Neo-Demokrasi
Politik Pemerintahan

Irigasi Pertanian Menjadi Problem Terbesar Kecamatan Tarokan dan Glogol . Selain Petani Tembakau Butuh Green House dan Oven

M Hadi Setiawan bersama warga masyarakat yang hadir di reses

Kediri. NEODEMOKRASI. COM.

Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jatim menggelae reses har iketiga di Dapil Jatim VIII tepatnya di desa Cengkok, kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Sabtu (23/11).Dalam. kesempatan ini anggota fraksi Golkar DPRD Provinsi Jatim ini juga ditemani Darmaji, Kepala Desa Cengkok, dan pengurus Golkar kabupaten Kediri, Sri Handayani. Juga Pak Sunaryo, koordinator kecamatan .

” Mohon saya bersama Pak Sarmuji didoakan supaya bisa amanah mengemban tugas sebagai wakil rakyat di pusat dan di Provinsi Jatim, doakan agar kami selalu swhat wal afiat” pinta Hadi Setiawan pada warga yang hadir.

Dihadiri sekitar 125 konstiruen yang berasal dari warga maayarakat yang datang dari dusun Sumber Duren, Tarokan, Cengkok, Njati dan desa sekitarnya. Meakipun mayoritas berprofeai petani namun ada sebagian pelaku UKM dan UMKM dengan jenis usaha yang masih relatif kecil.
lain. meliputi koradan kabupaten Kediri. M Hadi Setiawan yang digelar di Dusun Cengko, Desa Tarokan Kediri, Sabtu, 23 November 2024.

Bersama kepala Desa Cengkok dan Sri Handayani anggota DPRD Kediri, koordinator kecamatan Tarokan Pak Sunaryo dan konstituen dari Sumber Duren, Tarokan, Cengkok, Njati dan lain lain.

Salah satu warga dari Dusun Templek menyampaikan permintaan bantuan untuk perbaikan jalan sawah dan perangkat kendaraan mengangkut hasil sawah. Sementara warga dari Jati meminta bantuan perbaikan jalan pertanian/ sawah yang luasnya 400 x 3 meter yang kondisinya masih jalan makadam dengan anggota 80 orang petani. Sementara mewakili gapoktan yang beejumlah 80 orang,  desa Cengkok Pak Darmaji menyampaikan permintaan rabat dan plengsengan melanjutkan jalan sawah, dan bantuan untuk meneruskan pembangunan penahan jalan jurusan Kedungdowo. Selain permintaan Sibel untuk menutup kebutuhan air untuk persawahan .

Jadi menyanguppi akan mengajukan aspirasi warga masyarakat pada 2025, artinya kemungkinan besar merealisasikan bantuan paling cepat 2026. Namun pihaknya juga menjanjikan akan mencarikan regulaai lain. Menghadapi permintaan alternatif atau poktan untuk membangun jalan akan diajukan 2025 dan insya Allah turun 2026 untuk merealisasikan permintaan warga. Kalau tidak clear akan dicarikan regulasi yang lain.

Sementata Pak Sumardi mengajukan bantuan pengadaan sarana prasarana mendukung acara rutinan yakni karpet dan sound system.

” Barangkali saya masih ada punya hutang monggo ditagih. Atau janji yang belum swmpat saya penuhi, monggo disampaikan. Petani tembakau ada gak? Problemnya apa? Disampaaikan saja” kata Hadi Setiawan

Dari berbagai usulan dari Desa  Jati yang hampir 70 persen warganya menanam tembakau. ditemukan bahwa rata rata petani tembakau butuh pengering tembakau. Sunaryo sebagai ketua Gapoktan dan petani tembakau mengatakan butuh sarana. Karena Tembakau dipanen masih setengah proses. Setelah dipanen butuh dikeringkan antara 2-3 hari terus dirajang yang selama ini proses pengeringannya hanya mengandalkan sinar matahari. Kalau musim hujan, jelas tidak bisa mengeringkan tembakau tembakau yang kurang kering warnanya berubah menjadi hitam  dan harganya jadi murah. Pengolahan paska panen terutama proses pengeringan menjadi kendala utama.

Untuk itu mereka berharap bantuan reguler akan dialokasikan untuk menjangkau semua petani tembakau. Selama ini para petani bermitra dengan PT Sadana selaku penyedia bahan baku rokok sampurna. Kondisi tembakau yang kurang baik sehingga PT Sadana menolak membeli.
Para petani tembakau menginginkan bantuan bantuan fasilitas pupuk. Juga pengadaan lantai jemur, membuat grean house untuk mengeringkan dan oven untuk pengerikan rajang tembakau.

Cuman petani juga mengaku belum ada kejelasan di mana alat ini bisa dibeli, harganya berapa. Info terbaru ada di Pororogo,
Ada acara mengeringkan tembaka dengan oven dengan kelomppk tani kontrak menggunakan sistim. sewa lahan untuk membuat green house.

Dari pelaksanaan kegiatan reses ini , Hadi Setiawan  banyak menemukan  problem  yang berhasil dijaring.  Pertama,  sejak pembangunan bandara Dhoho, warga masyarakat dusun Cengko banyak yang berprofesi pedagang. Sebagian ada yang jadi pedagang-pedagang tanah, lahan-lahannya sudah dibeli Bandar Udara Dhoho.  Perihal pupuk subsidi sebagian sudah dapat tapi soal merata dan cukup sesuai kebutuhan petani juga belum. Karena ada petani padi, tembakau dan tebu. Untuk desa Jati mayoritas petani tembakau.

Problem terbesar di desa Tarokan dan Grogol terkait irigasi pertanian.  Kalau  musim penghujan, banjir. Tanggul tidak cukup kuat.  Sementara  di musim kemarau problemnya membuang air. Jadi kan dibutuhkan mesin diesel untuk membuang air.  Pada musim kemarau problemnya adalah sumber airnya tidak ada, kecuali harus ngebor pakai air tanah ini.

” Ya sebagai anggota baru kami tidak bisa menjanjikan banyak. sementara kami hanya bisa menjaring, Jaring aspirasi tentu karena kami tidak berdiri sendiri, kami di Golkar bersinergi dengan anggota  DPR RI. Tetapi pasti akan kami komunikasikan dengan DPR RI untuk bisa membawa program-programnya untuk kepentingan masyarakat. Selain program dari Provinsi Jatim. Intinya kami hadir dalam rangka berusaha memberi solusi. apa yang dibutuhkan  masyarakat.  Problem terbesarnya adalah ternyata di masyarakat banyak sekali problem yang belum terjamah oleh tangan-tangan kebijakan..” jelasnya.

” Harapan kami setelah kami mengetahui problem ini, ya kita bisa memberi solusi. dengan membawa program-program dari pemerintah provinsi untuk kepentingan masyarakat Jawa Timur, khususnya di daerah Kediri. ” pungkas politisi Golkar ini. (nora)

Related posts

Bupati Minta ASN Lebih Genjot Kinerja

neodemokrasi

Jelang Nataru, Stok Pangan Surabaya Aman

Rizki

Pemuda Sebagai  Pendobrak Perubahan Harus Berperan Aktif Membangun dan Memajukan Kabupaten Sidoarjo.

neodemokrasi