Neo-Demokrasi
Headline Kesra

Pakan Nano Plus Meniran Bikin Bebek Entok Sepande Lebih Produktif dan Ramah Lingkungan

Kegiatan program pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

Sidoarjo, NEODEMOKRASI.COM – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) ikut mendukung peternak bebek entok dengan teknologi pakan fermentasi plus nano ekstrak meniran. Teknologi ini membikin ternak lebih sehat dan bau kandang berkurang drastis melalui program pengabdian di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (5/8) tersebut melibatkan peserta yang terdiri dari 20 peternak bebek entok. Desa Sepande di Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan tersebut kini menjadi pusat perhatian berkat inovasi cerdas yang mengubah wajah peternakan bebek entok di wilayah tersebut.

Para peternak yang tergabung dalam Gapoktan Maju Jaya berhasil mengatasi dua masalah klasik sekaligus. Yakni tingginya biaya pakan dan bau limbah ternak yang mengganggu lingkungan sekitar. Solusi yang diterapkan bukan sekadar perubahan biasa. Hal ini berkat teknologi pakan fermentasi konsentrat dengan tambahan feed additive nano ekstrak meniran berhasil diterapkan. Inovasi ini membawa angin segar bagi peternak dan lingkungan.

Pakan konsentrat ini dibuat dari bahan lokal yang melimpah. Seperti dedak padi, ampas tahu, dan limbah sayuran yang difermentasi guna meningkatkan nilai gizi dan mudah dicerna oleh bebek entok. Yang membuatnya istimewa adalah penambahan nano ekstrak meniran (Phyllanthus niruri). Yaitu ekstrak herbal yang diproses dengan teknologi nano sehingga kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, terpenoid dan taninnya mudah diserap.

Ekstrak meniran sendiri dikenal karena khasiatnya mendongkrak sistem imun dan menekan bakteri penyebab bau pada kotoran ternak. Dengan teknologi nano, khasiat ini jadi lebih optimal sehingga bebek entok tidak hanya tumbuh lebih sehat, tapi juga lingkungan kandang menjadi lebih segar dan bersih.

Kepala Desa Sepande Hadi Santoso berharap program ini melalui penerapan teknologi pakan konsentrat fermentasi dengan nano ekstrak meniran ini, produktivitas bebek entok di desa dapat meningkat signifikan, sehingga turut memperkuat ketahanan pangan lokal. Dengan efisiensi pakan yang lebih baik dan pengurangan bau limbah, usaha peternakan menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Hal ini diharapkan mendorong peningkatan pendapatan peternak, memperkuat ekonomi desa, serta menjamin ketersediaan pangan hewani yang berkualitas bagi masyarakat setempat. Program ini juga dianggap sebagai langkah strategis dalam menciptakan sistem pertanian dan peternakan yang mandiri dan tahan terhadap tekanan kebutuhan pangan masa depan.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari  Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes., menyebutkan, setelah penerapan pakan nano-meniran, biaya pakan bisa ditekan dan bau kotoran berkurang. Ini keuntungan ganda yang sangat berarti bagi peternak.

”Tak hanya itu, penggunaan teknologi ini juga meningkatkan produktivitas daging, memberikan peluang pendapatan baru dan memperkuat ekonomi lokal,” jelasnya.

Sedangkan  Prof. Dr. Ir. Sri Hidanah MS menambahkan bahwa memberian pakan pada bebek entok, yang penting adalah keseimbangan nutrisinya. Kalau banyak tapi nutrisinya tidak memadai, ya tidak baik untuk pertumbuhan.  Bebek entok seperti hewan lainnya punya kebutuhan standar karbohidrat, protein, mineral dan vitamin.

Pemberiannya juga tergantung dengan fase-fasenya karena kebutuhannya berbeda-beda. Bebek entok ini bisa mengerami telurnya sendiri, jadi jangan semuanya dipotong, beberapa tetap dipelihara agar ada kontinuitas produksi agar bisa bertelur dan mengerami. Yang membedakan bebek biasa dengan bebek entok adalah sifat mengeramnya.  Bebek biasa tidak punya sifat mengerami sementara bebek entok punya sifat mengerami telurnya. Pemeliharaannya sendiri masih sama.

Sementara itu,  Dr.Gracia Angelina Hendarti, Drh., M.Si., mengatakan, bebek entok secara fisik lebih besar dibandingkan dengan bebek biasa. Komposisi daging bebek entok lebih padat dibandingkan daging bebek biasa, proteinnya lebih tinggi dan kolesterolnya lebih rendah, vitamin B1 dan B2 lebih tinggi, kalsium dan fosfor juga lebih tinggi.

Program ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat. Para peternak mendapatkan pelatihan intensif tentang bagaimana membuat pakan konsentrat fermentasi plus nano meniran dalam bentuk pellet, cara pemberian pakan yang benar, serta pengelolaan limbah ternak agar tidak mencemari lingkungan.

Inovasi pakan nano-meniran di Desa Sepande menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana tetapi tepat guna dapat memecahkan masalah mendasar di peternakan unggas. Produktivitas meningkat, lingkungan lebih sehat, dan kesejahteraan peternak pun membaik.

Inovasi ini bukan hanya berharap menular di Desa Sepande, tapi juga bisa menjadi inspirasi desa lain. Bahkan daerah lain di Indonesia, dalam mengelola peternakan dengan cara yang lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.

Inovasi seperti ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan, membawa manfaat nyata sekaligus menjaga alam. Pakan nano-meniran adalah rahasia di balik keberhasilan bebek entok Sepande yang kini lebih produktif dan lingkungan yang lebih nyaman.(dan)

Related posts

Motor Korban Pencurian Ditemukan di Sungai Desa Durungbanjar

Rizki

Semen Indonesia Berikan Pelatihan Menjahit dan Beternak

Rizki

Bea Cukai Sidoarjo Musnahkan Rokok Ilegal Rp 5,6 Miliar

Rizki