
Mojokerto, NEODEMOKRASI.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menggelar pembukaan dan pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMAN 1 Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Selasa dan Rabu, 20-21 Oktober 2026. Kali ini SPAB digelar di 17 lokasi di beberapa daerah di Jawa Timur. SMAN 1 Gedeg menjadi lokasi pertama sekaligus penanda dibukanya program SPAB kali ini.
Kegiatan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman dan keterampilan warga sekolah dalam menghadapi ancaman bencana. Khususnya angin puting beliung, gempa bumi, dan banjir.
Kegiatan tersebut melibatkan BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Mojokerto, Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur Sumardi, serta fasilitator SPAB dari Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur.
Program SPAB menjadi salah satu upaya memperkuat kesiapsiagaan satuan pendidikan melalui peningkatan pengetahuan, pengenalan risiko, penyusunan langkah mitigasi, serta pelatihan keterampilan dasar penanggulangan bencana. Dengan demikian, warga sekolah diharapkan mampu mengenali ancaman di lingkungan sekitar dan memahami tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat.
“Melalui kegiatan SPAB ini, kami mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai potensi ancaman bencana di lingkungan sekolah. Khususnya angin puting beliung, gempa bumi, dan banjir,” ungkap Plt Kepala SMAN 1 Gedek, Li’ati, Selasa, 20 Oktober 2026.
Menurutnya, kegiatan ini juga memberikan pengetahuan tentang pentingnya mitigasi, kesiapsiagaan, serta penyusunan langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. “Harapannya, ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih aman dan tangguh terhadap bencana.” Imbuh Li’ati.
Laporan pelaksanaan SPAB disampaikan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Jawa Timur Deni Kiki Melia Tamara. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 1 Gedeg Li’ati, disusul sambutan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin.
Sambutan berikutnya disampaikan Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur Sumardi. Selanjutnya, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi pelatihan SPAB di SMAN 1 Gedeg.
Pembukaan tersebut menandai dimulainya rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas warga sekolah, yang mencakup pengenalan ancaman bencana, penguatan tata kelola kesiapsiagaan, serta praktik keterampilan dasar penanggulangan bencana.
Salah satu fokus utama kegiatan SPAB kali ini adalah meningkatkan kesiapsiagaan warga sekolah terhadap potensi angin puting beliung, gempa bumi, dan banjir di wilayah Gedeg.
Setelah pembukaan, peserta mengikuti materi pengenalan ancaman bencana dan cara mitigasi yang disampaikan oleh BPBD Kabupaten Mojokerto. Materi ini memberikan landasan bagi peserta untuk memahami risiko bencana serta langkah-langkah yang dapat dilakukan guna mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Untuk memperkuat pemahaman sekaligus memberikan pengalaman praktik, peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan materi yang berbeda. Kelompok pertama diikuti tenaga guru, tenaga kependidikan, administrasi, dan perwakilan lima siswa. Kelompok ini mendapatkan materi pengisian dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) lingkungan satuan pendidikan serta pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS).
Materi tersebut difasilitasi oleh Yan Aditya Putra, fasilitator SPAB SRPB Jawa Timur. Melalui kegiatan ini, sekolah didorong untuk mengenali risiko bencana di lingkungan pendidikan dan memperkuat sistem kesiapsiagaan melalui pembentukan tim siaga.
Sementara itu, kelompok kedua mengikuti edukasi dan praktik keterampilan dasar kebencanaan yang difasilitasi oleh Doddy Prakasa Fitrianto dan Rizal Rahmat Nurcahyo, fasilitator SPAB SRPB Jawa Timur.
Materi kelompok kedua meliputi pengenalan Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana (Mosipena), pemutaran video simulasi SPAB, pengenalan alat pemadam api ringan (APAR), serta pengenalan Tas Siaga Bencana.
Peserta juga mendapatkan pelatihan balut luka dan pemasangan bidai, serta praktik pembuatan tandu darurat menggunakan tongkat dan tali. Kegiatan ini memberikan pengenalan keterampilan dasar yang dapat mendukung respons awal dalam kondisi darurat, dengan tetap memperhatikan keselamatan diri dan orang lain.(dan)
