Neo-Demokrasi
Politik Pemerintahan

Tarik Investor untuk Mengurangi Problem Pengangguran dam Kemiskinan di Jember

M. Fawait, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jatim

Jember. NEODEMOKRASI.COM. Ketua fraksi Gerindra DPRD Provinsi Jawa Timur  Moch Fawait mengatakan pihaknya   tidak heran  ketika melihat data Badan Pusat Statistik di mana kemiskinan di Jember dari tahun ke tahun khususnya dari tahun 2002 ke 2023  mengalami kenaikan dan jumlah  pengangguran juga semakin tinggi.

Hal itu dimungkinkan karena  memang  investasi di sektor riel  di Kabupaten Jember juga semakin lama semakin kecil. Padahal investasi di sektor real itu akan membuka lapangan pekerjaan. Ketika ada investor masuk ke Jember, maka otomatis lapangan pekerjaan akan terbuka,.  Dan angkatan kerja akan bisa bekerja, pendapatan akan naik, dan otomatis kemiskinan akan turun.  Secara teori demikian.

Tapi yang terjadi justru investasi di sektor real di Jember semakin lama semakin kecil, akhirnya lapangan pekerjaan tidak terbuka. Akibatnya angkatan kerja tidak bisa terserap, terjadi pengangguran, tingkat pengangguran naik, , pendapatan tidak naik, kemiskinan naik. Nah. Sehingga KWD Jember hari ini kalau dikatakan perkembangan ekonominya ya semakin memprihatinkan ya, karena kemiskinan naik, pengangguran juga naik. Akibatnya  masyarakat tidak semakin sejahtera.

” Ada beberapa hal yang saya lihat, yang pertamalah terkait masalah perizinan. Perizinan ke depan untuk KWD Jember harus lebih mudah dibanding hari ini. Kalau perlu kita kasih insentif, supaya banyak investor yang datang ke, KWD Jember menanamkan investasi di sektor real dengan harapan lapangan pekerjaan terbuka, bisa menyerap tenaga kerja, angkatan kerja, dan pendapatan naik, kemiskinan turun. ” jelas Cabub Jember ini.

“Selain perizinan, yang kedua adalah terkait masalah infrastruktur. Tidak heran ketika banyak investasi di sektor real di Jember semakin turun, karena infrastruktur. Tidak mendukung.  Dimulai dari mana? Yang pertama, pengusaha banyak yang mau datang ke Jember, ketika  bandaranya hidup, wisatawan akan datang. ” tambahnya.

Menurut Gus Fawait, kee depan , Bandara Jember akan menjadi prioritas utama. Bandara Jember itu harus hidup, supaya banyak investor yang berkunjung ke Jember, yang mau menanamkan investasinya di sektor real lebih besar. Yang kedua, Jember ini tidak dilalui oleh tol hari ini. Maka harus ada solusi, mungkin harus ada pelabuhan. Supaya ketika ada investor menanamkan modal di Jember, bikin pabrik lah. Maka nanti biaya angkut dari Jember ke daerah-daerah yang lain semakin kecil ketika ada pelabuhan.

Kondisi Jember hari ini tidak punya pelabuhan, tidak dilalui oleh tol, bandara juga  tidak ada, Penambahan ruas jalan di Jember juga tidak optimal. Itu terlihat dari kemacetan yang terjadi di Jember  semakin parah.  Hal  ini yang membuat investor  tidak tertarik untuk berinvestasi. Imbasnya,  investasi sektor real tidak berkembang, lapangan pekerjaan tidak terbuka, pengangguran semakin tinggi, kemiskinan semakin tinggi pula. Ketika kemiskinan semakin tinggi, menimbulkan banyak masalah yang lain.
Angka kematian ibu karena kemiskinan tinggi di Jawa Timur, Jember nomor satu. Angka kematian bayi juga tinggi. , AKB di Jember tertinggi sejatim. Itu efek dari kemiskinan. Kenapa kok miskin? Banyak yang nganggur. Kenapa kok nganggur? Lapangan pekerjaan tidak terbuka. Kenapa kok lapangan pekerjaan tidak terbuka? Investor tidak masuk ke Jember. Mereka tidak mau investasi di Jember.

Maka ke depan, perizinan harus dipermudah. Kasih mereka insentif. Dan yang paling penting, infrastruktur harus kita sediakan. Bandara, ruas jalan harus diperbanyak.  Bandara harus tersedia. Dan pelabuhan  di Jember harus ada . Karena itu yang bisa membuat investasi di Jember bergairah.  Dengan  menarik masuknya Investor  ke Jember,  pihaknya yakin  akan mampu mengurangi jumlah pengangguran dan kemiskinan. ( nora)

Related posts

Atasi Macet di Surabaya Barat, Uji Coba Radial Road Lontar

Rizki

Gus Fawait Resmi Umumkan Cawabup di Acara Taaruf dan Konsolidasi PPP

neodemokrasi

NasDem Jatim: KPU RI Jangan Khianati Rakyat untuk Berdemokrasi

neodemokrasi