
Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Perwakilan Delegasi Uni Eropa (EU) bersama perwakilan Pemerintah Jerman dan negara-negara anggota Uni Eropa lainnya berkunjung ke Surabaya, Jumat (9/1) lalu. Mereka bertemu dengan pemerintah provinsi dan menindaklanjuti perkembangan proyek Jalur Kereta Api Regional Surabaya, yang didanai melalui dukungan Jerman. Proyek ini sebagai salah satu dari tiga proyek unggulan di bawah payung inisiatif Uni Eropa, yaitu Global Gateway.
Delegasi diterima oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi. Selanjutnya, Delegasi mengunjungi proyek Stasiun Pasar Turi sebagai bagian dari pembangunan Jalur Kereta Api Regional Surabaya (SRRL) Fase 1 yang menjadi proyek unggulan Global Gateway.
“Investasi pada infrastruktur kereta api akan menentukan arah perkembangan sebuah kota dalam beberapa dekade mendatang. Karena alasan ini, kualitas sangat lah penting dan inilah yang dapat diberikan Jerman dan Eropa melalui Inisiatif Global Gateway,” kata Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste.
Kunjungan ini bertujuan untuk mempresentasikan ruang lingkup proyek SRRL Fase 1, perkembangan terkini, dan langkah kerja selanjutnya. Selain itu, untuk membahas area investasi prioritas di Jawa Timur serta potensi peluang bagi perusahaan Eropa untuk terlibat di dalamnya. Khususnya di bidang transportasi, mobilitas, dan rantai nilai yang terkait.
SRRL Fase 1 adalah salah satu dari tiga proyek unggulan Global Gateway di Indonesia, sehingga kunjungan ini merupakan kesempatan yang tepat untuk menunjukkan kemajuan nyata yang telah dicapai, dan untuk memperkuat kerja sama dengan pemangku kepentingan, baik publik maupun swasta.
Pemerintah Indonesia, bersama Pemerintah Jerman melalui Bank Pembangunan KfW, sedang mengembangkan SRRL Fase 1, sebuah proyek unggulan Global Gateway di Indonesia. Proyek ini akan mentransformasi mobilitas komuter antara Surabaya dan Sidoarjo serta memperkuat pembangunan perkotaan berkelanjutan di wilayah metropolitan Surabaya Raya (Gerbangkertosusila).
Fase 1 SRRL mencakup pembangunan sekitar 22 km jalur ganda dan elektrifikasi, modernisasi lima stasiun, peningkatan sistem keselamatan di perlintasan, pembangunan Depo Sidotopo secara permanen, dan peningkatan kualitas layanan yang signifikan dengan interval keberangkatan antar kereta hingga 15 menit.
Setelah beroperasi, sekitar lima tahun lagi, jalur ini diharapkan dapat mengangkut lebih dari 200.000 penumpang per hari, memberikan manfaat bagi lebih dari 1,3 juta penduduk dalam dua tahun pertama, mengurangi kemacetan jalan dan biaya logistik.
Proyek ini didanai melalui paket biaya sebesar total EUR 296,8 juta, yang terdiri dari pinjaman lunak sebesar EUR 230 juta dan hibah sebesar EUR 6 juta dari Pemerintah Jerman melalui KfW, bersama dengan dana sebesar EUR 60,8 juta dari Kementerian Perhubungan Jerman.(dan)
