
Sampang, NEODEMOKRASI.COM – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung menyalurkan bantuan air bersih dan bagikan sembako kepada masyarakat yang terdampak kekeringan di Kabupaten Sampang. Bantuan disalurkan di Desa Kedungdung, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Kamis (17/9).
Sebanyak 951 kepala keluarga atau 4.254 jiwa menerima bantuan air bersih yang disalurkan menggunakan dua truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Selain itu, Pemprov Jawa Timur juga menyerahkan tiga tandon, dua tandon lipat dan 100 jerigen kepada masyarakat untuk membantu penyimpanan serta pemenuhan kebutuhan air sehari-hari.
Gubernur Khofifah mengatakan, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur per 16 September 2026, sebanyak 24 kabupaten-kota telah menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan melalui surat keputusan masing-masing daerah.
Dari jumlah tersebut, 22 kabupaten telah mendapatkan dropping air bersih sebagai bentuk intervensi pemerintah. Menurut Khofifah, langkah Pemprov Jatim diberikan untuk memperkuat penanganan yang telah dilakukan pemerintah kabupaten-kota.
“Ini ada 24 kabupaten-kota di Jawa Timur yang sudah menerbitkan SK kedaruratan karena kekeringan. Dan masing-masing kabupaten-kota sudah mengintervensi kebutuhan air bersihnya. Jadi kehadiran pemprov ini sifatnya menyubstitusi, komplementaritas, menguatkan, dan melapisi dari yang sudah dilakukan oleh kabupaten-kota,” katanya.
Pemprov Jawa Timur, lanjut Khofifah, tidak hanya mengandalkan dropping air sebagai solusi jangka pendek. Upaya mendapatkan sumber air yang lebih permanen juga terus dilakukan melalui pengeboran di sejumlah titik, termasuk dalam rangkaian upaya penanganan kekeringan di Pulau Madura.
Namun, pencarian sumber air tidak selalu mudah. Kondisi geologi di sejumlah lokasi menjadi tantangan tersendiri karena pengeboran harus menembus lapisan batuan pada kedalaman tertentu.
“Sebetulnya ini kan sedang ada Karya Bakti TNI skala besar se-Pulau Madura. Untuk bisa diidentifikasi, harus dibor dengan kedalaman tertentu dan itu juga harus dimaksimalkan. Ada satu titik, memang tidak di Sampang dibor sampai 200 meter masih ketemu batu. Sudah ada 19 mata bor yang putus,” jelasnya.
Kondisi tersebut, kata Khofifah, menunjukkan bahwa penyediaan sumber air permanen membutuhkan pemetaan dan kajian yang cermat. Pemerintah perlu memastikan titik yang dipilih benar-benar memiliki potensi sumber air yang memadai sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang.
“Artinya, betapa memang di titik tertentu itu relatif kita butuh ikhtiar untuk bisa mendapatkan sumber air. Jadi mungkin kalau dideteksi ada sumber-sumber air terdekat, itu bisa. Karena kita juga melakukan pendeteksian di banyak tempat di mana sumber air yang cukup, itu bisa ditarik sampai 17 kilometer,” katanya.
Selain pengeboran, pembangunan embung maupun waduk juga menjadi salah satu opsi untuk memperkuat ketersediaan air. Namun, rencana tersebut masih membutuhkan asesmen untuk menentukan lokasi yang paling tepat dan memiliki potensi optimal.(dan)
