Neo-Demokrasi
Ekbis

Job Insecurity, Sebuah Persepsi yang Mengikis Kepuasan Kerja di Era Bisnis Turbulen

Juwita Sar,i, SM, MSM Dosen STIESIA Surabaya

Meski dunia sudah memasuki era new normal, ternyata bisnis tidak sepenuhnya kembali seperti sedia kala. Beberapa perusahaan tidak mampu bertahan di masa kritis dan pada akhirnya mengalami kebangkrutan. Beberapa perusahaan di Indonesia yang tidak dapat bertahan dimasa pandemi seperti perusahaan ritel Giant, Matahari, Ramayana, beberapa perusahaan jasa kepariwisataan seperti perhotelan, tempat wisata, OYO. Perusahaan hiburan seperti mall, cineplex, dan karaoke. Tidak hanya itu, perusahaan start up yang sempat digandrungi para entrepreneur muda juga tidak bertahan dari masa kritis, seperti airy rooms, jd.id, sorabel, qlapa, beres.id, dsb.

Bersamaan dengan itu, kabar datangnya resesi global juga menambah kecemasan pada keberlangsungan pekerjaan yang sedang kita jalani. Bisa saja perusahaan tempat kita bernaung tak lagi sanggup bertahan di tengah krisis, sehingga terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja. Emosi negatif yang muncul seperti perasaan cemas, ketakutan, khawatir dalam teori manajemen sumber daya manusia disebut job insecurity.

Keraguan tentang keberlangsungan pekerjaan tersebut disebut job insecurity/ketidak amanan pekerjaan. “Job insecurity reflects a threat” (Aguiar-Quintana et al., 2021; Octafian, 2022; Vo-Thanh et al., 2020, 2021). Yang artinya, job insecurity mencerminkan ancaman  dan stabilitas pekerjaan saat ini. Perasaan tidak aman atas masa depan pekerjaan mereka. Pandemi Covid-19 mengurangi keterlibatan karyawan pada pekerjaannya, menimbulkan perasaan untuk berhenti ataupun diberhentikan dari pekerjaan. Indikator karyawan merasa insecure pada pekerjaannya, yaitu adanya ancaman pada pekerjaannya, turunnya ketahanan ekonomi dan munculnya kerentanan psikologis individu.

Pemicu persepsi job insecurity

Memahami sumber dari munculnya persepsi keraguan pekerjaan sangat penting, dengan begitu kita dapat menata emosi agar lebih produktif dalam bekerja. Berikut ini adalah beberapa sumber munculnya persepsi ketidakamanan kerja, yakni 1) Kesehatan mental. Kesehatan mental seseorang sangat mempengaruhi bagaimana mereka merasa dan bertindak atas emosi yang dibenarkan. Seseorang dengan mental yang kuat, tidak merasa insecure atas pekerjaan yang dijalani, terlepas dari status kerja mereka yang merupakan karyawan tetap atau kontrak. Tetapi, seseorang dengan mental yang kurang resilience atau pernah memiliki sakit traumatis, akan merasa insecure ketika perusahaan ditempat mereka bekerja sedang mengalami krisis. 2) Demografi seseorang. Faktor demografi adalah faktor-faktor yang terdapat dalam struktur penduduk dan perkembangannya, seperti jenis kelamin, kelompok umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, status pernikahan, lingkungan tempat tinggal dan sebagainya. Faktor demografi ini mempengaruhi muncul tidaknya perasaan insecure pada diri seseorang. Misalnya saja, seseorang yang sudah berkeluarga pasti memiliki rasa cemas tinggi dibanding seseorang yang baru lulus perkuliahan dan belum menikah. 3) Religiusitas. Seseorang dengan pendekatan hidup yang religius cenderung menerima segala keadaan yang terjadi saat ini maupun yang akan terjadi. Prinsip religiusitas adalah percaya bahwa semua kehidupan yang dijalani merupakan jalan dari Tuhan.

Job Insecurity dan Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja berperan penting dalam mengatasi saat-saat sulit, dimana karyawan yang merasa puas akan pekerjaannya akan meningkatkan ketahanan karyawan dalam menghadapi berbagai krisis, seperti: bencana sosial, ekonomi, politik (Baker & Alshehri, 2021; Edwards & Burnard, 2003). Ketika karyawan puas dengan pekerjaan yang dikerjakan mereka cenderung melakukan pekerjaan dengan kualitas yang lebih tinggi, sehingga memberikan kontribusi lebih terhadap organisasi. Oleh karenanya, mempertahankan job satisfaction karyawan sangat disarankan untuk mempertahankan kinerja organisasi yang baik.

Dalam situasi krisis, persepsi ketidakamanan pekerjaan yang dirasakan karyawan sangat mempengaruhi pola kerja organisasi. Secara teoritis, persepsi job insecurity karyawan berhubungan terbalik dengan job satisfaction (Sari et al., 2023). Semakin kuat persepsi karyawan atas ketidakberdayaannya pada masa depan pekerjaannya, maka semakin turun kepuasan kerjanya. Karyawan yang merasa tidak ada harapan akan pekerjaannya dimasa depan, merasa pekerjaan yang dikerjakan saat ini tidak akan berlanjut menimbulkan ketidakpuasan dan hal ini mengarah pada efek negatif lainnya seperti penurunan kinerja perusahaan secara keseluruhan. Sebaliknya, Begitu pula sebaliknya, ketika karyawan mempersepsikan pekerjaan yang dikerjakan saat ini dapat memberikan harapan baginya, membawa keamanan atas masa depannya, karyawan cenderung puas atas pekerjaan yang dilakukan.

Pertimbangan

Kondisi lingkungan yang tidak menentu menimbulkan persepsi ketidakamanan pada pekerjaan karyawan dan hal itu berpengaruh pada kepuasan kerja mereka. Saran untuk perusahaan, sebaiknya dapat menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi kritis terutama terkait keamanan dan keselamatan karyawan baik secara fisik maupun mental. Seperti: adanya penyesuaian target penjualan/target kerja, berkomunikasi aktif antara leader dan karyawan untuk menciptakan persepsi bahwa pekerjaan mereka akan tetap aman kedepannya. Terjadinya pengurangan upah dan efesiensi insentif akan lebih diterima karyawan daripada bekerja dengan persepsi akan dipecat sewaktu-waktu.

Peran HRD sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan maslah kekaryawanan seperti job insecurity ini, untuk mempertahankan produktifitas kedepannya HRD dapat membantu memperbaiki kondisi lingkungan kerja karyawan agar lebih nyaman. Dalam operasionalnya, HRD sebaiknya membantu karyawan dalam meningkatkan skill yang ada saat ini, memotivasi semangat dan terus mengasah kemampuan karyawan. Memberikan pelatihan rutin misalnya, sehingga karyawan merasa tidak khawatir akan masa depan karirnya. Kegiatan pelatihan juga bisa berupa brainwash/mengganti pola pikir. Insecure bisa terjadi karena timbulnya perasaan tidak yakin/tidak percaya atas kemampuan diri sendiri. Dengan menanamkan pola pikir yang positif, karyawan diberikan peluang utuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan hal ini mampu mengurangi rasa insecure.

Related posts

KBI Peduli Salurkan Bantuan APD ke Beberapa Rumah Sakit

neodemokrasi

Dorong Nasabah Beralih ke Livin by Mandiri

Rizki

TujuhTahun Batik Air Berkomitmen Menyediakan Layanan Terbaik

neodemokrasi