
Sidoarjo. NEODEMOKRASI. COM. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi besar besaran di beberapa wilayah industri di Indonesia. terus terjadi di sejumlah perusahaan di Sidoarjo. Kondisi yang terjadi dipicu ketidakseimbangan antara supply and demand. Terus menurunnya permintaan ( demand) mau tak mau beberapa perusahaan menurunkan jumlah produksi sehingga melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan.
Di wilayah Sidoarjo sendiri setidaknya ada sekitar 3-4 karyawan diPHK dalam sehatrnya. Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sidoarjo telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi ini. Guna mencegah terjadinya PHK massal, Disnaker Sidoarjo kini fokus pada program pemberdayaan mantan pekerja. Program tersebut dibuat agar mantan karyawan yang dirumahkan tetap produktif dan bisa mandiri secara ekonomi. termasuk salah satunya fasilitas akses permodlan.
Menurut wakil ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo, Warih Andono SH mengatakan pihaknya cukup prihatin dengan kondisi maraknya PHK akhir akhir ini. Artinya, banyaknya karyawan yang diPHK otomatis semakin menambah jumlah pengangguran di kabupaten Sidoarjo yang jumlah nya sempat menurun dibanding tahun lalu. Data data BPS Jatim mencatat hingga Agustus 2024 tercatat masih ada 76.063 orang nganggur di Sidoarjo ini terjadi karena Sidoarjo sebagai kota penyangga Ibu Kota Provinsi Jawa Timur (Surabaya) yang menjadi tujuan pendatang mencari pekerjaan. Juga dipicu pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Sidoarjo yang meningkatkan daya tawar pekerja dan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.
” itu lah kondisi saat ini. maka saat ini pada saatnya pemerintah daerah memberikan SDM yang cukup bukan untuk mencari lapangan pekerjaan tapi menciptakan lapangan pekerjaan. Dinas Tenaga Kerja sudah kami arahkan untuk menciptakan pelatihan2 dan sekaligus memberikan beberapa peralatan. Contoh pelatihan barista selesai pelatihan diberikan modal rombongnya dengan sepeda listrik dan pelatihan2 yang lainnya” ujar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo yang saat ini sedang melaksanakan ibadah haji ini.
Pihaknya juga menambahkan, bahwa semua ini bisa terjadi tergantung orangnya masing masing, apakah mau mengikuti program pelatihan keterampilan dan mau berkreasi dengan ketrampilan yang di dapat. Karena meskipun pemerintah sudah mengfasilitasi dan menyiapkan berbagai program pemberdayaan tapi kadang kemauan dari masyarakat yang kurang.
“Padahal mereka membutuhlan pekerjaan kalau hanya mengandalkan industri dan jadi karyawan industri ya usaha pemerintah jadi tidak kelihatan. Tidak ada hasilnya. ” tambahnya.
“Tapi yang jelas kami melihat sendiri dan menyaksikan dinas terkait sudah banyak memberikan pelatihan- pelatihan. Contohnya, Dinas Koperasi dengan pelatihan UMKMnya. Kemudian Disnaker dengan berbagai pelatihan keterampilan juga sudah dicurahkan. Tapi inti garis besarnya tergantung dari kemauan orangnya. Niat atau tida, serius atau tidak”, ujar politisi Golkar ini.
” Menurut saya usaha sendiri adalah lapangan pekerjaan yang menjajikan. Yang penting niat, niat, niat mau usaha, itu aja, kata kuncinya” pungkasnya. ( Nora)
