Neo-Demokrasi
Headline Jatim Kesra

Walikota Mojokerto Launching Pasar Tumpah Rest Area Gunung Gedangan

Walikota Mojokerto Ika Puspitasari menyapa pedagang pasar tumpah.

Mojokerto, NEODEMOKRASI.COM – Riuh pedagang dan pengunjung meramaikan pasar tumpah Rest Area Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari, Sabtu  (15/1). Pemandangan demikian menjadi sangat dinantikan. Terlebih selama dua tahun belakangan kegiatan semacam itu sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.

Pada bagian bawah gedung, sebanyak 120 pedagang menggelar lapak dagangannya. Mulai dari kerudung, ikat pinggang, kaos, daster, kemeja, hingga gamis. Semuanya ada. Sementara di lantai atas, kios-kios didominasi dengan penjual makanan dan minuman, serta beragam produk UMKM Kota Mojokerto lainnya.

“Pedagang di lantai bawah itu hanya untuk pasar tumpah, setiap Sabtu dan Minggu, dari jam 6 -11 siang. Tapi kalau yang lantai atas, seperti yang diharapkan Bu Wali, buka setiap hari, dari pagi sampai malam,” ujar Musliman, selaku koordinator pedagang pasar tumpah.

Ia juga mengungkapkan, banyak pedagang yang antusias untuk berdagang di lokasi yang digadang-gadang bakal menjadi pusat perdagangan baru di Kota Mojokerto. Sejumlah 180 pedagang telah mendaftar agar bisa menjajakan dagangannya di tempat tersebut. Bahkan tidak sedikit pula yang sudah tidak bisa mendaftar, akibat kuota yang penuh.

“Alhamdulillah, ada tempat lagi untuk jualan. Memang belum seramai kalau di Benteng (Car Free Day di Jalan Benteng Pancasila). Tapi, ya yang penting sudah ada pemasukan lagi. Kan, sejak pandemi sampai sekarang, yang di Benteng belum bisa buka lagi,” tambah sosok berusia 56 tahun tersebut.

Diketahui, hari ini memang pertama kalinya pasar tumpah dibuka. Launching pembukaan pasar tersebut dilakukan langsung oleh Walikota Mojokerto Ika Puspitasari.

“Mohon untuk istiqomah dalam berdagang. Karena kami optimis, ke depan Rest Area Gunung Gedangan ini dapat menjadi salah satu sentra perdagangan Kota Mojokerto. Karena memang lokasinya yang strategis, di jalur antar provinsi sehingga memungkinkan akan lebih banyak pengunjung yang datang, tidak hanya dari dalam tapi juga luar kota,” ungkap sosok yang akrab disapa Ning Ita tersebut.

Selain itu, dalam waktu dekat, shuttle car juga direncanakan akan mulai dioperasikan untuk umum. Pengunjung Rest Area Gunung Gedangan dapat menaiki mobil wisata tersebut untuk berkeliling Kota Mojokerto secara gratis, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Sebagaimana diproyeksikan oleh pemerintah, area istirahat tersebut diharapkan dapat menjadi lahan baru yang mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, khususnya warga Kota Mojokerto. Untuk mewujudkannya, Ning Ita juga membutuhkan peran dari berbagai elemen masyarakat.

“Ibu-ibu yang habis senam pagi atau belanja disini, monggo diposting lewat sosmed. Ajak yang lain biar ke sini juga. Karang taruna juga. Yang muda-muda ini harus lebih gencar ikut mempromosikan,” pesan Ning Ita di hadapan Karang Taruna Magersari dan pengunjung yang didominasi oleh kalangan ibu-ibu.

Selain pasar tumpah, Rest Area Gunung Gedangan pagi itu begitu ramai pengunjung karena adanya pasar murah minyak goreng. Kegiatan tersebut digelar Pemkot Mojokerto melalui Diskopukmperindang sebagai langkah cepat menangani mahalnya harga minyak goreng belakangan ini. Total 12.000 liter disiapkan untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng warga.

Pasar murah tersebut digelar selama tiga hari, Kamis-Sabtu (13-15/1), dengan tiga lokasi yang berbeda. Sebelumnya telah diadakan di kantor Kecamatan Prajurit Kulon, Kamis  (13/1) dan Klenteng Hok Siang Kong, Rabu (12/1).

Sebagai informasi, untuk mendapat minyak seharga 12.000 per liternya, warga harus membawa foto kopi KK dan setiap KK diperbolehkan maksimal membeli 2 liter minyak goreng. Pada kunjungan tersebut, Ning Ita juga didampingi oleh Sekda Kota Mojokerto Gaguk Tri Pasetyo serta Kepala DiskopUkmperindag Ani Wijaya. (dan)

 

 

Related posts

Perawatnya Positif Corona, Puskesmas Puri Mojokerto Ditutup

neodemokrasi

Ataru Resmi Hadir di Galaxy Mall 1 Surabaya

Rizki

Ngareskidul Guyub Rukun Festival Tingkatkan Perekonomian

neodemokrasi