
Surabaya. NEODEMOKRASI. COM. Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jatim dari Gerindra dr Benjamin Kristianto MARS mendapat anugerah. KRA dari Keraton Surakarta Hadiningrat, Solo. Anugerah terhormat ini diterimanya karena dinilai layak dan mampu melestarikan budaya Jawa yang dikenal menjunjung tinggi adab, etika dan sopan santun dengan baik dalam menjalankan tugasnya baik dibidang medis maupun kiprahnya sebagai politikus. Pengukuhan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab kalangan keraton atau akademisi, tetapi juga para profesional modern yang memiliki kepedulian terhadap jati diri bangsa.
Prosesi pelantikan dibagi menjadi dua kategori: pertama, Abdi Dalem yang diikuti sekitar 275 peserta dan dilangsungkan di Bangsal Semorokoto. Kedua, kategori Sentono yang digelar secara lebih tertutup dan sakral di ruang Kasentanan, khusus untuk tokoh-tokoh pengageng seperti Dr Benjamin Kristinanto MARS.
Gelar tersebut diberikan secara resmi oleh Hangabehi, putra laki-laki tertua Sinuhun Paku Buwono XIII yang saat ini bertahta, dan disahkan oleh Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, lembaga berbadan hukum yang diakui oleh Kementerian Hukum dan HAM RI. Sementara Sertifikat atau ijazah gelar diterbitkan langsung oleh lembaga tersebut, yang dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu D.R.A. Kusmurtiawan Sari, M.Pd.
“Saya dikasih gelar kehormatan itu yakni kenaikan gelar yang menandai peningkatan status menjadi Kanjeng Raden Aryo (KRA). Karena dianggap mampu mensinergiskan antara bidang kesehatan dipandang dari sudut budaya Jawa Solo. ” jelas dr Ben sebelum sidang paripurna, Senin, (21/6/2025).
Lebih lanjut pihaknya menjelaskan bahwa dalam budaya Jawa dikenal sangat kuat memandang manner dan attitude sebagai hal penting. fFigurnya dalam melaksanakan baik kegiatan sosial maupun dalam rangka menjalankan kinerja kedewanan dinilai mampu mencerminkan adat istiadat dan budaya Jawa yang kuat dalam menjaga sopan santun dan sikap andaop asor.
“Kadang-kadang banyak sekali dokter-dokter dan perawat itu dalam melayani pasien itu dalam tanda kutip itu lupa dengan budaya-budaya Jawa yang harusnya menjaga sopan santun, ramah tamah, terus tidak memisahkan dan melihat sisi apapun , baik kedudukan, jabatan dan lain lainnya. ” ujarnya.
Artinya pihaknya dianggap mampu melayani dengan mengkolaborasikan antara bidang kesehatan dengan budaya Jawa yang notabene mudah legowo, nerimo, menghormati, menghargai sesama dengan penghormatan tinggi pada siapapun
“Kebetulan saya ada keturunan, Jawa tapi jauh. Makanya ini kenaikan ke jenjang berikutnya. Gelar KRA atau Kanjeng Raden Aryo. . Di mana di belakangnya tertera nama Husodo Diningrat ” tambah politisi Gerindra ini.
Jadi, tambahan nama Husodo Diningrat otomatis melekat di belakang nama asli Dr Benjamin Kristianto untuk selamanya.
” Penganugerahan nama ini menjadi beban kita bersama bagaimana pertama kita melestarikan budaya Jawa supaya budaya ini tetap langgeng. Terus kita juga bukan hanya melestarikan tapi juga membutuhkan contoh. dari keraton-keraton Solo, bagaimana kita tetap menghormati orang tua. Bahkan mereka kan sangat luar biasa. ” tambahnya.
Bagaimana benar-benar orang tua itu mendidik kita terkait pola pergaulan dan bermasyarakat . Bahkan kebiasaan tata jalan dalam budaya jawa dalam budaya menghormati orang tua dengan jalan membungkuk membuktikan besar penghormatan seorang anak kepada orangtua. Nilai nilai ini yang akan tetap dipertahankan, baik secara pribadi maupun hubungannya dengan aktivitas politik.
“Sebenarnya dengan melihat tadi kalau saya kan disenergiskan kan dengan bidang kesehatan, tapi dengan bidang politik pun sama, apa itu budaya Solo atau Jawa .Kitakan dulu punya guyonan, misalnya kalau kaki diinjek saja kita menegur yang injak tetap dengan bahasa bahasa yang sopan, dengan kalimat nuwun sewu ! ” kelakarnya.
ditambahkannya, guyoman Jawa Tengah Solo itu misalnya tetap menggunaka n bahasa yang halus, tidak kotor atau jorok. Mayoritas secara pribadi juga tetap menjaga budaya rendah hati, budaya untuk sopan santun, tetap dipertahankan dimanapun dan kapanpun. Bukan hanya di kesehatan, tapi di politik pun harus menggunakan budaya sopan santun dan rendah hati. Sesama politik kita tidak noleh main sikut-sikutan, saling menyerang. Harus mampu bermain politik santun..
Pengukuhan ini bukan hanya bentuk kehormatan simbolik, melainkan pengakuan atas peran aktifnya dalam menjaga dan pelestarian budaya Jawa akan tetap berlaku sepanjang zama. Kenaikan gelar ini menandai peningkatan status lebih tinggi dalam struktur kebangsawanan keraton. Proses pelantikan berlangsung di ruang Kasentanan, tempat khusus bagi para Sentono atau pembesar keraton sebagai kalangan elit budaya di bawah naungan Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat.pada Sabtu, (21-6-2025)
Gelar ini bukan sekadar lambang kebangsawanan, tapi juga tanggung jawab untuk terus menguri-uri budaya Jawa. Dengan gelar Kanjeng Raden Arya yang kini disandangnya, ia diharapkan menjadi jembatan antara modernitas dan tradisi.
“Gelar ini menyatukan kehormatan dan tanggung jawab. Semoga bisa menjadi motivasi, tidak hanya bagi saya pribadi, tapi juga bagi politisi lain di Indonesia agar lebih profesional dan berakar pada nilai budaya Jawa yang kuat,” pungkasnya.(nora)
