Neo-Demokrasi
Opini

Peningkatan Quality of Work Life (QWL) Pada Industri Kecil Klaster Lurik di Kabupaten Klaten

Dr. Rismawati,SE,MM

Kabupaten Klaten merupakan salah satu Kabupaten yang memajukan perekonomian pembangunannya melalui Usaha Kecil Menengah (UKM) dimana salah satunya adalah usaha dalam bidang tekstil, yaitu kain tenun lurik. Ciri pembuatan tenun lurik di wilayah ini adalah kain tenun lurik yang dibuat dengan menggunakan alat tradisional atau yang sering disebut dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin). Para pengrajin tenun lurik di Kabupaten Klaten mayoritas adalah kaum perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan cenderung lebih sabar, telaten dan teliti, sehingga cocok melakukan pekerjaan menenun kain lurik yang identik dengan kesabaran, ketelatenan dan ketelitian.

Perlu diketahui bahwa Klaten merupakan salah satu Kabupaten yang dapat dikatakan memiliki tanah yang subur dan letaknya dekat dengan Gunung Merapi, secara geografis letak kota Klaten ini diapit oleh dua kota besar bekas Kerajaan Mataram yaitu Yogyakarta dan Solo. Karena saking besarnya potensi dari kota tersebut yang mengapitnya maka tak jarang hal tersebut membuat Klaten hanya dianggap sebagai pupuk bawang atau menjadi daerah yang kurang diperuntungkan bagi kalangan wisatawan. Klaten ini konon berasal dari kata “Kelathi” (buah bibir) fakta ini menjadi menarik untuk diketahui penyebabnya. Berbicara mengenai tenun lurik di Indonesia hampir setua sejarah berdirinya bangsa kita ini. Klaten sekarang merupakan daerah yang menjadi pusat perhatian karena Kabupaten Klaten merupakan Ibukota. Kain tenun lurik di kota ini diolah dengan 2 cara yaitu ATBM (alat tenun bukan mesin) dan ATM (alat tenu mesin).

Pengrajin tenpun lurik kabupaten Klaten

Berbicara mengenai quality of work llife para pengrajin tenun lurik ini rata-rata sudah bukan lagi usia produktif lagi dan sebagian besar adalah kaum perempuan. Dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Bupati Klaten No.065/77/2010 yang mewajibkan PNS untuk mengenakan seragam lurik dua hari dalam sepekan diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat. Berdasarkan surat tersebut dapat pula meningkatkan penghasilan para pengrajin lurik, keberlangsungan lurik dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) dapat lestari, dan memberikan peluang usaha bagi para penjahit, konveksi, dan garmen untuk memproduksi pakaian-pakaian berbahan dasar tenun lurik. Peranan UMKM sangatlah penting karena UMKM berperan memberikan kontribusi untuk meningkatkan penghasilan para pengrajin, disamping itu persaingan ketat dalam aktivitas ekonomi pasar, UMKM secara bertahap berkembang menjadi kekuatan utama bagi pembangunan ekonomi, sosial dan nasional.

Berbicara mengenai quality of work llife merupakan filosofi dalam memperbaiki kualitas sumberdaya manusianya. Kualitas kehidupan kerja (Quality of Work Life – QWL) mengacu kepada lingkungan pekerjaan terkait dengan keperluan pribadi dan nilai pengrajin tersebut. Kualitas kehidupan kerja dan kinerja merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kualitas kehidupan kerja dapat terwujud apabila pengrajin mencapai tahapan efektivitas kerjanya. Terdapat 4 dimensi yang dijelaskan dalam kualitas kehidupan kerja yang diharapkan mampu memberi peningkatan dalam kinerja pengrajin itu sendiri, antara lain yaitu partisipasi dalam memecahkan masalah, sistem imbalan yang inovatif, perbaikan lingkungan kerja dan rekonstruksi kerja.

Melihat semangat kerja yang ditunjukkan oleh para pengrajin di kampung lurik sangat luar biasa walaupun pada dasarnya mereka sudah tidak sanggup lagi bekerja. Jika melihat dari quality of work life nya sebaiknya pemeritah fokus pada peningkatan kesejahteraan pengrajin tenun lurik yang bekerja pada tenun lurik tanpa menggunakan mesin. Faktanya bahwa walaupun pengrajin tersebut sudah tidak produktif lagi namun semangat untuk bekerja sangat besar dikarenakan sebagian dari pengrajin tidak ingin menjadi beban keluarga dan anak-anaknya, berapun besaran upah yang diterima tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap bekerja. Kata pepatah jawa yang diungkapkan oleh salah satu pengrajin tersebut “sing penting dapure ngebul” (artinya yang penting bisa untuk memasak di dapur). Dari pepatah tersebutu terdapat suatu pesan moral bahwa dalam kehidupan kita wajib berusaha untuk bekerja, mencari nafkah untuk keluarga berapaun besaran uspah yang diterima wajib untuk disyukuri hal ini tercermin drai para pengrajin tenun lurik di kabupaten Klaten.

