
Surabaya. NEO-DEMOKRASI. COM. Khusnul Khuluk, anggota Komisi B DPRD Provinsi Jatim dari PKS mengkritik keputusan pemerintah yang belum juga mensosialisasikan kebijakan bulog yang rencananya akan membeli hasil panen petani pddi dengan harga Rp. 6.500/kg. Agar berlaku efektif dan meredam kebingunan petani dalam mengelola hasil panennya.
“Bagaimana mau? Gimana mau? Penggiling padi mulai Rp 6.500, karena bagi mereka rugi bu, kalau jual berasnya itu harga Rp12.000, maka para penggiling atau pedagang padi tetap saja mulai di bawah Rp 6.000, karena ketidakjelasan itu akhirnya bulog yang mengambil alih. “kata politisi PKS ini.
“Jadi sekali lagi ini kritik juga kepada pemerintah. Begitu Presiden ngomong, ya harus ditindak lanjuti ke bawah. Siapa sih yang bertanggung jawab untuk melaksanakan omongannya Pak Presiden? Bulog itu dengan harga berapa, Kalau dibelinya dengan harga Rp 6.500, pada praktiknya, tidak semudah itu, “tambahnya.
Ia juga menambahkan bahwa idealnyya para petani harus antri menyampaikan mau panen bulan ini atau bulan berapa. Masyarakat enggak tahu karena memang enggak ada sosialisasi. Regulasinya seperti itu. Seandainya ada sosialisasi dari bulog, kalau mau panen 20 hari sebelum panen. Lepas dan masyarakat kan panen sekarang menyampaikan ke bulognya gak siap dengan alasan tadi mungkin kualitasnya gak sesuai atau kemungkinan juga uangnya gak ada .”kisahnya.
“Di tempat saya itu kalau misalnya bulog digeruduk orang sekecamatan ini tidak mampu, baik dari sisi tempat, maupun dari sisi keuangan.” ujarnya.
“Maka ya kembali kepada pemerintah ini kalau memang mau dikulak oleh bulog, pertama ya ada sosialisasi yang jelas kepada masyarakat. Terus kapasitasnya berapa? Kalau semuanya dibeli, saya yakin tidak mampu. Numpuk numpuk. Terus melihat itu. Solusi ideanya gimana Pak? Karena banyak yang banyak panen kan yang harus ditampung. Ya solusinya kalau pemerintah punya uang ditampung, harus menjadi tanggung jawab pemerintah untuk agar petani ini semangatlah untuk bertani.
“Apalagi ini sebentar lagi kan panen raya. Dan kayaknya tidak ada tanda-tanda untuk gabah dari petani, karena saya petani juga. nanti dijual manual gitu.” tambahnya.
Itupun menurut dia, ttdak bisa dalam jumlah banyak. Ya banyak, cuma kan dalam kondisi basah terus harganya ya apa katanya pedagang. Jumlah banyak, cuman basah karena kita bingung mau dibawa kemana, mau ditaruh di penggilingan padi juga. Harus dijemur dulu Tentu butuh tenaga lebih. Tenaganya, macam-macam Jadi, kayak saya, ya simple aja. Pokoknya harus yang ada yang menampung. (nora)
