
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pemkot Surabaya mengintensifkan edukasi kepada orang tua dan anak sebagai langkah mencegah paparan ideologi kekerasan ekstrem di ruang digital. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan literasi digital di sekolah, pendampingan keluarga, serta kolaborasi dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror (AT) Polri.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya Febrina Kusumawati mengatakan, sekolah memiliki peran penting dalam membekali siswa agar mampu mengenali dan menghindari konten berbahaya saat mengakses media digital.
Menurutnya, kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam selama kegiatan belajar mengajar juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi mengenai penggunaan media sosial yang sehat dan aman.
“Di sekolah itu kita beri pembekalan. Termasuk ketika di rumah (main) media sosial, segala macam (informasi) ini loh yang harus dihindari. Kalau ada situs-situs mengajak begini (negatif), harus hindari dan segala macam,” ujar Febri, Jumat (10/7).
Meski demikian, Febri menegaskan pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Menurutnya, keluarga menjadi benteng utama karena anak-anak lebih banyak menggunakan perangkat digital saat berada di rumah. “Kalau sudah di rumah yang menjaga kan lingkungan dan para orang tua. Jadi, para orang tua juga saya minta tolong semuanya. Ini zaman sudah begini (berubah), begitu gampang dan begitu masifnya informasi masuk semua ke anak-anak,” katanya.
Ia mengingatkan rasa ingin tahu yang awalnya hanya sebatas mencoba dapat berkembang menjadi ketertarikan terhadap paham yang membahayakan apabila tidak diawasi sejak dini. “Nah, coba-coba kan ya, gak enak keluar. Tapi kalau sudah coba-coba, ternyata dia tertarik untuk melakukan pendalaman, wah gawat itu,” tuturnya.
Febri mengungkapkan, Densus 88 pada tahun 2025 pernah menyampaikan adanya sejumlah kasus anak di luar Surabaya yang telah terpapar ideologi ekstrem hingga berada pada tahap mengkhawatirkan. “Nanti takutnya juga seperti yang disampaikan Densus, ternyata ada beberapa anak bukan di sini (Surabaya) itu yang sudah siap melakukan eksekusi atas timnya itu tadi,” ungkap dia.
Karena itu, Dispendik Surabaya juga memperkuat pendidikan karakter dan pendidikan agama sebagai fondasi untuk membangun daya tahan anak terhadap berbagai pengaruh negatif.
Selain memperkuat pendidikan karakter, Febri menyebut bahwa Pemkot Surabaya juga menggandeng Densus 88, Badan Narkotika Nasional (BNN), hingga Polisi Siber untuk memberikan edukasi secara berkala kepada para pelajar mengenai ancaman ideologi ekstrem di ruang digital.(dan
