
Kediri. NEO DEMOKRASI.COM. Khusnul Arif, S.Sos, anggota Komisi D DPRD Provinsi Jatim, yang berangkat dari dapil Jatim VIII meliputi kota dan kabupaten Kediri, menggelar reses di 6 titik wilayah kabupaten Kediri pada 17-24 November 2025. Reses merupakan bagian dari kegiatan anggota DPRD untuk mengunjungi ke daerah pemilihannya guna menyerap dan menghimpun aspirasi yang merupakan tugas dan kewajiban konstitusional untuk menjalankan fungsi perwakilan, serta memberikan pertanggungjawaban moral dan politis kepada konstituen. Selain menjalankan fungsi pengawasan dan memberikan pertanggungjawaban moral dan politis kepada masyarakat di dapil dan berinteraksi langsung dengan konstituennya.
“Satu hari satu titik, tapi meskipun ada yang kami gabungkan satu hari lebih dari satu titik kan tidak mengurangi esensi dari pelaksanaan kegiatan. Jadi kita bahasanya adalah bahwa kami melakukan reses di 6 titik yang masing masing titik ada di wilayah di kabupaten Kediri semua. ” ujarnya.
Titik pertama reses lokasinya ada di kecamatan Mojo bersama LP3MT Lembaga Pendamping Program Pondok Pesantren, madin, TPQ dan TPA sekabupaten Kediri. Aspirasi yang masuk di sana terkait harapan besar menjadi atau mengambil bagian memperhatikan nasib para guru madin. memberikan insentif atau bisyaroh untuk guru madin, TPQ maupun TPA.
“Meskipun ada program BOSDA yang sudah pernah berjalan, harapannya ada keberlanjutan program tersebut, agar lebih masif lagi, lebih besar lagi. Sehingga harapan guru madin sebagai pencetak ahlakul karimah, ini betul-betul bisa. berseiringan dengan anggaran,” jelasnya.
“Di titik berikutnya ada di Gurah dengan lembaga pimpinan daerah Aisiyah Muhammadiyah sekabupaten Kediri. Ada banyak aspirasi. PDA (Pimpinan Daerah Aisyiah) dan yang Mojo , jadi selain dengan dukungan beberapa kegiatan PDA, karena yang hadir juga merupakan tokoh masyaraka. Kemarin kami mengupas tuntas juga terkait dengan kendala pengelolaan sampah yang ada di Kabupaten Kediri, tepatnya yang ada di Desa Sekoto, kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.” jelasmya.
Bahwa ada beberapa hal, seperti di Gurah ada madrasah yang lokasinya berdekatan dengan lokasi sampah yang sedikit banyak pasti terganggu. Tidak hanya soal tumpukan sampah, tetapi ketika musim hujan menimbulkan bau tidak sedap.
“Kami di provinsi tentunya akan terus berkomunikasi dengan pemerintah daerah terkait dengan upaya mencarikan solusi, upaya-upaya baik sehingga persoalan sampah yang ada di seluruh kabupaten termasuk Kedirii adalah progres untuk jauh lebih baik lagi selain kita bicara sampah regional. ” tambahnya.
Reses titik berikutnya dengan mengajak kerja sama Ormas Muhammadiyah PDM (Pengurus Daerah Muhammadiyah) sekabupaten Kediri. Pelaksanaan acara di Gedung Dakwah Muhammadiyah Gurah. Beberapa aspirasi yang berhasil dijaring yakni terkait dengan traffic light, lampu penerangan jalan yang mati yang sudah saatnya perlu dilakukan perbaikan maupun peremajaan.
Di titik keempat yang mengambil lokasi reses di Balai Desa Gedang Sewu, Pare, banyak aspirasi yang menyuarakan kondisi jalan yang rusak dan semakin parah apalagi di musim hujan, perlu segera diperbaiki. Ditambah drainase yang kurang optimal.
Dan di titik kelima dilakukan di Desa Gurah, kecamatan Gurah yang dihadiri perangkat desa, masyarakat dan tokoh masyarakat. Mereka mengeluhkan kondisi jalan-jalan desa yang rusak. Baik terkait dengan jalan kampung, jalan penghubung desa yang mengalami kerusakan yang parah.
“Titik terakhir di desa Plaosan, Balai Desa Plaosan kecamatan Wates. Dominasi terkait dengan permohonan support dari gapoktan dan poktan, terkait dengan alsintan dan irigas secara umum. ” pungkasnya. (nora)
