
Lamongan.NEODEMOKRASI.COM. Pendidikan karakter merupakan pondasi penting yang harus ditanamkan pada anak sejak dini. Selain membentuk jiwa positif anak juga menanamkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, menjaga kebersihan, tanggung jawab, kerja keras, empati, sopan santun dan rasa hormat kepada orang lain. Anak yang memiliki karakter akan belajar membedakan benar dan salah serta bertindak sesuai norma yang berlaku, sehingga ke depannya, anak akan tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri dan mandiri.
Menanamkan pendidikan karakter akan mencetak anak-anak memahami dan menginternalisasi nilai-nilai moral dan etika yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter mengajarkan empati, kerja sama, dan toleransi, yang sangat penting untuk kehidupan sosial anak. Dengan karakter kuat cenderung lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi, baik dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Dan mencegah dari berbagai tindakan dan prilaku negatif. Anak tercetak menjadi lebih kuat dan menghadapi tantangan dunia modern, termasuk persaingan global dan perubahan sosial.
Meskipun pendidikan karakter tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga perlu didukung oleh keluarga dan masyarakat. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh perilaku positif, memberikan apresiasi, dan melatih keterampilan sosial anak. Sehingga tumbuh menjadi individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa positif, siap menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.

Adalah MI Muawanah Banjarwati, madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar swasta yang terletak di jalan Mayang Madu No.06 Desa Banjarwati Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan, yang mampu menjadi pioner dan patut menjadi contoh bagi sekolah SD lainnya. Acara Haflatul Wada’ Kelas VI MI Mu’awanah Tahun Pelajaran 2024-2025 yang digelar di Hall Sunan Drajat (Lt. 4 Perekonomian Sunan Drajad pada Rabu, ( 25/6/2025) menjadi spesial dan unik karena MI yang dipimpim oleh Mustaqim, S.E.Sy, MI selain memberikan penghargaan untuk kategori prestasi unggul akademik, juga .apesiasi dengan memberikan reward untuk kategori keunggulan karaktrer bagi siswa . Yakni 2 siswa yang unggul karakter cinta lingkungan dan kepedulian sosial. Ahmad Nafis Mumtaz menjadi siswa periah award unggul karakter kategori Social Awareness( Kepedulian Sosial).
Ini bukti bahwa MI Muawanah tidak hanya fokus pada optimalisasi pendidikan akademik saja, tetapi lebih mengajarkan pendidikan karakter sebagai poin utama. Pemberian penghargaan ditujukan pada siswa yang dinilai memiliki beberapa karakter-karakter unggulan yang menonjol dan dianggap baik dengan indikator-indikator yang jelas.
MI ini juga membuktikan diri bahwa pendidikan itu tidak melulu masalah ilmu, kecerdasan dan kepintaran semata, tetapi yang lebih utama lagi pendidikan itu harus mampu dencetak pribadi-pribadi yang memiliki kepribadian dan karakter yang baik. Sebagai bekal dan modal dasar generasi kita dalam menghadapi tantangan zaman di masa yang akan datang. Lembaga MI Muawanah juga menyadari pentingnya pendidikan karakter sebagai bagian utama tidak seperti lembaga-lembaga lainnya yang hanya berpatokan kepada prestasi akademik semata. Di sini MI Mu’awwana mencetak kader-kader generasi bangsa dan agama yang pintar sekaligus berkarakter.
“Pengembangan karakter MI Muawanah yang tahun kemarin itu pertama satu, tentang cinta lingkungan. Bisa diartikan patuh dengan lingkungan bersih. Ketika lingkungan kotor anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya dan memilah sampah itu termasuk beberapa bentuk karakter cinta lingkungan. Kedua karakter kedisiplinan dengan mentaati peraturan di sekolah dan di rumah. Kemudian karakter peduli sesama seperti membantu taman yg kesusahan, pembiasaan infaq/shodaqah/berbagi, bersikap baik sesama teman. Dan mentradisikans 3S senyum, salam dan, sapa. Juga menekankan pentingnya bersikap hormat pada yang lebih tua. Karena adab dan etika zaman sekarang sudah mulai berkurang jauh pada anak anak” ujar kepala Sekolah MI Muawanah, Mustaqim , S.E.Sy,.
“Tidak semua siswa itu memiliki potensi akademik yang sama. Ada yang bagus di akademiknya namun karakternya cenderung kurang bagus. Sebaliknya ada yang kemampuan akademiknya biasa saja, tapi memiliki karakter yang bagus. Nah kita berpikir keras bagaimana pendidikan ini bisa menyentuh semua unsur. Bagaimana kita menumbuhkan kepercayaan bagi anak yang memang kurang di bidang akademik tapi karakternya bagus. Kita ingin memberikan semangat ke anak-anak seperti itu, sehingga mereja merasa “oh ternyata saya itu dihargai”, sehingga mampu meningkatkan semangat mereka” tambahnya.
Apa yang ia berusaha tanamkan pada anak anak adalah kemampuan untuk Mereka berpikir bahwa sekolah tidak hanya fokus kepada nilai akademiknya atau kepandainnya, tapi ternyata ketika berbuat kebaikan itu ternyata ada rewardnya . Meskipun tidak menerapkan jam pelajaran khusus dan waktu tertentu tapi pihaknya memunculkan sebagai pembiasaan.
“Tiap awal tahun kita adakan rapat kepada bersama semua komponen madrasah. awalnya kita ke guru dulu. Kita branding sejak awal tahun depan kita sepakati karakter apa yang dimunculkan yang akankita branding. Kemudian setelah kita sepakat, beberapa karakter kita sosialisasikanke orang tua. .
“Harapan kami, kebiasaan karakter baik anak tidak hanya di sekolah. Tapi juga menjadi terbiasa ketika nyampe di rumah. Kadang-kadang ada karakternya di sekolahan, diajari buang tapi di rumah tidak ada tong sampah.” paparnya.
“Tidak ada jam khusus, cuma pembiasaan dan setiap hari kan di jam pertama itu ada jam wali kelas ketemu sama siswa. Itu setiap hari kita berikan wacana, setiap hari kita gembar gemborkan istilahnya, karena anak kecil itu kadang-kadang belum bisa stabil. Kadangsatu minggu berjalan bagus, nanti turun lagi. Kita butuh setiap minggu, setiap hari itu sering kita ingatkan. . Tidak Cuma di kelas, lewat tempelan-tempelan di kelas, seperti poster seperti itu. Sehingga para akhirnya berperilaku baik menjadi kebiasaan yang terjaga hingga dewasa..,
“ Kemarin kita hanya memberi penghargaan hanya kepada 2 siswa, kita belum berani terlalu banyak. Kemarin itu yang kita sepakat dengan bapak ibu guruhanya dua karakter. Cinta lingkungan sama kepedulian sosial Awalnya, ketika kita mau mengukur mana yang paling bagus, itu kan susah. Tetapi menngaplikasikan pola pola pantauan guru setiap kelas. Juga survei semua guru kita kasih survei melalui kuesioner kira-kira siswa kelas 6 itu yang paling menonjol karakternya yang mana, Nah dari dua kelas kemarin akhirnya kita sepakati masing masing kelas kita pilih satu kategori pemenangnya” pungkasnya.(nora)
