Neo-Demokrasi
Politik Pemerintahan

Gus Iwan : Pemimpin Terpilih di Muktamar NU ke 35 Harus Mempinyai Visi yang Kuat untuk Membangun NU dan Indonesia”

DR Iwan Zunaih, anggota.a Komisi A DPRD Jatim
Surabaya.NEO DEMOKRASI.COM.–Dinamika pemilihan jajaran pemimpin tertinggi di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  masih terus berlangsung. Secara umum, mekanisme pemilihan  mengalami perubahan besar.  Di forum Sidang Pleno III Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Gedung Serbaguna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebanyak 73 persen muktamirin secara resmi menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU untuk masa bakti 2026–2031.

Melalui proses penghitungan voting yang rampung pada Ahad (30/6/2026) dini hari, mayoritas utusan cabang dan wilayah memilih untuk menghentikan model pemilihan langsung oleh muktamirin.
Sebagai gantinya, penetapan Ketua Umum PBNU kini dikembalikan melalui mekanisme penunjukan dan keputusan tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bersama kiai-kiai sepuh.

Meski esensi perubahan sistem pemilihan telah disepakati oleh 73 persen muktamirin, perincian tata tertib (tatib) pemilihan secara formal baru disahkan pada rapat pleno lanjutan.
Prof Muhammad Nuh menegaskan bahwa penyesuaian jadwal pembahasan tatib tidak akan mengganggu keseluruhan jalannya Muktamar ke-35 NU. Pihaknya optimistis agenda puncak perhelatan tertinggi Nahdlatul Ulama ini tetap berjalan sesuai batas waktu yang dijadwalkan, yakni 27 hingga 31 Agustus 2026.

Sementata itu Dr Iwan Achmad Zunaih yang akrab dipanggik Gus Iwan mengatakan bahwa NU harus tetap memberikan kemanfaatan kepada sosial, kepada ekonomi masyarakat, khususnya kepada umat  Nahdlatul Ulama itu sendiri.

Menurutnya NU tidak bisa dibandingkan aple to aple dengan Muhammadiyah, karena memang  core  beda.   Ada banyak perbedaan mendasar antara kedua organisasi Islam tersrbut.

“Jadi sebenarnya NU sama Muhammadiyah, ayo kita fastabil khairut, artinya saling-saling berlomba-lomba.  Tentunya kita juga memiliki istilah keistimewaan kita masing-masing. Fokus kepada keistimewaan kita masing-masing, ayo kita bangun Indonesia itu melalui ketidakbersamaan. Artinya ketidakbersamaan itu berbeda-beda monggo, tetapi tujuan kita harus kita satukan. ” kata sekretaris fraksi Nasdem DPRD Provinsi Jatim ini.

Lebih jauh disampaikannya bagaimana membangun masyarakat Indonesia ini biar lebih baik dan lebih baik lagi.  Kalau umpamanya wakamah dia lebih fokus kepada kemodernisan dari segi ekonomi, daan pendidikan, kesehatan  dan lol seluruh aspek Kok dianggap NU kurang dalam hal itu sebenarnya enggak Karena NU itu memang fokusnya beda.

“Memang ada roadmap secara bersama-sama secara nasional ini ini nanti mudah-mudahan aja setelah apa namanya Muktamar ini terbentuk kepengurusan yang nanti sinergi antara NU dengan Muhammadiyah itu ada jadi tidak hanya membangun rumah tangganya masing-masing tetapi ada membangun sinergitas yang kuat antara ormas-ormas yang ada di Indonesia ini untuk menciptakan masyarakat Indonesia itu bisa lebih baik dan lebih baik lagi karena masing-masing ormas pasti memiliki satu keistimewaan masing-masing lagi karena masing-masing dan punya ciri khas masing-masing dan punya keunggulan. ” tambah anggota Komisi A DPRD Jatim ini.

” Ada semangat dari NU itu untuk bagaimana menciptakan ekonomi masyarakatnya biar lebih baik dan lebih baik lagi.  yang kedua ya terkait masalah sosial kemasyarakatan, NU dari dulu itu memang lebih fokus kepada sosial kemasyarakatan ini. Tradisi tradisional itu harus dihapuskan tapi bukan berarti tradisional harus meninggalkan modernitas tidak, tapi apa Jadi ada semacam itu,
Al-Muhafazhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” , itu adalah konsepnya NU. apa yang menjadi sesuatu yang baik pada saat ini itu tetap kita pertahankan tetapi kita jangan sampai melupakan apa yang terbaik dan lebih baik lagi itu juga harus kita ambil .

Harapannya yang terpilih jadi ketua nanti tentunya harus mendapat dukungan mayoritas, memang dinamika sebuah organisasi ya, kalau kita mengatakan atau kita berharapnya itu suara maksimal mayoritas. Ya kita nggak bisa memaksakan seperti itu. Karena apa? Karena memang ya harus kita florkan siapa milih siapa itu tidak ada batasan gitu kan. Itu tadi tentunya ya kita ngambil dengan al-akhlabiyah Jadi sesuatu yang sifatnya itu lebih-lebih besar Lebih banyak itu nanti kita ambil Tapi kalau kita berharapnya itu umpamanya semuanya sepakat atau mayoritas daripada kita mayoritas gak mungkin gak mungkin dan kita juga gak boleh juga berharapnya seperti itu memang soalnya orang itu masing-masing .

“Figur ketokohan mutlak yang harus dimiliki pemimpin yang terpilih di Muktamar 35 ini siapapun nanti yang terpilih itu memiliki visi yang cukup kuat, visi yang cukup kuat untuk membangun kembali NU. Membangun kembali NO, dari mulai atas sampai ke bawah mampu istilahnya berkomunikasi dengan pihak atas, berkomunikasi dengan pihak samping juga sekaligus mampu. Jangan sampai nanti siapapun yang terpilih untuk menjadi pimpinan NU nanti itu merupakan, apa ya istilahnya itu, sesuatu yang sifatnya itu ada di awang-awang gitu, awang-awang artinya tidak menyentuh sampai ke masyarakat bahwa tidak membumi, ya itu harapan kita itu seperti itu.” jelasnya.

Pimpinan harus menghubungi, karena apa? Sekali lagi bahwa NU itu nanti akan lebih fokus kepada apa? Ayo kita bangun sekarang sosial ke masyarakat kita. Dan terkait masalah ekonomi juga seperti itu adalah ekonomi masyarakat itu harus kita kembangkan, bukan ekonomi-ekonomi yang sifatnya itu hanya segelintir orang.*

 

Related posts

RT-RW Dilibatkan dalam Razia Kos-kosan dan Kontrakan

Rizki

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo Mengucapkan Selamat HUT 167 Sidoarjo

neodemokrasi

Fitur Pintar New Peugeot 5008 Allure saat Hujan

Rizki