
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pemkot Surabaya menggelar Upacara Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 di Halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (31/5). Upacara yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin langsung oleh Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Surabaya Armuji.
Kegiatan ini juga dihadiri Konsul Jenderal Kehormatan negara-negara sahabat, forkopimda, kepala perangkat daerah, camat, lurah, RT-RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, Kader Surabaya Hebat (KSH), organisasi kemasyarakatan, hingga berbagai elemen masyarakat.
Dalam amanatnya, Armuji menegaskan peringatan HJKS bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengingat kembali jati diri Surabaya sebagai kota perjuangan yang tumbuh dan berkembang melalui semangat gotong royong serta persatuan seluruh warganya.
“Surabaya besar bukan karena satu orang atau satu kelompok, tetapi karena kerja sama seluruh warganya dari kampung, balai RW, sekolah, pasar, tempat ibadah, ruang usaha hingga ruang pelayanan publik,” ujar Armuji.
Pada peringatan HJKS ke-733, Pemkot Surabaya mengusung tema Pancasila Kuat, Surabaya Hebat. Menurutnya, tema tersebut menjadi pengingat bahwa seluruh proses pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. “Tema Pancasila Kuat Surabaya Hebat, mengingatkan kita bahwa kemajuan kota harus berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Armuji juga memaparkan sejumlah indikator pembangunan yang berhasil dicapai Surabaya. Di sektor kesehatan, Pemkot Surabaya terus memperkuat layanan kesehatan melalui tiga rumah sakit umum daerah, program satu RW satu tenaga kesehatan, satu ambulan satu puskesmas, integrasi layanan primer di 153 kelurahan, hingga 2.191 Posyandu Keluarga. “Upaya ini membawa indeks pembangunan manusia (IPM) Kota Surabaya mencapai 85,65 persen sebagai yang tertinggi di Provinsi Jawa Timur,” terang Armuji.
Di samping itu, prevalensi stunting di Kota Surabaya juga terus mengalami penurunan hingga mencapai 0,59 persen pada 2025. “Hingga tahun 2025, prevalensi stunting kita telah mencapai 0,59 persen,” ungkap Armuji.
Pada sektor pendidikan, Pemkot Surabaya terus memperluas akses pendidikan 13 tahun bagi seluruh anak tanpa terkendala kondisi ekonomi keluarga. Pemkot juga memperkuat program beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa serta pendidikan inklusif bagi anak difabel melalui empat Rumah Anak Prestasi (RAP). Pemberian beasiswa pemuda tangguh diberikan kepada 16.801 siswa SMA, SMK, MA serta 5.874 mahasiswa,” kata dia.
Ke depan, Armuji memastikan Pemkot Surabaya akan memprioritaskan akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga miskin sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendidikan.(dan)
