Neo-Demokrasi
Headline Kesra Umum

Inovasi Fermentasi dan Nano Meniran Dorong Kemandirian Peternak Bebek di Desa Kebonsari Sidoarjo

Foto bersama para narasumber dengan peserta Program Transformasi Teknologi Inovatif (PTTI).

Sidoarjo, NEODEMOKRASI.COM – Program Transformasi Teknologi Inovatif (PTTI) kembali menghadirkan terobosan di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang dipimpin oleh Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes, Tim Universitas Airlangga (Unair) memperkenalkan teknologi fermentasi pakan dan nano ekstrak meniran sebagai solusi peningkatan produktivitas bebek petelur lokal.

Inovasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan peternak akan pakan berkualitas tinggi yang lebih ekonomis. Teknologi fermentasi yang dipadukan nano ekstrak meniran diyakini mampu meningkatkan kesehatan, imunitas, serta produksi telur bebek Mojosari, yang menjadi komoditas utama Desa Kebonsari.

Kepala Desa Kebonsari Chusaini menyampaikan bahwa upaya ini sejalan dengan misi desa dalam memperkuat ketahanan pangan dan memberdayakan ekonomi masyarakat. “Kami berharap inovasi ini memberi dampak nyata. Apalagi peternak di sini sedang menghadapi penurunan minat pasar,” ujarnya.

Desa Kebonsari dikenal sebagai sentra bebek petelur, dengan sebagian besar warganya bergantung pada sektor ini. Program pendampingan melibatkan Kelompok Ternak Bebek Sumber Pangan, BUMDes Trampil Sejahtera, serta tim dari FKH dan FEB Universitas Airlangga.

Tim Universitas Airlangga (Unair) memperkenalkan teknologi fermentasi pakan dan nano ekstrak meniran sebagai solusi peningkatan produktivitas bebek petelur lokal.

Sebanyak 30 peternak, yang rata-rata memelihara 500–5000 ekor bebek, mengikuti pelatihan secara langsung. Saat ini peternak tengah menghadapi tantangan rendahnya produksi. Selain itu, ketergantungan pada pakan pabrik membuat biaya produksi semakin tinggi.

Sebagai narasumber, Prof. Dr. Ir. Sri Hidanah, MS menjelaskan bahwa teknologi fermentasi dapat memanfaatkan bahan lokal seperti kulit kupang, kepala udang, dan limbah makanan sebagai sumber protein dan omega-3 yang lebih murah. “Dipadukan dengan nano ekstrak meniran, hasilnya jauh lebih optimal. Ternak lebih sehat dan produktif,” jelasnya.

Tim FKH juga memperkenalkan mesin pellet 200–500 kg/jam, memberikan pelatihan pembuatan pakan fermentasi, penggunaan probiotik, serta penguatan manajemen produksi. Pelatihan praktis dilaksanakan di kandang milik peternak lokal, Syahroni. Para peserta aktif berdiskusi dan mencoba langsung teknologi baru tersebut.

Program ini menggunakan teknologi yang telah dipatenkan melalui IDP000083809, terbukti meningkatkan kesehatan ternak, menurunkan mortalitas, serta meningkatkan produksi telur. Target program adalah meningkatkan produksi. Penguatan kapasitas usaha dan control kualitas turut diberikan sebagai langkah mendorong daya saing produk lokal.

Program dilaksanakan melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, implementasi teknologi, hingga monitoring dan evaluasi. Dengan inovasi ini, peternak Kebonsari diharapkan dapat menjadi produsen pakan mandiri, meningkatkan produksi secara berkelanjutan, dan mengukuhkan Kebonsari sebagai sentra bebek petelur unggulan di Sidoarjo.(dan)

Penulis: Emy Koestanti Sabdoningrum

Related posts

BRI BO Kertajaya Gelar Cek Kesehatan Gratis bagi Nasabah Pensiunan BRI

Rizki

Surabaya Kota Toleransi, Warga Jaga Harmoni Kebajikan

Rizki

Ada Tiga Titik Perayaan Tahun Baru di Surabaya

Rizki