Neo-Demokrasi
Headline Hukum dan kriminal

Pria Tewas di Dalam Rumah di Gubeng Kertajaya

Petugas mengevakuasi korban tewas yang sudah 2 hari.

Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Geger kampung di Jalan Gubeng Kertajaya II. Ditemukan seorang pria diketahui bernama Astomo (58), warga Jalan Gubeng Kertajaya II/ 38A dalam kondisi tak bernyawa. Jenazah dalam kondisi telanjang tergeletak di lantai kamar belakang rumahnya, Selasa (14/10), pukul 22.00 WIB.

Tewasnya Astomo diperkirakan sudah 2 hari sejak Minggu (12/10). Ternyata rumah tidak dalam keadaan kosong. Astomo tinggal bersama sang ibu bernama Supriyani (80) yang juga saat itu dalam keadaan sakit.

Ditemukan adanya mayat bermula dari salah satu kecurigaan satpam yang berajaga. Satpam tersebut curiga karena sejak Senin (13/10) tidak ada aktivitas orang di dalam rumah. Lampu teras rumah padam selama 2 hari.

Hal itu diungkapkan Kanit Reskrim Polsek Gubeng Ipda Dwi Santuso, “Jadi yang melaporkan ke Polsek Gubeng adalah satpam kampung. Bermula curiga tidak ada aktivitas, lalu satpam itu membuka pintu rumah dan tercium bau bangkai. Setelah dicermati dari ruang tamu terlihat ada jasad tergeletak di lantai  kamar belakang,” ujarnya, Rabu (15/10).

Tim inafis Polrestabes Surabaya bersama PMI Surabaya dan Polsek Gubeng datang ke lokasi. Pemeriksaan kepada jenasah yang posisinya telanjang dan juga ditemukan obat obatan hipertensi (darah tinggi). Tubuh jenazah sudah membiru dan diperkirakan sudah tidak bernyawa selama 2 hari.

“Jadi inafis Polrestabes Surabaya dan  Polsek Gubeng datang ke lokasi awalnya mengetahui bahwa korban tinggal sendirian. Ternyata ada ibu kandung korban yang tinggal serumah. Saat menemukan jenazah sudah membusuk. Ibu korban (Supriyani) di pindah tempat sementara di rumah tetangga.  Kondisi tubuh jenazah tidak ditemukan adanya luka kriminalitas atau adanya kekerasan,” tutup Dwi Susanto.

Agustini (58), tetangga korban mengatakan bahwa selama ini korban tinggal bersama ibunya Supriyani di rumah. Astomo merupakan anak nomor dua dari Supriyani. Sedangkan istri Astomo tidak tinggal serumah, namun tinggal di Perum Permata Kwangsang Sidoarjo.

“Sepengetahuan warga sekitar bahwa Astomo ini tidak pernah sambat sakit karena rutinitasnya sebagai kordinator gowes atau bersepeda di kampung. Sedangkan ibunya yang sakit diabetes serta pikun. Mereka berdua (Astomo dan Supriyani) tinggal satu rumah. Sedangkan istrinya Astomo ada di Sidoarjo,” ujarnya Rabu (15/10) siang.

Saat ditemukan, Astomo tergeletak pada Selasa (14/10) malam. Warga mengevakuasi Supriyani yang ada di kamar depan. Kondisinya banyak kotoran besar di kasurnya. “ Ibu Supriyani juga sempat bertanya ke warga yang mengevakuasinya, aApakah yang di kamar tidur gak bangun-bangun itu Astomo? Dia bertanya begitu,” tambah Agustini.

Jenazah Astomo kini dimakamkan  di Sidaorjo. Sedangkan Supriyani dirawat di rumah istri Astono di Perum Permata Kwangsang Sidoarjo. Rumah tempat ditemukan jenazah saat itu kini masih digaris police line guna penyelidikan lebih lanjut.(dan)

Related posts

Sebelum Beton Jalan Tanjungsari, Prioritaskan Tangani Banjir

Rizki

Unusida Kenalkan Sistem Informasi Terpadu

Rizki

Kearifan Lokal Jadi Nilai Lebih di Side Events G20 Tahun 2022

Rizki