Neo-Demokrasi
Politik Pemerintahan

Dr Dr Benjamin Kristianto MARS : “MCU Gratis Tujuannya Memastikan apakah Paru-Paru Seluruh Rakyat Indonesia itu Baik atau Ada Flek-Flek Awal dari TBC.”

Dr Dr Benjamin Kristianto MARS, Aanggota Komisi E DPRD Provinsi Jatim

Surabaya.NEODEMOKRASI.COM. Dengan ditemukannya penyakit Tuberkulosis (TBC)  mencapai angka i 23.310 kasus atau 20 persen di Triwulan  2025,  Jawa Timur menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang penderita TBC terbanyak di Indonesia setelah Jawa Barat.  Untuk Surabaya sendiri memiliki jumlah penderita TBC terbanyak di Jatim,  dengan 14.537 kasus pada tahun 2024. Dinkes Jatim terus melakukan upaya pencegahan dan deteksi dini, seperti screening TBC di fasilitas kesehatan dan wilayah populasi rentan seperti pondok pesantren, lapas dan sekolah. Dinkes Jatim juga menggunakan aplikasi E-TIBI untuk meningkatkan cakupan temuan TBC di masyarakat. Diinkes   Jatim akan lebih memasifkan screening kesehatan agar TBC lebih banyak ditemukan. Tujuannya  agar semakin banyak penyakit TBC ditemukan maka masyarakat yang terjangkit bisa segera diobati. Sehingga angka TBC bisa ditekan

Aplikasi E-TIBI yang bisa diakses di laman website Dinkes Jatim. Cara kerja aplikasi tersebut memungkinkan masyarakat melakukan  screening secara mandiri. Selain memperbarui Tim Percepatan Penanggulangan TBC dan Rencana Aksi Daerah (RAD) yang melibatkan berbagai unsur, termasuk lintas sektor dan program. Juga  melakukan metode screening pasif di fasilitas kesehatan (faskes). Metode itu nantinya diintegrasikan dengan layanan primer faskes dan program cek kesehatan gratis dari pemerintah.

“ Angka kematian TBC itu kan cukup tinggi Kalau tidak salah antara 5 sampai 6 per hari itu tiap orang bisa meninggal.. Padahal sejak kita lahir,  sudah diimunisasi namanya BCG .Logikanya, maka dia kebal terhadap penyakit TBC. Tapi ternyata kan kasusnya itu kan ternyata tinggi. Oleh karena itu, salah satu program  Pak Prabowo adalah Medical Check Up (MCU) gratis pada hari Ultah. Tujuannya memastikan apakah paru-paru dari seluruh rakyat Indonesia itu baik atau memang ada flek-flek awal dari TBC. Kalau itu baik, maka saya setuju sekali bahwa harus dilakukan vaksinisasi TBC lagi. Karena kita tidak yakin vaksin yang kemarin itu berhasil. “ jelas Dr Benjamin Kristianto MARS, anggota Komisi E, DPRD Provinsi Jatim.

 “Kenapa istilahnya percobaan? Nah, jadi gini, vaksin itu bisa berfungsi dengan baik. Satu, apakah vaksinnya itu bagus atau tidak?  Dua, apakah penyimpanannya itu benar atau tidak? Nomor tiga, pola pemberiannya, tekniknya benar atau tidak? Vaksinnya itu bagus, misalnya, tapi pas disimpan di kulkasnya nggak bagus, ya mati lah. Lalu pada saat menyuntikannya juga salah ya mati juga lah hasilnya tidak sesuai Makanya mungkin diistirahatkan itu percobaan Itu sebenarnya adalah mencoba di titik lemah mana yang menyebabkan angka kegagalan itu cukup tinggi. Dari vaksin yang kemarin maksudnya Sehingga kita harus membuat suatu vaksin yang bagus, yang baru, yang tekniknya benar, penyimpanannya benar yang tujuannya simple yaitu membentuk rakyat Indonesia yang sehat jauh dari penyakit ini “ tambah pemilik klinik Sheila Medica ini mengomentari terkait percobaan vaksin untuk penderita TBC

Lebih lanjut dijelaskannya bahwa seharusnya vaksin ini gratis dan menjadi salah satu  program pemerintah.

“Jadi sebenarnya TBC itu droplet artinya  ludah. Percikan pernapasan, percikan cairan atau lendir yang dihasilkan oleh saluran pernapasan. Yang menjadi media penularan virus dari orang sakit ke orang sehat. Sumber percikan berasal dari mulut dan hidung yang terjadi saat seseorang sedang berbicara, batuk atau bersin.  Nah, jadi kalau kita bicara begini, kalau ada yang TBC itu sudah menular.  Kalau kebetulan  kehirup, masuk, ya kena lah.” Ujarnya.

Seperti diketahui, Dinkes Jatim mengaplikasikan E-TIBI untuk meningkatkan cakupan temuan TBC di masyarakat  untuk mencegah terjadinya angka kematian yang tinggi  akibat TBC . Hari ini diperkirakan mencapai angka  kematian 5-6 per hari .

“Tapi masalahnya apakah masyarakat itu mengerti menggunakan aplikasi tersebut lalu kedua, masyarakat kadang takut,  misalnya gini, ada pertanyaannya batuk-batuk atau tidak dijawabnya tidak, karena dia kan takut . Sebenarnya kan bukan di situ, bahwa TBC itu bisa diobatin dan bisa dicegah Jadi, kalau orang itu dia berani jujur, maka dia bisa diobati.dan keluarganya. Dan keluarganya yang tinggal satu rumah bisa kita cegah, supaya tidak kena.”saran politisi Gerindra ini.

“Vaksinnya menggunakan vaksin BCG  hanya apakah vaksin yang kemarin Ini kualitasnya sudah bagus atau tidak . Itu yang dimaksudkan Plus yang tadi saya bilang teknik penyimpanannya. Kan  vaksin diproduksi Biofarma  di Jakarta.  Nah  bagaimana  penyimpananya? sudah benar atau bagaimana?  Distribusinya ke Jawa Timur bagaimana? Ini yang memicu bagus tidaknya vaksin ketika disuntikkan” pungkasnya.(nora)

Related posts

PPPK Penuh dan Paro Waktu di Surabaya Dapat THR

Rizki

Setahun Jabat Gubernur, Khofifah Raih Opini Tertinggi

Rizki

Lansia Sebatang Kara Kini Dirawat di Griya Werdha

Rizki