
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pemkot Surabaya mengungkap masih maraknya aksi pencurian fasilitas umum (fasum) di sejumlah taman kota. Tidak hanya kursi besi, pelaku juga menyasar kabel lampu hias, pot tanaman, hingga bunga yang dipasang untuk mempercantik ruang publik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya M. Fikser mengatakan, taman kota tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka hijau, tetapi juga tempat interaksi sosial bagi masyarakat. Karena itu, pemkot melengkapi taman dengan berbagai fasilitas, mulai dari area bermain anak, tempat duduk, lampu hias, hingga ornamen dekoratif.
“Jadi kalau jumlah seluruh taman Kota Surabaya itu lebih dari 800, dan untuk taman aktif jumlahnya ada 47. Taman aktif itu dimana ada aktivitas warga bertemu. Makanya kita harus jaga taman itu bersih supaya warga mau datang,” kata Fikser, Jumat (7/8).
Untuk memperkuat pengawasan, Pemkot Surabaya mengajak masyarakat ikut berperan menjaga fasilitas umum. DLH Surabaya bahkan telah lama menjalankan program apresiasi berupa hadiah Rp300.000 bagi warga yang berhasil mendokumentasikan aksi pencurian maupun pelanggaran lingkungan.
“Jadi kita membuat sayembara ini memang sudah lama. Bukan sekadar melapor kehilangan, tapi harus ada (bukti) orang yang melakukan pengambilan pencurian. Cukup foto, upload ke IG-nya Dinas Lingkungan Hidup, kita respons, kita berikan uang Rp300.000,” kata Fikser.
Fikser menegaskan, keterlibatan masyarakat sangat penting mengingat anggaran yang dikeluarkan pemkot untuk membangun dan merawat taman serta ruang terbuka hijau tidak sedikit. Karena itu, ia berharap seluruh warga memiliki rasa memiliki terhadap fasilitas kota sehingga dapat bersama-sama menjaga aset publik dari aksi pencurian maupun vandalisme.
Meski telah dilengkapi berbagai fasilitas, taman kota justru kerap menjadi sasaran pencurian. Salah satu yang paling sering hilang adalah kursi besi yang dipasang di taman maupun pedestrian.
Fikser menjelaskan, kursi besi tersebut mulai dipasang sejak tahun 2016-2026. Hingga kini, sekitar 220 titik kursi telah tersedia sebagai fasilitas bagi masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Nilai setiap kursi pun tidak murah, yakni lebih dari Rp3 juta per unit. “Satu kursi itu hampir Rp3 juta lebih. Karena memang berat dia kan (bahan) dari macam krom baja,” ujarnya.(dan)
