
Surabaya.NEODEMOKRASI.COM. Kenakalan remaja menjadi masalah serius yang saat ini menjadi fenomena sosial yang sering terjadi hingga saat ini. Program inisiatif Gubernur Jawa Barat yang mengirimkan anak-anak nakal ke barak militer untuk dididik mengundang berbagai pro dan kontra. Meskipun dikhususkan untuk remaja nakal yang memiliki perilaku seperti anggota geng motor, suka tawuran, minum minuman keras, kecandunan game online hingga yang sering bolos sekolah.
Menurut Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, menyatakan pendidikan anak atau siswa yang bermasalah tidak melanggar HAM selama program tersebut dijalankan tanpa hukuman fisik. Bahkan jika sukses, Kementerian HAM akan menyampaikan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) untuk mengeluatkan peraturan supaya model ini bisa dilaksanakan secara masif di seluruh Indonesia. Seemntara ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi r juga menyatakan tidak ada pelanggaran hak anak yang ditemukan dalam pelaksanaan pelatihan di barak tersebut.
Beda dengan pendapat Dr Rasiyo mantan Kepala Dinas Pendidikan Jatim yang saat ini menjadi anggota Komisi E DPRD Jatim. DR Rasiyo memilik pendapat lain mengacu pengalaman pribadi dalam mendidik anak anak di sekolhanya. dan sampai saat ini tidak ada catatan kenakalan anak di sekolah tersebut.
“Menurut saya pendidiikan di barark agak keras. ya karena tingkat disiplinnya lebih tinggi Orang itu yang harusnya diolah itu hatinya.i. Olah hati itu salah satunya ya peningkatan takwa kepada Allah. . Kalau militer lebih fikus kepada memanfaatkan fisik, olah fisik.” kata politisi Demokrat ini.
Lebih jauh disampaiknanya berdasar pengalaman sebagai pendidik bahwa penambahan jam pendidikan agama lebih efektif untuk menyembuhkan kenakalan anak. ini berdasar pengalaman mendidik siswa di sekolah yang sudah didirikan sejak 2002 lalu.
“Tidak harus dipesanttenkan, di sekolah saja peningkatan, agama itu kan hanya 2 jam pelajaran. Seperti kurukulum madin ini. Terus siang, selain buku, sholat berjamaah, atau pengajian, ditambah. Jadi pelajaran agamanya nambah dua jam. Berarti nanti menambahkan guru-guru yang khusus mengajarkan untuk agama.. tidak butuh ruang khusus. Di sekolah juga sudah ada musyola . Di ruang kelas ya bisa. ” ujarnya.
“Pendidikan agamanya di tambah misalkan 2 jam lagi gitu ya. 4 jam tidak terlalu panjang. kalau di rumah tanggung jawab mendidik anak kan j pada orangtua. Di sekolah aktif diberikan pendidikan agama. menguatkan keimanan dan ketakwaan kepada Alloh SWT. Jadi kalau hatinya itu selalu beriman, Insya Allah akan tercermin dalam setiap tiangkah lakunya. Menjadi anak baik, saya yakin itu” ucapnya yakin.
” Tiap Jum’at dimaskimalkan ketika usai sholat Jumat . Selain itu para orang tua juga mulai meningkatkan perhatian untuk anak anaknya. Pihak sekolah juga rajin mengundang para wali murid untuk berdiskusi program edukasi seputar pola pendidikan anak anak. Bisa saat penerimaan murid baru atau penerimaan rapor. pertemuan pertemuan guru dengan wali murid bisa dimanfaatkan secara efektif untuk berdiskusi mengaplikasikan edukasi yang tepat bagi anak anak. “
s
