Neo-Demokrasi
Headline Kesra Politik Pemerintahan

Surabaya Targetkan Volume Sampah ke TPA Turun

Aktivitas Rumah Kompos Bratang untuk mengurangi penumpukan sampah.

Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap 21 Februari dimaknai Pemkot Surabaya sebagai momentum untuk memperkuat komitmen pengelolaan sampah dari hulu. Persoalan sampah kini tidak lagi dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah, melainkan harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, HPSN 2026 menjadi pengingat bahwa tanggung jawab pengelolaan sampah berada di tangan semua pihak. Mulai dari pemerintah, rumah tangga hingga pelaku usaha. “Momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi seluruh elemen masyarakat,” ujarnya,  Selasa (24/2).

Menurut dia, perubahan pola pikir menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan sampah di wilayah perkotaan. Untuk itu, ia menekankan bahwa sampah tidak semestinya dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan ekonomi apabila dikelola dengan benar.

“Sampah bukan beban, tetapi sumber daya yang dapat dimanfaatkan jika dikelola dengan baik dan benar. Mari seluruh warga Kota Surabaya, kita melakukan pemilahan sampah dari hulu, dari rumah tinggal kita,” katanya.

Ia menjelaskan, pemilahan sampah dari hulu akan berdampak langsung pada penurunan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo. Selain itu, langkah tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengolahan dan pemanfaatan kembali sampah. “Dengan melakukan pemilahan sampah, maka sampah bisa memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan,” tuturnya.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, timbulan sampah di Kota Pahlawan mencapai sekitar 1.600-1.800 ton per hari, baik organik maupun anorganik. Besarnya volume tersebut mendorong Pemkot Surabaya memperkuat penanganan dari hulu agar tidak seluruhnya bermuara di TPA.

Untuk sampah organik, penanganan dilakukan melalui 27 rumah kompos yang memiliki kapasitas total pengolahan sekitar 95,17 ton per hari. Adapun sampah anorganik dikelola melalui 12 TPS 3R dengan kapasitas antara 10-20 ton per hari. Melalui fasilitas tersebut, volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan hingga sekitar 50 persen dari kapasitas awal.

Karena itu, Eri kembali mengajak seluruh warga Surabaya untuk bersatu dan bergotong royong menyelesaikan persoalan sampah dari hulu, bukan sekadar menyerahkannya ke hilir. Ia optimistis berbagai inisiatif berbasis kampung seperti kompos, bank sampah, biopori, hingga TPS 3R dan TPS Terpadu mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA Benowo. “Saya yakin jumlah sampah di TPA Benowo juga akan berkurang,” tegasnya.(dan)

Related posts

Terbanyak di Indonesia, Ribuan CPNS dan PPPK Jatim Terima SK Pengangkatan

Rizki

KPU RI dan KPU Jatim Hadiri Pendistribusian Logistik Pemungutan Suara Ulang Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Magetan Tahun 2024

neodemokrasi

Pengurus FTI Surabaya Resmi Dilantik

Rizki