
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pemkot Surabaya menegaskan komitmennya untuk menjaga pasar tradisional sebagai urat nadi perekonomian rakyat. Pasar tidak hanya berfungsi sebagai pusat transaksi, tetapi juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Kota Pahlawan.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma menuturkan bahwa pengelolaan pasar tradisional terbagi menjadi dua. Sebagian berada di bawah naungan PD Pasar Surya, dan lainnya dikelola Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag).
“Kalau Bagian Perekonomian itu sebagai pembina dari BUMD. Karena PD Pasar merupakan salah satu BUMD yang dimiliki oleh Pemkot Surabaya, maka PD Pasar Surya di bawah pembinaan kami,” kata Vykka, Jumat (26/9).
Vykka menegaskan pengelolaan pasar tradisional tidak hanya fokus untuk peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), tetapi juga mendorong ekonomi masyarakat. “Ekonomi UMKM mikro itu penting karena mereka adalah fondasi kita untuk bagaimana Kota Surabaya ini bertumbuh ekonominya,” jelasnya.
Vykka mengungkapkan saat ini ada sekitar 13 pasar tradisional yang dilakukan revitalisasi. Namun, ia memastikan bahwa revitalisasi akan terus dilakukan secara bertahap di tahun mendatang.
“Sampai sekarang ada 13 revitalisasi pasar, dan tahun depan bertahap kami lakukan revitalisasi. Pasar Keputran Selatan akan dibangun baru dan khusus untuk ayam supaya secara perekonomian bisa berputar di situ,” ujarnya.
Tak hanya itu, Vykka menyatakan bahwa revitalisasi ke depan juga menyasar pasar-pasar strategis, termasuk Pasar Blauran dan Pasar Tunjungan. “Nanti konsepnya PD Pasar akan berubah jadi Perseroda. Jadi dia lebih seperti PT, bisa bekerja sama dengan investor, tidak hanya dengan penyertaan modal,” katanya.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya Febrina Kusumawati, menjelaskan, pihaknya saat ini mengelola 13 pasar tradisional. Di antaranya adalah Pasar Nambangan, Pasar Sememi, Pasar Gunung Anyar, hingga Pasar Dukuh Menanggal.
“Pasar tradisional yang dikelola Dinkopumdag ada 13 pasar. Selain itu, ada juga pasar tradisional yang dikelola oleh swasta maupun LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan),” kata Febri.
Sementara itu, Direktur Utama PD Pasar Surya Surabaya, Agus Priyo menyebut pihaknya mengelola 64 pasar aktif dengan sekitar 12.000 pedagang. Dari jumlah tersebut, 10-15 pasar dalam kondisi baik, sementara sekitar 20 pasar masih membutuhkan perhatian lebih.
“Pasar-pasar yang besar seperti Pasar Tambahrejo, Pasar Kapasan, Pasar Genteng, Pasar Wonokromo, itu perputaran ekonominya sudah sangat bagus. Yang perlu kami atensi adalah yang sedang-sedang saja, yang harus ditingkatkan lagi,” ujarnya.
Agus juga menuturkan bahwa sejumlah pasar tradisional yang dikelola PD Pasar Surya juga memiliki kekhasan tematik. Di antaranya adalah Pasar Bunga Kayoon, Pasar Blauran dan Pasar Pabean.
“Pasar Kayoon itu sudah kita kenal dari dulu, sekarang juga menjadi jujukan wisatawan asing. Ada juga Pasar Blauran terkenal dengan kare, bubur Madura, dan jajan pasar. Kemudian Pasar Kembang dengan kue basah, Pasar Pabean dengan ikan segar, Pasar Genteng dengan elektronik, hingga Pasar Dupak Rukun dengan besi tua,” paparnya.
Agus mengakui tantangan terbesar mengelola pasar tradisional saat ini adalah menciptakan kenyamanan pembeli di tengah gempuran ritel modern. “Termasuk prasarana dan sarana itu harus betul-betul ditingkatkan,” imbuhnya.(*)
