
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Bambang Kusnandar (50) ayah korban bernama Raffa Galang Prayoga (19) menduga bahwa sebelum anaknya ditemukan tewas di Sampang, korban diculik dan disekap dalam mobil.
Galang ditemukan warga di dekat hutan di Dusun Prekedan, Desa Samaran, Tambelangan, Sampang. Tubuh pemuda asal Kecamatan Krembangan ini penuh luka. Kedua tangannya terikat kebelakang. Kedua matanya juga tertutup sebuah kain.
Informasi awal yang beredar, Galang merupakan driver ojek online (ojol). Ternyata dia bekerja di ekspedisi yang dirintis Titik, budenya. Job dia di lapangan bagian mengantar dokumen.
Bambang Kusnandar, ayah Galang mengatakan, saat ditemukan warga sekitar pukul 15.30 WIB, korban masih dalam kondisi hidup. Dia sempat mengaku bila disekap dalam mobil, sebelum dibuang di dekat hutan di kawasan tersebut.
“Masih sempat minta tolong katanya. Dia juga sempat berdiri tapi jatuh. Itu beberapa kali. Anak saya bilang kalau disekap dalam mobil. Itu informasi yang saya terima dari polisi,” katanya ditemui kediamannya di daerah Krembangan, Kamis (6/11).
Galang kemudian dievakuasi ke Puskesmas Tambelangan. Dia sempat mendapat perawatan medis, namun takdir berkata lain. Ia tewas akibat menderita luka robek pada lengan kiri, perut samping kiri, wajah sebelah kanan, tengkuk leher, punggung dan bahu.
Bambang bercerita, pada Sabtu (1/11) pagi dirinya masih sempat diantar Galang untuk menonton sepak bola. Bambang minta antar karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berkendara sendiri. Bambang merupakan penyandang disabilitas. Kedua tangannya harus diamputasi akibat kecelakaan beberapa tahun silam. Sehingga, keberadaan Galang sangat membantu mobilitasnya.
“Adiknya kan ikut SSB (Sekolah Sepak Bola). Waktu sampai rumah teman, saya bilang jam 12 atau jam 1 itu minta dijemput. Terus dia pergi, gak tahu perginya pulang atau main,” lanjut Bambang.
Setelah selesai nonton sepak bola, Bambang menghubungi Galang via telepon dan chat di aplikasi WhatsApp. Galang saat itu tidak merespons sama sekali. Ditelepon memanggil, di chat centang satu.
“Saya diantar teman pulang akhirnya. Sampai di rumah saya telepon lagi, sampai sore gak ada balasan. Biasanya kalau saya telepon gak diangkat itu, dia gak lama langsung nelpon,” terangnya.
Pikiran Bambang sudah kemana-mana. Dia kalut. Habis Magrib Galang kembali dihubungi. Kembali lagi tidak ada respon. Selang beberapa saat, ada orang asing datang ke rumahnya dan membawa kabar duka. Galang dikabarkan tewas penuh luka di tubuhnya. Posisinya saat itu sudah ada di Puskemas Tambelangan. Belakangan dia baru sadar kalau orang asing itu merupakan polisi.
“Itu saya keringat dingin, langsung down. Dia itu anaknya baik. Selalu nurut kalau disuruh, disuruh budenya, umiknya itu gak pernah bantah. Anak pertama, tulang punggung sayalah,” papar Bambang sambil menitihkan air mata.
Galang dikenal Bambang sebagai pribadi tertutup. Dia gak pernah terbuka perihal soal pribadi atau masalah yang sedang dihadapi. Bahkan Galang tak pernah terlihat tertekan. Auranya selalu ceria bila sudah berkumpul.
Beberapa hari sebelum wafat, Bambang sudah melihat gelagat aneh Galang. Dia menilai itu sebuah firasat. Kebiasaan anaknya itu mendadak berubah total. Dia mendadak rajin dalam beberapa hal.
Galang telah pergi selamanya. Jasadnya telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Mbah Ratu. Satu liang lahat dengan pakdenya yang telah pergi lebih dulu. “Harapan saya ya pelaku segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. Itu saja harapan saya. Barang-barang hilang semua. Motornya masih ada di daerah Bubutan informasinya, tapi sebentarlah. Saya masih syok,” pungkasnya.(dan)
