Surabaya, NEODEMOKRASI.COM – Pelaksanaan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) perlu dievaluasi lagi. Dari dua PSBB yang lalu ternyata tidak menurunkan angka penderita. Baik pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), maupun yang positif Covid-19.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Fraksi NasDem DPRD Jawa Timur Muzammil Syafi’i, Rabu (27/5). Menurutnya, hal ini sebagai akibat kurang mendapatkan dukungan dari masyarakat.
“Terbukti masyarakat banyak yang tidakmengikuti protokol kesehatan. Baik memakai masker, physical distancing, maupun stay at home,” kata anggota Komisi A DPRD Jawa Timur ini.
Hal ini bisa dimungkinkan karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Baik yang primer, yakni mencari nafkah untuk makan sehari-hari, maupun yang sekunder. Termasuk pula kebutuhan rekreasi.
“Walaupun cuma jalan-jalan atau memenuhi kebutuhan selain makan karena sudah jenuh tinggal di rumah dan tidak keluar,” imbuhnya.
Muzammil melihat hal ini terutama terjadi pada akhir Ramadan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat sehingga orang harus keluar memenuhi kebutuhannya. Seperti harus membeli baju baru, kue-kue, makanan, dan sebagainya.
Persoalan lain adalah sampai sekarang pemerintah daerah belum mampu memetakan dimana sebenarnya pusat virus tersebut berada. Sehingga penentuan penutupan terkesan suka-suka dan tergantung kekuatan petugas jaga. Kebutuhan untuk makan juga belum mampu dipenuhi oleh pemerintah.
Menurut Muzammil, yang terpenting adalah menyadarkan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Tanpa itu sulit untuk berhasilnya PSBB.
“Yang kedua, pemerintah harusnya melakukan pemeriksaan swab secara total kepada seluruh masyarakat. Baik dengan tes secara berkelompok maupun personal. Sehingga segera diketahui mana yang positif untuk segera diisolasi dan direabilitasi. Nah, bagi yang negatif bebas beraktivitas secara normal, sehingga jelas peta Covid-19 itu dimana berada,” jelasnya.
Sedangkan yang ketiga bantuan kepada masyarakat diberikan agak banyak sehingga mereka bisa stay at home bisa tenang karena kebutuhan terpenuhi.(nor/dan)
