Neo-Demokrasi
Politik Pemerintahan

H Deni Prasetya: “Tidak Perlu Lahan Tebu yang Luas , Tapi Bagaimana Nilai Produksinya Tinggi”

H Deni Prasetya, Politisi Nasdem DPRD Provinsi Jatim

Surabaya. NEODEMOKRSI. COM. H Deni Prasetya, anggota Komisi B, DPRD Provinsi Jatim mengatakan bahwa  sudah  saatnya  pemerintah ikut hadir dalam mendukung optimalisasi produksi gula guna mendukung tercapainya target swasembada gula yang divannagkan pemerintah pada 2028. Baik dalam bentuk mengfasilitasi akses permodalan, bantuan pupuk atau menghadirkan program penyuluhan bagi para petanii tebu. Targetnya,  optimalisasi tanaman tebu sehingga mampu menghasilkan produk gula  yang meninggkat dengan jumlah rendemen yang tinggi.

“Kalau berdasarkan hitungan kalkulasi awal itu kan memang sudah cukup, sudah mampulah Jawa Timur ini. Tapi kita tidak tahu nanti dalam perjalanannya apakah produksi tetap maksimal atau tidak, karena ada konflik beberapa lahan  perkebulan tebu. Ya, dalam konteks ketaahanan pangan, swasembada gula.  Tentu menjadi pemikiran kita bersama juga di wilayah Jawa Timur dalam konteks  seperti  kita ketahui  swasembada gula yang ada di Jawa Timur iini mampu diwujutkan” kata Deni prasetnya.

“Tentu juga perlu ada rumusan yang jelas dan yang serius juga. Kenapa seperti itu? Paling tidak ini kan ada peningkatan ekonomi juga di masyarakat, di petani. Untuk swasembada juga, nah tentu di situ juga harus ada kehadiran juga dari pemerintah terkait dengan misalkan permodalan, terus pembibitan, bibit yang unggul, serta menjadi penunjang. untuk mengarah nanti ke rendemen sekaligus ini kan kalau lihat posisi ataupun mesin atau pabrik itu kan sudah masih mesin lama.  Nah, itu juga ada dicek kembali, agar paling tidak mengetahui kemampuan produksinya. Sekaligus juga agar petani tebu itu juga tidak merasa apa sudah merasa  berharap  dari lahannya itu bagus  tapi  setelah digiling rendemen yang keluar rendah jadi kan mengecewakan penanam tebu”tambahnya.

” Kita harus tahu bahwa nasib petani  tebui tidak semanis gula tebu, jangan sampai nantinya seperti itu   Ini juga perlu dipiikirkan sekaligus terkait  lahan misalkan , perlu difikirkan juga, atau pemerintah daerah, semacam tata ruang di kabupaten kota, itu juga,  mana letak yang harus ditanami terkait dengan padi, jagung, tebu, atau tanaman lain. Kalau misalkan di perhutani, ini potensinya seperti apa? Karena perhutani itu pun juga lahan daerah yang harus ekologinya itu harus dijaga juga.” jelas politisi Nadem DPRD Jatim ini.

Menurutnya, ekosistemnya juga perlu dijaga juga karena ada beberapa hewan yang tidak harus dipunahkan. Tidak hanya mencdukung terjadinya  kesimbangan alam saja. Tapi dengan adanya penanaman tersebut kan selalu ada ekosistem, ada interaksi, ada pergerakan di situ sekaligus nanti merasa ini hewan-hewan itu,  terancam.  hal hal yang  bisa merusak ekosistem jug a perlu diperkirakan.

lebih jauh dijelaskannya, bahwa untuk mewujutkan tercapainya swasembada gula pada 2026  membutuhkan adanya kesemua rangkaian mulai dari hadirnya pemerintah, pendampingan ke petani tebu, program  penyuluhan-penyuluhan. terus modernisasi mesin pabrik gula yang  hari ini menjadi tuntutan. Peralatan-peralatan yang modern seperti traktor, seperti bagaimana cara untuk ngelentek  gulut, yangi juga mengarah kepada modernisasi. Persoalan lahan yang banyak mulai tergerus oleh perumahan-perumahan baru itu sedikit banyak akan mengurangi keluasan sawah tebu. Jadinya dampaknya itu akan sedikit banyak mengurangi jumlah produksi gula karena jumlah tanah panen yang tidak sebanyak sebelumnya. Ya, jadi ukurannya ini kan bukan hanya memperluas lahan, tetapi bagaimana untuk mencari nilai produksi kan. Jadi, oke luas lahannya misalkan 10 hektare, tapi nilai produksinya kecil. Nah ini kan juga buang-buang lahan juga.

“Buang-buang lahan juga kualitas tebu. Jadi bagimana memikirkan supaya  nilai produksinya itu bisa besar. . Program pendampingan, upaya mampu  meningkatan jumlah produksi, Banyak hal yang harus dituntaskan. Misalkan,  petani butuh pupuk, itu kan juga butuh modal. Oh petani butuh bibit yang unggul, ini pun juga butuh modal. Jangan sampai petani tebu itu juga tanamanya pun juga tidak ada pendampingan, tidak ada penyuluhan, jadi sumbrono juga. Nah ini kan juga kasihan juga, kasihan bagi petani. Jadi tidak perlu mengejar lahan yang luas ya, tapi bagaimana untuk mengejar nilai produksinya ini.” pungkasnya.(nora)

Related posts

Ratusan Petugas Parkir Belum Perpanjang KTA

Rizki

Pondok Pesantren Perlu Dipersiapkan Menghadapi New Normal

neodemokrasi

Syukur Raih WBK, Lapas Surabaya Santuni 50 Anak Yatim

Rizki