Neo-Demokrasi
Headline Kesra

Wisudawan Termuda dan Tertua ITS Raih Predikat Gemilang

Wisudawan tertua Siens Harianto saat menerima ijazah dari Rektor ITS Bambang Pramujati pada Wisuda ke-133 ITS.

Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Di antara ribuan toga yang mewarnai Grha Sepuluh Nopember ITS, ada dua sosok yang membuktikan bahwa usia tak pernah membatasi semangat belajar. Rochman Sugiarto dan Siens Harianto dianugerahi sebagai wisudawan termuda dan tertua pada helatan Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Minggu (19/4).

Dinobatkan sebagai wisudawan termuda pada usia 20 tahun 1 bulan bukanlah perjalanan yang mudah bagi Rochman. Langkah cepatnya telah dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Sewaktu berseragam putih biru, ia mengikuti program akselerasi yang memangkas lama pendidikannya menjadi dua tahun saja.

Berhasil mengantongi prestasi yang memuaskan, pemuda asal Sidoarjo ini meneruskan program serupa di jenjang SMA. Berbekal dukungan yang tak pernah padam dari keluarga, ia berhasil menuntaskan pendidikan menengah total hanya dalam kurun waktu empat tahun. “Karena saya bisa survive selama SMP, orang tua pun mendukung untuk ikut akselerasi juga di SMA,” jelasnya.

Lulus di usia yang belia, pemuda kelahiran 2006 ini menaruh minat besar pada dunia keteknikan. Baru menginjak 16 tahun, ia sudah menyandang status sebagai mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS. Rochman memandang bahwa bidang ini memiliki peluang yang menjanjikan di dunia industri, sehingga membuatnya tak ragu untuk memilih jurusan tersebut di ITS.

Selama berkuliah, keseharian wisudawan yang memiliki hobi badminton ini tak hanya berkutat di ruang kelas. Menyeimbangkan ritme akademik dan nonakademik, ia aktif dalam berbagai organisasi dan kepanitiaan serta menjadi asisten laboratorium. “Tantangan utamanya memang ada pada cara membagi waktu, tapi saya enjoy dengan proses yang saya jalani,” kenang pemuda yang bercita-cita menjadi engineer di bidang oil and gas atau pertambangan.

Berseberangan dengan kisah Rochman, Siens Harianto hadir untuk menunjukkan bahwa semangat belajar tidak dapat dipadamkan oleh usia. Lelaki kelahiran Bandung ini memulai pendidikan doktoral Manajemen Teknologi di Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SIMT) ITS pada usia 59 tahun. Tercatat sebagai angkatan pertama, ia sukses memeroleh gelar doktor di usia 65 tahun dengan meriah IPK 3,67 berpredikat sangat memuaskan.

Meski menempuh studi di usia senja, motivasi Siens berakar dari niat yang mulia. Keinginannya muncul dari pemikiran untuk menjadi penuntut ilmu sepanjang hayat. Sejalan dengan ibadah dan keyakinannya, ia menuturkan bahwa Sang Pencipta menjanjikan kemudahan jalan menuju surga bagi orang-orang yang setia menuntut ilmu. “Saya juga ingin memberikan legacy bagi anak dan cucu,” tambah lelaki kelahiran 23 April 1961 tersebut.

Walaupun tampak tangguh, perjalanan akademis Technical Advisor PT Indal Steel Pipe ini tak selalu berjalan mulus. Ia menghadapi tantangan dalam pemilihan tema disertasi. Pada hampir setiap jenjang ujian, Siens selalu merombak temanya. Tantangan tersebut kian berat oleh kondisi motorik dan memorinya yang menurun, namun kegigihannya tak meredup. “Dengan tertatih-tatih saya mengumpulkan argumen demi argumen sehingga tersusunlah menjadi disertasi,” ungkapnya lega.(dan)

Related posts

Transformasi Digital dan AI akan Percepat Reformasi Birokrasi

Rizki

RS Korpri Pura Raharja Perkuat Layanan Kesehatan Berkualitas dan Terintegrasi

Rizki

Kabagsumda, Kasat Binmas, dan Kapolsek di Polresta Sidoarjo Berganti

Rizki