
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Kota Surabaya mengalami deflasi sebesar -0,16 persen secara Month to Month (m-to-m) dan Year to Date (y-to-d) pada Januari 2026. Sedangkan tingkat inflasi Kota Surabaya secara Year on Year (y-on-y) berada di angka 3,54 persen pada Januari 2026.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan, komoditas penyumbang inflasi terbesar di Januari 2026. Di antaranya emas perhiasan sebesar 0,19 persen, nasi dengan lauk 0,03 persen, cumi-cumi 0,01 persen, laptop atau notebook 0,01 persen, dan semangka 0,01 persen.
Sedangkan komoditas penyumbang deflasi terbesar di Kota Surabaya pada Januari 2026 adalah angkutan udara sebesar -0,10 persen, cabai rawit -0,09 persen, daging ayam ras -0,08 persen, bawang merah -0,06 persen, dan cabai merah -0,04 persen.
“Kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya juga menjadi penyumbang andil inflasi tertinggi di Januari 2026 sebesar 0,19 persen. Disamping itu, komoditas emas perhiasan juga sebagai penyumbang tertingginya sebesar 0,19 persen,” kata Vykka, Rabu (4/2) lalu.
Vykka menyebutkan, meskipun terjadi deflasi, Pemklot Surabaya akan terus melakukan berbagai upaya strategis untuk menekan inflasi di Kota Surabaya. Terutama, langkah ini dilakukan untuk menekan inflasi jelang bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun 2026.
Langkah awal yang dilakukan di antaranya Pemkot Surabaya akan menggelar pasar murah yang dilaksanakan selama sembilan hari dan dua hari secara serentak pada 25 Februari dan 5 Maret 2026. Tidak hanya itu, pemkot juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 10-13 Februari dan 4-11 Maret 2026.
Selain menggelar Pasar Murah dan GPM, pemkot juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga dan ketersediaan bahan pokok di pasar tradisional, toko swalayan dan gudang atau distributor. Rencananya, sidak tersebut akan dilakukan mulai 11 Februari dan 12 Maret 2026.
Agar inflasi dapat terus ditekan, pemkot melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga menggerakkan Kios TPID yang ada di berbagai lokasi, diantaranya Pasar Genteng Baru, Pasar Tambahrejo, Pasar Karah, Pasar Gubeng Masjid dan Pasar Balongsari. Adapun komoditas yang dijual di Kios TPID antara lain ada beras, gula, dan minyak.
Dalam hal ini, Vykka mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi daerah. Menurutnya, partisipasi warga sangat penting dalam menekan laju inflasi di Kota Surabaya. “Jadi bisa dimulai dari berbelanja bahan pokok secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian bahan pokok secara berlebihan atau panic buying,” imbaunya.(dan)
