Neo-Demokrasi
Ekbis Opini Umum

Strategi Pengembangan UMKM di Indonesia sebagai Penggerak Ekonomi di Tengah Pandemi Covid

Oleh : Eka Yuliati, SE, M.Si
Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya

Inovasi tiada henti mulai dilakukan oleh berbagai UMKM dalam upaya bertahan di tengah badai covid-19, hal ini dikarenakan tidak ada yang tahu sampai kapan pandemi ini akan berlalu. Berbagai strategi telah dilakukan oleh UMKM agar produk mereka tetap bisa bertahan di pasar. Strategi ini tidak terlepas dari kondisi yang saat ini telah banyak dilakukan dalam upaya menjaga kestabilan,  sebagai salah satu persayaratan bisa berkomptesi dalam bisnis yang mereka lalui juga merupakan salah satu alasan dari tujuan para UMKM untuk selalu berbenah. Dikutip dari kompas.com, sampai pada tahun 2021 UMKM telah menyumbang 60,34 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan sebesar 58,18 persen dari total investasi. Terlebih di masa pandemi Covid-19, UMKM berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan kondisi yang tidak menentu

Saat ini, banyak hal yang dilakukan oleh para UMKM dalam upaya untuk bisa menuju ke pasar global. Strategi tersebut bisa digolongkan sebagai berikut : (1). Produk. Penentuan produk  merupakan hal dasar yang dilakukan sebelum bisnis berjalan. Dalam menentukan produk biasanya terlebih dahulu kita harus mengetahui segmentasi dari produk tersebut akan dipasarkan untuk siapa, pembedanya bisa berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat ekonomi, dan tingkat pendidikan. Apabila sudah jelas maka langkah berikutnya adalah segmentasi yang dilihat dari segi geografinya. Dalam segmentasi ini, pasar dibagi menjadi beberapa bagian geografis seperti negara, wilayah, kota dan desa. Area geografis yang dipandang potensial dan menguntungkan akan ditargetkan oleh perusahaan. Produk yang dijual haruslah sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan oleh semua konsumen. Untuk menyiasatinya, biasanya harus dilakukan riset terlebih dahulu tentang selera pasar, tren pasar yang sedang berkembang saat ini, dan melihat seberapa besar peluang pasar yang akan kita bidik. Pada kategori produk, yang tidak kalah penting adalah kulitasnya, sebaiknya memang memiliki kualitas yang bisa berkompetensi dengan produk yang sudah ada, sehingga bisa selevel dengan standar pasar global.

(2). Harga. Terdapat beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan harga jual, strategi berikut bisa digunakan apabila akan meluncurkan produk baru. (a). Harga skimming: Strategi skimming price adalah menetapkan harga jual produk baru dengan harga awal tinggi. Harga jual kian menurun seiring waktu berjalan. Tidak semua produk bisa menggunkan strategi ini, karena apabila produsen ingin menggunakan skimming price, maka yang paling utama harus diperhatikan adalah barang tersebut memang memiliki kekhususan atau uniqe. Sehingga pada saat barang tersebuat diluncurkan, maka konsumen akan tertarik dan selanjutnya akan membeli produk tersebut. (b). Harga penetrasi: Strategi harga jual penetrasi dilakukan dengan cara menentukan harga jual awal lebih rendah dibandingkan dengan produk yang sudah ada. Tujuannya dengan harga jual murah agar konsumen tertarik untuk mencoba dan akhirnya membeli produk tersebut. Penetrasi pasar akan berjalan cepat dan harapannya bisa memberikan kesempatan membangun loyalitas kepada konsumen.

(3). Place (Distribusi). Pada bahasan kali ini yang diutamakan adalah bagimana agar produk yang mereka jual bisa dengan mudah didapatkan oleh konsumen. Bagaimana caranya agar hal tersebut bisa terwujud? Caranya dengan memilih tempat yang strategis untuk berjualan dengan kriteria sebagai berikut : (a) Lokasinya dipilih yang dekat dengan keramaian sehingga mudah diakses oleh semua orang, terutama dari segi transportasi, (b) Dengan adanya targeting pada strategi pemasaran akan memudahkan mereka untuk menentukan dimana mereka akan berjualan, contohnya apabila targetnya adalah orang Indonesia, siapapun itu yang percaya bahwa air degan ijo dipercaya bisa melunturkan virus dalam tubuh, Sehingga mereka bisa berjualan dimana saja, entah itu di pasar ataupun warung-warung dekat keramaian.

