
Surabaya. NEODEMOKRASI. COM. Fenomena menguatnya Tren tagar #KaburAjaDulu yang ramai digunakan di media sosial dan menjadi isu yang terus didiskusikan beberapa hari terakhir.. Istilah Kabur Aja Dulu dianggap sebagai bentuk kekecewaan masyarakat Indonesia terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan keadilan di dalam negeri yang tak kunjung membaik.
Hal ini terjadi karena pemuda melihat kondisi tersebut diduga karena adanya sejumlah kebijakan pemerintah yangdiberlakukan saat ini dinilai tidak menunjukkan keterpihakan pada masyarakat. Lalu bagaimana tren #KaburAjaDulu tiba tiba mucul dan ramai digunakan?
Terkait peluang pekerjaan yang diberikan generasi muda sekarang itu walaupun dia punya skill dan keahlian tapi sulit mendapattkan pekerjaan layak di Indonesia. Ini akhirnya yang memicu mereka lebih memilih bekerja di luar negeri karena tidak terfasilitasi di negara sendiri.
” Nah itu tantangan, tantangan pemerintah sekarang harus evaluasi sekarang untuk memecahkan persoalan sulit ini. Kita tahu mereka yang mencari pekerjaan jumlahnya banyak, sementara lapangan pekerjaannya sedikit, makanya dia kabur di luar negeri. Mereka yang memang memiliki potensi luar negeri dan lebih dihargai di luar negeri. Tidak semata-mata mencari income, tapi jangan sampai nanti di sana bergaji tinggi, lalu lupa dengan negaranya. Rasa nasionalismenya juga harus tetap jalan. Yang paling penting jadi menjaga nasionalisme tapi kan rata-rata targetnya mereka bekerja, kalau sudah berhasil biasanya balik pulang ke Indonesia. ” ujar Dr Rasiyo, anggota Komisi E dari Demokrat.
Pihaknya juga menambahkan, memang pada umumnya, rata-rata lebih tahan hidup di luar negeri. Karena peluang kesejahteraan lebih menjanjikan. Karena di negara-negara luar itu jumlah penduduknya tidak sepadat Indonesia. Kenapa Indonesia itu sulit mencari pekerjaan, banyak pengangguran karena jumlah penduduknya. yang tersedia dengan Itu lebih banyak dibanding lapangan pekerjaannya Sementara kalau di luar negeri Lapangan pekerjaannya yang banyak Lebih banyak dari jumlah penduduknya.
“Tapi penduduknya sedikit makanya mereka nyari di sana. Jadi peluangnya lebih terbuka di sana. Coba mungkin ke depan pemerintah misalkan, ada pembatasan keluarga berencana itu, keluarga berencana maksimal dua anak cukup atau berapa itu. Jadi tidak terjadi bonus demografi. Ya makanya tentang pemerintahan yang baru menyediakan lapangan pekerjaan. supaya tidak terlalu banyak yang bermigrasii ke luar. negeri. seperti kebijakan-kebijakan yang sifatnya makro, tidak fokus, itu di-evolusi kembali. Sehingga nanti sedikit tapi lebih fokus.
Sebagai contoh, misalkan banyak investor yang masuk, membuka pabrik yang mampu menyerap tenaga kerja banyak. Pak Prabowo kan mencari investor sebanyak-banyaknya supaya bisa tersedia lapangan pekerjaan untuk lokal.
” Jadi presiden enggak gampang juga jadi itu tantangan sekarang kalau warga negaranya banyak yang keluar negeri dengan gaji yang tinggi Terus gimana sekarang kalau di Indonesia, cari kerjaan sulit, cari pekerjaan sulit. Dapat kerja tapi dengan ngaji rendah, misalkan 2 juta, kan ya masih tidak cukup. Jadi kitaj uga tidak menyalahkan para pencari kerja di luar negeri selain berpikir realistis, mereka juga dalam rangkaencari kehidupan yang lebih baik” tutupnya. (nora)