Pengrajin tenun dalam sehari mereka harus menyelesaikan 10-15 meter dengan upah kerja Rp. 3.500,-/meter. Jika dihitung penghasilan mereka Rp. 35.000,- s/d Rp. 40.000,- pengrajin belum dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Belum adanya jaminan kerja, pemilik usahapun menerapkan sistem kekeluargaan, sebagai contoh apabila terdapat pengrajin yang sakit pemilik usaha serta rekan pengrajin bersama menjenguk dan memberikan rasa empatynya. Dari hal yang terjadi tersebut diatas dapat dilihat bahwa masih rendah kualitas kehidupan kerja di kawasan industri lurik ini.

Kualitas kehidupan kerja yang tampak terlihat pada industri kecil klaster lurik ATBM di Kabupaten Klaten ini pengrajin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari hari dikarenakan upah kerja yang diberikan tidak berbanding lurus dengan jerih payah, energi serta keuangan yang telah diberikan kepada para pengrajin tersebut sangat rendah. Begitu pula mengenai jaminan kesehatan, pemilik usaha hanya memberikan santunan apabila ada anggotanya yang sakit. Hal ini disebabkan karena sistem manajemen yang diberlakukan masih tradisional yaitu dengan menggunakan manajemen kekeluargaan, sehingga pengrajin tidak dapat menuntut hak sepenuhnya karena hubungan dengan pemilik usaha sangat baik seperti layaknya keluarga sendiri. Keterbatasan jaminan dan upah yang diberikan oleh pemilik usaha tidak menyurutkan semangat pengrajin dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dengan komunikasi yang baik dan rasa kekeluargaan yang tercipta diantara pengrajin dengan pemilk usaha membuat pengrajin justru lebih giat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Disini tampak ketidakpuasan pada pengrajin dalam bekerja.

Upah kerja yang didapat dari hasil menenun dalam sehari sekitar Rp. 30.000,- sampai dengan Rp. 40.000 per hari dengan konsekuensi pengrajin harus menyelesaikan pekerjaannya 12 sampai dengan 15 meter perhari. Apabila target tidak dapat diselesaikan maka upah yang didapat pasti akan lebih rendah dari target yang sudah ditentukan. Faktor penyebab tidak nyatanya (tidak signifikannya) pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap kepuasan kerja diakibatkan karena rendahnya dorongan yang timbul dari dalam diri individu dalam bekerja yang disebabkan karena upah kerja yang sangat rendah serta jaminan kesehatan yang tidak ditetapkan dengan prosedur yang seharusnya. Karena menggunakan manajemen kekeluargaan membuat pengrajin kesulitan dalam menyampaikan saran ataupun masukkan kepada pemilik usaha, dengan alasan saling menghormati dan toleransi. Selain itu juga terkendala distribusi atau pemasaran yang tidak maksimal membuat upah kerja pengrajinpun menjadi terhambat, persaingan dengan produksi kain tenun yang menggunakan mesin yang harganya lebih murah dan lebih halus membuat produksi kain tenun lurik tradisional ini semakin menurun.

Selama ini UMKM hanya focus pada input yang ingin didapat dari pada mengatur alur biayanya hal ini merupakan penyebab UMKM tidak menyelenggarakan pembukuan yang baik karena jika pemilik memiliki kemampuan yang cukup dalam bidang akuntansi akan menyita banyak waktu untuk pengerjaan administrasi daripada untuk memasarkan produknya. Peningkatan quality of work life yang dinilai kurang dalam hal produksinya dikarenakan salah satunya adalah faktor kesejahteraan pengrajin yang dinilai sangat rendah sehingga para pegrajin mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Oleh sebab itu harus ada pengelolaan manajemen yang baik agar dapat membuat planning yang tepat demi peningkatan kesejahteraan para pengajin di kampung lurik Kabupten Klaten..

Related posts

Pemulihan Ekonomi di Indonesia Selama Pandemi Covid-19

neodemokrasi

Aplikasi Pemodelan Statistika dalam Bidang Manajemen

neodemokrasi

Mengulik Jasa Desain Interior di Masa Pandemi

neodemokrasi