(4) Promosi. Strategi ini bisa dipakai untuk dua hal, yang pertama apabila produk itu produk lama, maka promosi bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa produk itu masih ada, tetapi kalau untuk produk baru, promosi berfungsi untuk mengenalkan produk tersebut ke pasaran. Karena konsumen yang kita hadapi sekarang kebanyakan adalah gen Y atau generasi Milenial, mereka yang lahir dikisaran tahun 1990 – 2000, maka sebaiknya promosi dilakukan dengan online, walaupun untuk offline juga bisa dilakukan. Selanjutnya agar promosi tsb tepat sasaran, biasanya      sebelum membuat produk baru sebaiknya dilakukan riset terlebih dahulu.

(5) People. Pembahasan yang terakhir berhubungan dengan peoople atau sumber dayanya. Sebaiknya dipilih calon SDM yang bisa menghasilkan produk dan layanan terbaik. Berbicara layanan terbaik, khususnya  saat ini yang semua kalangan merasakan imbas pandemi maka apabila kita ingin menyesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi serta pangsa pasar yang  mereka inginkan, sebagai salah satu upaya yang saat ini sedang digalakkan di kalangan para pelaku UMKM adalah memanfaatkan e-commerce.

E-commerce merupakan sarana yang bagus bagi UMKM saat ini karena jangkauannya bisa sampai tingkat internasional ataupun adanya target yang lebih spesifik. Melihat kondisi yang demikian, maka bisa dipastikan untuk era digital saat ini merupakan hal yang harus dipenuhi oleh produsen. Saat ini sesuai data dari (suvei DSInnovate)  menunjukkan bahwa penggunaan e-commerce sudah mencapai 49%. Sementara pada tahun 2019 masih ada di angka 14% dari 58 juta UMKM yang masuk ke e-commerce. Salah satu hal lain yang melandasi mengapa UMKM harus merubah jalur ke e-commerce adalah karena pandemi ini juga mengakibatkan adanya pembatasan aktivitas masyarakat sehingga memang perlu adanya sarana digitalisasi. Be digital memang sudah tidak bisa dielakkan lagi bagi para pelaku bisnis.

Perkembangan bisnis e-commerce dan serangkaian strateginya memberikan kontribusi penting bagi UMKM. Salah satunya dalam laporan DSInnovate, yaitu memberikan dampak sosial-ekonomi bagi pelaku usaha lewat jangkauan pasar yang lebih luas. Selain itu, McKinsey memperkirakan pada 2022 mendatang, perdagangan online secara langsung atau tidak langsung akan mendukung sekitar 26 juta pekerjaan.

Sementara itu, alasan penjual memilih platform e-commerce tertentu pun beragam, termasuk karena ada promo gratis ongkir, fitur pemasaran seperti diskon, cashback, metode pembayaran yang beragam, dan program loyalitas, serta UI/UX yang nyaman dan mudah dioperasikan. Penggunaan e-commerce pun menguntungkan bagi UMKM, terutama yang baru memulai bisnis, dari sisi biaya operasional. E-commerce membantu mengurangi biaya operasional, termasuk sewa toko, etalase produk, strategi pemasaran dan logistik serta rantai makanan.

“Penjual tidak lagi membutuhkan biaya pemasaran yang cenderung mahal dan rawan kegagalan. Mereka hanya perlu aktif berpromosi di media sosial dan memaksimalkan penjualan lewat platform e-commerce,” demikian laporan DSInnovate. Pada Maret lalu, saat membuka Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan  2021, di Istana Negara, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menegaskan perdagangan digital harus diarahkan untuk dapat memberdayakan dan mengembangkan UMKM. “Perdagangan digital harus mendorong pengembangan UMKM kita. Ini manfaatnya sudah kita lihat, kekuatan digital harus dimanfaatkan untuk merangkai antara suplai dari UMKM di seluruh Indonesia dengan pasar nasional dan pasar global. Perdagangan digital harus memberdayakan UMKN kita,” ujar Presiden kala itu

Kolaborasi dengan pelaku e-commerce mampu membuka peluang besar bagi UMKM Indonesia untuk memperluas pangsa pasar mereka sehingga dapat meningkatkan peran pelaku usaha dalam era digital yang berujung pada peningkatan perekonomian nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.*

Related posts

Fungsi Oven untuk Memastikan Kualitas Pengerjaan Body & Repair

Rizki

Angkutan KA Logistik Kembali Beroperasi di TPS

Rizki

BRI Bantu Pemkab Mojokerto Lawan Corona

neodemokrasi