah hujan tinggi, pada 6-7 November 2025 juga akan terjadi gelombang pasang maksimum di wilayah Selat Madura yang berpotensi menyebabkan banjir rob di kawasan pesisir. “Nah, jika dibarengi hujan yang deras, otomatis genangan air juga akan semakin tinggi. Karena Surabaya sudah masuk musim penghujan, puncaknya akan terjadi pada Januari dan Februari 2026,” kata Ady.

Ady menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan curah hujan tinggi di wilayah Surabaya. Salah satunya adalah karenakan adanya fenomena Muson Barat, selain itu juga ada Madden Julian Oscillation (MJO) atau bertambahnya uap air yang berasal dari Samudera Hindia. “Tapi lebih dominannya muson barat, jadi itu angin juga berpengaruh terhadap pasokan uap air di atmosfer,” ujarnya.(dan)

 

Related posts

Kekerasan kepada Perempuan Turun 33 Persen, Kekerasan Anak 31 Persen

Rizki

Sidoarjo Tidak Aman, Geng Motor Berulah Lagi, Bacok Warga

Rizki

Anggaran Senilai Rp 845 Miliar Dinilai KPU Jatim Cukup untuk Penyelenggaraan Pilkada Jatim 2024

neodemokrasi